7. say 'no!' to 'dijodohin!'

1.5K 119 21
                                    

mulmed, mata jahil Alvin

.

Seperti kemarin, Ren membawa Eann berkeliling sebelum mengantarnya pulang. Tapi kali ini gadis itu yang memintanya. Menghilangkan penat katanya. Dan Ren memutuskan mengajaknya nonton. Bahkan pemuda itu mengajak beberapa teman SMAnya dulu. Dan dengan semangat memperkenalkan Eann pada mereka, lalu meninggalkannya begitu saja dan justru asyik mengobrol dengan seorang siswi SMA, membicarakannya.

"Sembarangan! Apa aku terlihat menyukai bocah ini?" sahut Eann saat cewek itu bertanya apa Ren dan dia berkencan.

Cewek itu terkikik melihat Ren mengaduh sambil mengusap kepalanya. Lalu kembali asyik mengobrol dengan Ren. Sampai seorang cowok bertampang kulkas menariknya pergi tanpa mengucap salam.

"Mantan?" tebak Eann. Karena bahkan cewek tadi mengenal Rissa dan Voy.

Ren menggeleng. "Namanya Zia. Mantan pacar tetanggaku. Dulu aku suka gangguin mereka pacaran. Salah sendiri masih kecil, baru juga masuk SMP pada pacaran. Ganjen!" Ren terkekeh mengingat awal dia SMA, dulu dia sangat usil.

"Aku juga mulai pacaran waktu SMP. Kamu ngatain aku ganjen juga?!" Eann menatap Ren sengit.

Cowok itu nyengir mendengarnya. Lalu teringat ucapan Fani di kampus tadi.

"Eh, kamu pacaran waktu SMP? Berapa lama?" tanyanya penasaran.

"Emang apa urusan kamu?"

Ren menggaruk tengkuknya. "Habis Fani bilang kamu hanya sekali pacaran."

Mata Eann membulat lucu. "Fani!!" jeritnya dengan wajah memerah karena malu.

Dan Ren sekali lagi terkejut melihat ekspresi lain di wajah Eann. Ren semakin ingin tau, sebanyak apa perubahan Eann yang ia sebabkan. Apa Ren bisa memperbaiki semuanya?

"Hei, Ren! Bagaimana kalau horor. Biar lebih ehem!" teriak salah satu teman Ren sambil mengedip genit pada Eann.

"ANDREW!!!" protes Eann dengan telunjuk yang mengacung pada pemuda yang belum ada setengah jam ia kenal, dengan nada mengancam.

"Bercanda, Ve! Lagian bisa-bisa dipikir LBGT kalo beneran kalian ehem-eheman di dalam sana," sahut Andrew yang disambut kikikan tawa yang lain.

Termasuk Ren yang langsung bungkam begitu Eann menoleh dengan mata melotot padanya.

Dan akhirnya mereka gagal mendapat tiket karena kelamaan berdebat soal film yang akan mereka tonton.

.

Motor Ren memasuki halaman rumah Eann tepat saat Nav keluar dari mobilnya. Ketiganya tampak kaget dan tak menduga akan bertemu di sana. Dan sebelum mereka saling bertanya, pintu rumah Eann telah terbuka dan menampilkan dua wanita dewasa di sana.

"Lama sekali, Nav? Bunda sampe capek nungguin kamu!" omel ibunya.

"Tadi nganter temen dulu, Bun," jawab Nav sembari mendekati bundanya. Mencium tangan beliau dan mama Eann bergantian.

"Ya ampun, anak mama. Setaun nggak ketemu tambah cakep aja!" ucap mama Eann sambil mengacak rambut Nav.

Pemuda itu tersenyum kikuk, lalu menoleh kembali pada Eann yang masih terdiam di samping motor Ren. Dan kedua ibunya serempak ikut menoleh.

"Lho, Ren? Kok bisa sama Veann? Ketemu dimana?" tanya mama Veann. Tak menyangka bertemu kembali dengan Ren. Pemuda yang selama setahun ini sering ia temui di rumah besannya. Orang yang Eann salahkan atas kematian kakak dan keponakannya.

Ren turun dari motornya dan mendekati mama Eann, menyalami dan mencium tangannya seperti Nav tadi.

"Kebetulan kami satu Kampus, satu fakultas juga, tante," ucapnya sopan.

MY EX-BOY'S FRIENDSTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang