Bab 11

24.4K 2.3K 41

Hujan rintik mulai turun, langit malam tidak menampakkan dimana awan itu berkumpul. Adelia tetap terpekur duduk di bangku taman dengan batin terguncang, isakannya belum menghilang, rekaman itu seakan terus berputar di kepalanya.

Tidak mungkin. ia masih memaksakan diri mempercayai jika video itu adalah palsu. Adelia melirik kedatangan Satria dengan payung di genggaman tangan kanannya.

"Adel, ngapa..."

Belum sempat Satria melanjutkan kata-katanya, Adel telah berlari memeluknya erat. Ia menangis.

"Adel, kamu kenapa?" tanya Satria bingung.

Adel menggeleng kuat dalam pelukan Satria, "Tetap begini kak. Jangan pernah pergi ... kumohon ... "

"Adel kamu ngomong apa? ayo! hujannya semakin deras." Satria sudah tidak memperdulikan ucapan Adel dan menggandengnya ke mobil.

Duduk di jok kemudi, Satria membersihkan sekilas kepalanya dari air hujan.

"Kak ..."

"Hmm."

Tangan Adel tergerak meraih jemari Satria membuatnya sontak menoleh. "Dari dulu sampai sekarang perasaan Adel nggak pernah berubah. Sampai kapanpun Adel akan tetap nunggu kakak. Adel akan setia disamping kakak." Lirihnya.

Satria tertegun. Lidahnya terasa kelu untuk berucap. Bagaimana ia bisa menjelaskan segalanya pada Adel? Satria seolah berada di persimpangan jalan dan sulit untuk menentukan kemana arah yang harus ditujunya.

***

Indira tidak pernah terkejut saat Panji tiba-tiba ada di apartemennya, namun kali ini ia terlihat agak gelisah, selain karena hubungannya dengan Satria yang sama sekali tidak diketahui oleh Panji, juga atas tindakannya yang mengambil jalan pintas dengan mengancam Adelia.

"Sudah lama?" tanya Indira menaruh tas tangannya di atas sofa tepat di sebelah Panji duduk. "Aku bawa makanan." Ucap Indira lagi lalu menaruh kotak makanannya ke atas meja.

"Aku sudah makan tadi bareng kawan kerja."

"Oh."

"Mobil kamu sudah bisa jalan?"

"Hah! Eh, Um. Iya aku mampir ke bengkel tadi pagi."

"Naik apa?"

"Taksi," kata Indira meyakinkan.

Indira mulai meremas jemarinya sendiri, kebiasaan Panji akan menanyainya sampai ke akar, meskipun ia sedari dulu terbiasa mengelak karena begitu enggan merepotkan Panji dan keluarganya.

"Aku mandi dulu ya ... " ucap Indira segera bangkit dari kursi sofa.

Dua puluh menit berlalu Indira keluar dengan pakaian lebih santai. Panji masih duduk di tempatnya dengan pandangan mengarah ke layar televisi.

"Dari tadi hanphonemu bunyi," kata Panji.

Indira segera meraih tasnya, dan melihat ada satu pesan dan lima panggilan tak terjawab dari Satria. Indira tak membalasnya dan langsung mematikan ponselnya.

"Siapa?" tanya Panji penasaran.

"Oh. Nggak ada, cuma bawahan yang nanya-nanya tentang kerjaan gitu." Indira bangkit dan mengambil piring dan sendok dari rak di pantry, ia merasa perutnya mulai lapar.

"Kamu yakin nggak mau makan?" tanya Indira kembali.

Panji menggeleng.

"Ndi ... "

"Hmm."

"Aku ada kerjaan ke Medan dua hari lagi, dan mungkin bisa sampai berminggu disana."

"Oh."

Revenge Baca cerita ini secara GRATIS!