9

684 41 1
                                    

Satu minggu kemudian...

"Bunda Pricil pergi ya, assalamualaikum" ujarku dengan tidak semangat seperti biasanya, lalu mencium tangan Bunda.

"Waalaikum salam hati-hati ya sayang" jawab Bunda.

"Ohya sayang tunggu! Nanti kamu jangan lupa ya jemput Ayah, tadi Bunda udah bilang sama Ayah kalau kamu yang jemput" sambung Bunda lagi.

"Hmm iyaa Bunda"

"Kok lemes banget gitu sayang, biasanya kamu senang banget kalau Ayah pulang" jawab Bunda lagi dengan melihat ke arah ku yang biasanya terlihat ceria.

"Kamu gak sakit kan?" Tanya Bunda lagi.

Aku menggeleng-gelengkan kepalaku.

"Ngak kok bun, Pricil lagi sakit perut aja bentar lagi pulih kok" bohongku.

"Yaudah kalau gitu Pricil pergi dulu ya bun" sambungku lagi

Bunda hanya tersenyum dan mengangguk ke arahku.

Aku seperti biasa pergi bareng dengan Ocha ke sekolah, karena supirku belum pulang dari kampung asalnya.

Walaupun Aku juga ngerasa gak enak pergi terus dengannya, tapi Ocha orang yang sangat berbaik hati, dia sama sekali gak merasa keberatan.

Tapi hari ini Aku banyak pikiran terpaksa aku berbohong kepada Ocha kalau Aku tidak pergi dengannya ke sekolah hari ini.

Aku mengatakan kepadanya bahwa kalau Aku ada urusan sebentar sebelum ke sekolah, jadinya Aku hari ini naik taksi ke sekolah.

Saat sampai di sekolah, di koridor Aku berjalan lamban sekali sambil melamun, nampak sekali kalau Aku sedang banyak pikiran, dengan raut muka ku yang sama sekali gak mendukung sampai-sampai aku tidak tau kalau ada orang di depanku.

Brukk..  

Saat Aku tersadar sudah menabrak orang di depanku. Aku langsung minta maaf padanya berkali-kali.

"Ma- maaf, maaf aku tidak sengaja.." ucap ku berulang-ulang sambil menundukkan kepala tidak berani untuk melihat ke orangnya langsung, karena orang yang ku tabrak itu Laki-laki.

"Iya gak apa-apa, lain kali jangan melamun" jawab cowok itu datar.

Setelah mendengar suara Cowok itu, Aku langsung mengangkat kepalaku untuk melihat siapa lelaki di hadapanku ini.

Mataku langsung membesar saat tahu siapa Cowok di depanku,dan begitupun raut wajahku langsung berubah yang awalnya cemberut,kusut, berubah bahagia walaupun Aku tidak terlalu menampakkannya, tapi dalam hati aku ingin sekali berteriak dan tersenyum sangat lebar. Aku masih memandanginya, sedangkan Cowok itu melihatku dengan aneh karena terus memandanginya.

Sejenak Aku bisa melupakan masalah di pagi ini.

"Ehm" deham cowok itu.

Aku tersadar kembali, Aku langsung gelagapan " e-eh iya kak, iyaa kak lain kali tidak melamun lagi.. se-sekali lagi saya minta maaf kak" ujarku terbata-bata.

"Haha kamu udah banyak banget minta maafnya, udah cukup minta maafnya" komentarnya sambil tertawa ringan.

Aku menjadi salah tingkah saat melihatnya tertawa.

"Kamu kelas sepuluh ya?" Tanyanya saat melihat Aku hanya diam dan sedikit menunduk,malu.

"I-iya kak" jawabku.

"kelas sepuluh berapa?" Tanyanya lagi.

Aku langsung mengangkat kepalaku lagi, Aku tersenyum dalam hati lalu menjawabnya " Sepuluh ips 2 kak" jawabku.

"Oh pas banget kalau gitu" ujarnya lalu menyodorkan surat yang dari tadi berada di tangannya ke arahku.

