Bab 6

25.6K 2.4K 24

Sudah lima hari berlalu. Indira sadar saat ini Satria menghindarinya. Mereka memang jarang bertemu, meskipun bekerja pada satu atap, hanya saja sebuah kejadian membuat Indira yakin dengan bisikan hatinya itu. Kemarin tepatnya. Indira hendak masuk ke kantor, dari ujung matanya ia sudah membidik Satria yang berdiri di depan pintu lift, dan saat mata Satria juga meliriknya secepat kilat Satria masuk ke dalam lift dan menekan tombol hingga pintu tertutup tepat saat Indira sudah berdiri di hadapannya.

Indira kesal, ia menyandarkan tubuhnya pada kursi kerja dan memutarnya hingga memunggungi meja. Satria bersikap antipati terhadap dirinya, dan itu akan menyulitkannya untuk mendekat. Indira memejamkan mata sejenak mengusir kegundahannya lalu memutar kursi kembali. Pekerjaannya banyak, dan konsentrasinya harus terbagi. Indira kembali membuka dokumen di hadapannya, beberapa usulan sudah di approve dan tinggal mengontak narasumber menjadwalkan wawancara.

Dua jam berlalu. Pikirannya kembali melayang entah kemana sebenarnya kepenatannya tidak hanya itu. Panji hingga kini belum juga mengontaknya, harusnya dirinyalah yang marah, tapi kenapa Panji yang menjauh.

Indira bangkit dari kursinya, hanya sepuluh menit kurangnya dari jam istirahat makan siang, tapi ia lebih memilih keluar lebih dulu.

Derap langkah Indira berhenti sesaat saat menatap Adelia yang tampak fokus dengan layar komputernya, ia tidak suka tentu saja, wanita itu telah menyelesaikan tugasnya dengan baik, dan tidak memberi celah untuk Indira berkomentar.

Indira membuang pandangan dan kembali melangkahkan kakinya menuju kafe yang ada di seberang jalan. Sendiri. Semenjak Adara pergi ia selalu sendiri, ia menghindar dari teman-temannya di perkuliahan maupun teman-teman SMA-nya.

Indira menyesap caramel macchiato. Duduk di lantai dua dekat dengan dinding kaca yang menstimulus otaknya untuk memandang suasana crowded jalan raya.


***

"Pak Anda tidak boleh masuk."

Satria melirik ke arah pintu. "Sita biarkan dia masuk." Perintah Satria yang langsung di patuhi Sita.

"Kapan dateng?" Satria berjalan dan memeluk Robby, kakak sepupunya.

"Bos besar sibuk banget kayaknya," sindir Robby. "Kemarin, sengaja mau anter sendiri. Nih." Robby menyerahkan undangan pernikahannya pada Satria.

"Oke."

"Udah gitu aja? Traktir apa gitu. Udah jauh-jauh terbang dari Kanada dianggurin."

Satria terkikik sembari merangkul Robby, "ya udah aku traktir, kopi satu cangkir, gimana?"

"Keterlaluan."

Satria langsung menarik Robby keluar ruangan. Berbicara sepanjang jalan menuju kafe di depan kantor.

"Jadi bakal netap di Kanada?"

"Hmm."

Sementara Robby memesan makanan Satria menyapu pandangannya ke sekeliling dan terpaku pada seorang wanita di sudut ruangan, wanita yang belakangan hari ini merusak konsentrasinya, apalagi ketika ia hendak tidur di malam hari.

"Rob."

"Hmm."

"Gimana awalnya lo bisa jatuh cinta?"

"Hah?!" Robby berseru lumayan kencang, sementara Satria mengalihkan tatapannya pada buku menu dihadapannya, dan menyebutkan pesanannya kepada pelayan.

Robby menyipitkan padangannya, "bukannya lo udah pacaran lama ya sama Adel. Atau jangan-jangan ada wanita lain?"

Satria berdeham pelan. "Pacaran bukan berarti cinta, bisa aja cuma sekedar suka. Kalau sekarang berubah jadi cinta who knows. Gue cuma penasaran aja gimana cowok bisa jatuh cinta."

Revenge Baca cerita ini secara GRATIS!