Bab 8

26.8K 2.5K 66

Seperti orang bodoh Satria meletakkan kamera ke tempat yang strategis dan mengatur timer disana. Pertama ia berdiri persis dihadapan kamera, hingga hasil jepretannya tampak seperti pas photo. Kedua Satria melakukannya lagi tetapi kali ini dengan sedikit senyuman. Dan hasilnya sama sekali mengecewakan.

Satria mengacak rambutnya kesal, ia mengambil ponselnya dan mulai membidik dirinya sendiri yang mengaku tidak suka selfi, tapi belum sempat tangannya menekan tombol pada layar ia buru-buru mematikan aplikasinya.

Ia duduk menyandar di kursi ruang kerjanya dengan pandangan menerawang ke langit-langit, itu terlalu berlebihan pikirnya, kenapa ia harus melakukan itu demi seorang Indira? Tapi mengingat lagi fotonya dengan lelaki lain membuat darahnya kembali mendidih dan emosinya demikian tersulut hingga pesan masuk memutuskan lamunannya.

Senyumnya mengembang seketika melihat pesan tersebut berasal dari Indira. Setelah membalas pesan ajakan Indira ia kembali memposisikan kameranya, ia kembali duduk di kursi dan mengambil sebuah buku tepat saat timer berhenti. Ia langsung melompat dari kursinya dan melihat hasilnya yang ternyata lumayan juga.

Sebuah pesan tampak masuk ke layar ponselnya buru-buru Satria mengambilnya namun harapannya sirna bukan dari Indira melainkan dari Adelia, dan selang beberapa detik pesan dari Indira juga muncul disana.

From Adel : "Kakak ada waktu minggu ini? Di rumah sedang ada acara keluarga Mama minta Adel undang Kakak."

From Indira : "Puncak."

Satria tercenung lama. Ia sudah sangat dekat dengan keluarga Adelia rasa segannya kepada orang tuanya lebih besar daripada keharusannya untuk memacari Adelia, hanya karena ia sedang tak bersama siapapun saat itu ia menerima Adelia sebagai kekasihnya. Jika ada mungkin ia akan mengatakan penolakan dengan sopan. Tetapi sekarang setelah berjalan lima tahun lebih, ia menjadi sangat terikat. Kehadiran Indira membuatnya buntu di satu persimpangan.

To Indira : "Aku banyak urusan akhir minggu ini."

To Adelia : "Iya."

Isi pesan yang sangat bertentangan dengan hatinya. Satria mengambil kameranya dan mengirimkan gambar tersebut ke ponselnya. Tanpa edit ia mengirimkannya ke Indira.

Kembali sebuah pesan multimedia masuk. Satria tertawa pelan melihat screenshoot yang dikirimkan Indira, ternyata menyenangkan jika melakukan sesuatu hal sesuai kehendak hati. Baru Satria hendak mengirim pesan balasan panggilan dari Adelia kembali menghentikannya.

"Kakak lagi ngapain?" suara merdunya langsung menyambut.

"Nggak ada. Lagi baca aja."

"Oh, Adel ganggu ya?"

"Nggak."

Jawaban Satria yang sering hanya sepatah kata membuat Adelia juga terdiam dan sangat jarang Satria yang akan bertanya duluan kalau memang itu bukan hal penting. Satria sangat tidak suka basa-basi jadi semua pertanyaan dijawabnya dengan singkat.

"..."

"Kakak sudah mau tidur ya?"

"Bentar lagi."

"Oh, kalau gitu Adel udahin dulu ya, Adel udah ngantuk."

"Hmm."

"Selamat malam."

"Malam."

"Oh, ya Kak hari minggu jangan lupa ya?"

"Iya."

"Kakak ... " Satria mengerutkan keningnya, katanya Adel ingin mematikan telponnya. "Adel cinta sama Kakak, dan sampai kapanpun Adel akan nunggu Kakak, omongan orang tua yang kemarin ada benarnya, kenapa kita tidak .."

Revenge Baca cerita ini secara GRATIS!