Aku mengerutkan dahi memandangi surat itu, lalu mengambil dari tangan kak Fajar- yaa Cowok yang didepan yang ku tabrak barusan kak Fajar, makanya raut muka ku yang cemberut kusut gitu langsung berubah saat tahu siapa Cowok didepanku ini.

Saat tahu wajahku bingung begitu, kak Fajar langsung menambahkan lagi.

"Tadi itu ada Orang Tua yang nitip surat sakit pas kebetulan kakak lagi lewat, jadi karna kamu sepertinya satu kelas dengannya sekalian bawa ini surat ke kelas kamu" ujarnya lalu tersenyum.

Aku menjadi salah tingkah lagi saat melihat senyumnya. Senyumnya ya Ampun manis banget.

"Oh I-iya kak nanti saya yang bawa ke kelas" balasku sambil tersenyum canggung.

Kak Fajar hanya mengangguk dan pamit pergi.

Seperginya kak Fajar Aku terus menerus tersenyum wajahku yang sebelumnya kusut gitu langsung sumringah sejak kejadian beberapa menit lalu.

Saat sampai di kelas Aku langsung menaruh surat dari kak Fajar tadi di atas meja guru, biar nanti guru tau.

Setelahnya Aku langsung berjalan ke tempat duduk, senyumku masih saja mengembang, di tempat dudukku sudah ada Ocha dan Vio, mereka sedang mengerjakan sesuatu,sepertinya Pr.

Mereka melihat ku dengan tatapan bingung, padahal beberapa hari yang lalu Aku jarang sekali tersenyum sumringah begitu, yang mereka lihat terkadang cemberut terkadang kesal dengan sendirinya.

Tapi sekarang yang mereka lihat Aku datang dengan tersenyum senang sekaligus bahagia.

"Cil lo kenapa? Kayaknya senang banget padahal kemarin-kemarin muka lo cemburut gitu" tanya Vio setelah Aku duduk di bangku ku sendiri.

"Iya terus surat siapa tu?" Tanya lagi Ocha.

"Lo tau nggak gue senengg banget hari ini" kataku masih dengan senyum lebarku.

Vio dan Ocha memandangku bingung.

"Iyaa emang apa sih yang buat lo seneng?" Tanya Vio.

"Gue tadi nggak sengaja nabrak orang dan orang itu kak Fajar! Aah gue seneng bangett, dia ngomong sama gue tadi Chaa,Vii" jawabku antusias.

"Terus terus kalian ngomong apaan?" Tanya Ocha mulai antusias seperti ku juga.

"Hm gak penting-penting kali sih cuman gue yang minta maaf sama dia terus dia ketawa dan tanya gue kelas berapa soalnya dia mau antar surat dan pas banget ketemu gue yang satu kelas dengan anak Orang Tua tadi" jawabku lagi.

"Jadi itu surat yang dari kak Fajar kasih?" Tanya Ocha lagi.

Aku mengangguk sambil tersenyum.

"Dan cuma itu aja yang kalian omongin?" Sahut Vio.

Aku mengangguk lagi.

Dan Aku melihat keduannya menghela napas pelan. Aku melihat ekspresi mereka dan Aku mengerti. Lalu aku menambahkan lagi.

"Setidaknya dia ngomong sama gue walaupun gak penting, gue udah seneng banget" ujarku sambil tersenyum senang.

Vio dan Ocha hanya pasrah melihatku dan tidak menjawab lagi. Lalu kembali melanjutkan kegiatan mereka lagi sebelum aku datang tadi.

"Kalian buat apa sih? Pr ya?" Tanyaku.

"ya Ampun Pricil cantik jelita! Kalo lo tau ngapain nanyak lagi? Capek deh sama sikap lo yang ini" jawab Vio.

Aku terkekeh pelan.

"Iyaiya Vio jelek" balasku sambil mengejeknya.

"Ah udah deh selalu gini deh kalian, mending buat terus selagi belum bel" tengah Ocha.

"Siap boss" kataku bersamaan dengan Vio, sambil hormat kepada Ocha.

Ocha hanya menggeleng-gelengkan kepalanya, tidak habis pikir terhadap kami berdua.

Maafkan author ya lama updatenya:(
Votenya jangan lupa:)

 

StalkerTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang