Bab 2

32.4K 2.7K 24

Setelah perkenalan singkat, Pemimpin Umum yang baru meminta seluruh kepala divisi untuk rapat. Indira yang merasa kepalanya sedikit berdenyut mau tak mau harus mengikuti rapat, setelah rapat selesai bisa dipastikan ia akan menyuruh OB untuk membelikan obat sakit kepala.

"Riska ... "

"Ya ..."

"Kamu ikut rapat juga," titah Indira.

Riska hanya mengangguk mengiyakan, meski umurnya lebih tua dari Indira tapi kalau di dalam pekerjaan jabatan lah yang menentukan senioritas alhasil mereka hanya selalu memanggil nama.

Indira berjalan mendahului namun dengan gesit Riska berhasil menyamakan langkahnya. "Mau ada perombakan ya?" tanyanya.

Indira hanya mengendikkan bahu. "Lulusan S2 manajemen. Pasti pikirannya duit tuh." Tuding Riska. Indira menaikkan sebelah alisnya, "semua atasan tujuannya ya naikin profit. Tapi kita liat aja apa maunya dia kali ini." Tekanan pekerjaan pasti ada saja, mereka setiap bulannya harus menguras otak menentukan tema terbaik agar laku banyak di pasaran.

"Tapi bener juga kata Yessi, anaknya cakep."

"Udah mau tunangan masih mikirin orang cakep," sambar Indira.

"Haha ... gatel juga mata kalau liat yang ganteng-ganteng. Kamu kan single nggak ikutan?"

"Ikutan apaan?"

"Tuh anak-anak lagi bentuk fandom GM baru katanya," Riska menukas sambil terkikik. Sedang Indira hanya berdecak heran sambil menarik kursi lalu menyandarkan tubuhnya nyaman begitu juga Riska dan karyawan lainnya yang sudah memenuhi ruang rapat.

Satria dan sekretaris yang mendampingi di belakangnya juga sudah memasuki ruang rapat.

"Selamat siang semuanya," salam pembuka dari Satria.

Indira membuka lembaran data profit tiga bulan terakhir yang telah disediakan notulen di atas meja masing-masing dan pendapatan mereka cenderung stabil, asal Pemimpin Umum yang baru tidak meminta menaikkan standar Indira berpikir pekerjaannya akan aman.

"Pada kesempatan ini saya ingin mengenal lebih dalam orang-orang yang telah bekerja keras mengepalai bidangnya hingga BF Magazine bisa eksis sampai saat ini. Sebelum saya menempati jabatan ini saya sudah mempelajari laporan keuangan juga laporan keredaksionalan. Dan dari data yang saya pelajari, sepertinya BF Magazine mampu mencapai titik yang lebih tinggi dari pada ini. Dimulai dari penentuan tema dan artis yang menghiasi sampul hingga pembaca akan membeli tanpa pikir panjang." Indira melirik sekilas saat sorot mata itu mengarah padanya, ia merasa pembicaraan Satria ditujukan untuk dirinya.

"Saya harapkan BF Magazine mampu memiliki pembaca remaja yang cerdas dan bisa memotivasi pembaca dengan isi yang lebih berbobot. Dan ini adalah tanggung jawab kita untuk memberikan bahan bacaan yang lebih bermutu." Imbuh Satria.

"Gimana mau dapet profit gede kalau yang diwawancara lurus-lurus aja, anak muda sekarang doyannya sama yang cari sensasi. Ujung-ujungnya pasti kita juga yang diperes otaknya, dipaksa kreatif lah apalah, nggak tahu dia kita sampai nangis darah ngejar wawancara eksklusif." bisik Riska disebelahnya.

Selanjutnya ucapan Satria hanya dianggap angin lalu bagi Indira, semua atasan menurutnya sama hanya tahu hasil, yang berusaha tetap bawahan, yang lebih parah adalah jika atasan hanya bisa memerintah tanpa tahu sistem kerja. Ini namanya hirarki tekanan pekerjaan, bawahan mendapat tekanan dari atasan, atasan mendapat tekanan dari atasannya lagi dan begitu seterusnya, ia sudah sering menghadapinya.


***

Kepala Indira semakin berdenyut, baru saja ia hendak duduk di kursinya sebuah panggilan telpon sudah menginterupsi. Dari nomor yang tertera Indira sudah mengetahui siapa yang menelponnya, pasti Sita si sekretaris GM.

Revenge Baca cerita ini secara GRATIS!