Bab 10

27.3K 2.4K 47

Menghirup sedalam-dalamnya aroma tubuh Satria ternyata sangat menenangkan. Indira mengeratkan kaitan tangannya di tubuh Satria. Tak ada yang terjadi disana. Mereka hanya berpelukan hingga terlelap semalam. Dan paginya saat Indira terbangun dengan Satria yang masih memeluknya, ingin rasanya momen itu tak pernah berakhir.

Indira mendesah panjang. Ia berada dalam penjara dirinya sendiri. Tembok yang dibuatnya sendiri. Dan dengan hati tak rela ia menepuk pelan tubuh Satria. Satria meracau tak jelas seperti enggan untuk dibangunkan dalam posisi senyaman itu.

“Sudah pagi.” Kata Indira setengah memaksa tubuhnya bergeser.

“Semenit lagi,” Satria menyahuti dengan mata yang masih terpejam.
Indira diam. Ia memang robot yang akan mengikuti titah Satria, entah sejak kapan tepatnya ia mematrikan diri seperti itu.

Bukan semenit tetapi lima menit berlalu. Satria akhirnya membuka matanya yang langsung menyoroti wajah sendu yang sengaja ditutupi oleh Indira.

“Aku tidak bergerak.” Kata Indira setengah bergurau.

Satria merentangkan kedua tangannya, “Sudah.” Katanya. Dan Indira buru-buru berdiri dari kasurnya.

“Pulanglah!” ucapnya cepat.

“Kamu mengusirku.” Kata Satria yang terduduk di atas kasur Indira.

“Hmm. Aku akan mandi dan bersiap-siap ke kantor.”

“Dan meminta dia menjemputmu lagi? Tidak Indira. Kamu akan ke kantor denganku.”

“Dan membiarkan semua orang melihat kita?” tantang Indira.

“Aku bisa mengantarmu sampai ke halte terdekat dari kantor.”

Indira meneguk salivanya, kenapa rasanya menyenangkan jika Satria menjawab aku tak perduli jika yang lain melihat. Tepat saat Indira hendak menjawab lagi sebuah panggilan masuk ke ponselnya. Indira mengambilnya dari atas nakas. Nama Panji tertera dilayar, ia menatap bergantian antara Satria dan ponselnya. Satria sudah mengerutkan keningnya.

“Siapa?” tanya Satria.

Indira menggeser tombol hijau di ponselnya.

“Beberapa menit lagi aku sampai di apartemenmu. Aku sudah menghubungi bengkel langgananku. Montirnya akan segera datang untuk mengecek mobilmu.” Panji terus mengoceh dari balik telpon, Indira terpaksa harus membalik badan untuk menghindari tatapan maut Satria.

“Indira ... “ sebut Panji.

“Eng. ..”

Indira sangat terkejut karena tangan Satria merebut ponselnya dari belakang.

“Dia yang menelponmu?” Indira diam tak berani menjawab. “Kirimkan pesan sekarang juga. Bilang kalau mobilmu sudah diperbaiki dan dia tidak perlu menjemputmu!”

Satria seakan sudah tahu isi percakapan Panji dengannya, Indira mengambil kembali ponselnya yang diserahkan Satria dengan tangan yang entah mengapa ikut bergetar menghadapi aura intimidasi dari Satria.

Bagaimana ia bisa menghadapi kekacauan ini kelak? Jika untuk menatap Satria yang sedang marah saja ia tak berdaya, semua keberaniannya seakan luntur, dengan Satria dirinya merasa begitu kerdil. Dengan cepat Indira mengirimkan pesan ke Panji.

“Sudah.” Kata Indira.

Satria meraih bahu Indira dengan kedua tangannya. “Aku yang akan mengirim orang untuk membetulkan mobilmu. Serahkan kuncinya padaku. Aku juga yang akan mengantarmu pulang nanti, hubungi saja aku.” Tatapan Satria melembut. “Hanya aku. Indira.” Ucapnya kemudian mengecup kening Indira.

Revenge Baca cerita ini secara GRATIS!