15. [Menyerah? Tidak!]

200 26 11
                                    


Gadget yang di lempar pada tempat tidur yang berbalut warna biru dongker hampir saja melesat ke lantai kamar ku. Entah apa yang aku pikirkan sekarang, namun kepalaku sudah muak dengan semua rahasia yang selama ini ku sembunyikan.

Penuturan yang sejak tadi aku lontarkan semakin menghantui otakku. Betapa bodohnya aku yang memanggil Kanya dengan sebutan 'kay'. Bagaimana jika Kanya menyadarinya? Bagaimana jika Kanya mengetahui yang sebenarnya?

Apa ini saatnya aku membongkar semuanya? Rahasia tentang masa kecil kami? Tapi aku tidak bisa mengatakannya sekarang juga, aku tidak ingin kanya mengetahui secepat ini. Aku takut dia masih belum bisa menerima jika aku adalah Riki. Tapi kepalaku semakin pusing, setiap aku bertemu dengannya bukan pertengkaran yang aku mau, tapi kebahagiaan.

Setiap melihat matanya aku ingin sekali memeluknya, setiap melihat senyumnya aku ingin sekali membalas senyuman itu, setiap aku melihat dia kesulitan ingin sekali aku membantunya. Namun rahasia ini? Aku di tuntut untuk menjadi seseorang yang ketus oleh diriku sendiri.

Kuraih bingkai foto dari dalam laci belajarku, betapa lucunya masa kecil kami, betapa manisnya masa lalu kami. Ini memang kesalahanku, tidak seharusnya aku menyembunyikan semua kebenaran ini.

Aku harus apa? Rongga mulutku selalu saja ingin berkata ketus bila bersamanya. Ingin ku akui semua rahasia ini, namun otakku menuntut untuk tidak mengatakan semuanya.

Tobi!
Ya aku akan menemukan jalan keluar semua ini dari sahabat terbaikku ini. Segera kuraih gadget yang kelempar pada tempat tidur.

Ku cari kontak yang bertuliskan Tobi, dapat! Segera kupilih icon call.

"Ayo tob angkat dong, lu kemana sih?" Beberapa kali ku coba menghubungi Tobi namun dia tidak mengangkatnya. Mungkin dia masih sibuk dengan pensi tadi pikirku. Siapa lagi yang akan membantuku selain sobatku yang satu itu? Kepalaku semakin terasa ingin pecah.

Keadaanku sudah sangat ancur sekarang, tubuh yang hanya berbalut kaos oblong berwarna putih serta training, entah bagaimana sekarang tatanan rambutku dan aku tak peduli lagi.

Gadgetku tiba-tiba berbunyi, semoga bukan Kanya yang menelponku. Kulihat nama yang tertera pada layar gadgetku.

TOBI! Akhirnya Tobi menelponku, segera kuangkat telpon dari sahabat seperjuanganku itu.

"Tobi lu ada dimana? Sibuk ga? Gua butuh bantuan lu."

"Kalem bro, ada apa sih? Nafas dulu baru ngomong ki."

Huhh ... ku coba mengatur nafasku yang tidak beraturan.

"Lu di telpon dari tadi kenapa ga diangkat?"

"Sorry ki, tadi masih disekolah ini aja baru ganti baju, eh pas liat gadget ada 20 panggilan dari lu. Ada apa sih?"

"Gini tob, lu denger kan pas tadi gua ngeMC? Gua berulang kali nyebut nama panggilan masa kecil gua ke Kanya. Gua takut si Kanya curiga tob," ucap ku seraya duduk di sapuan tempat tidur, kini tanganku memainkan stick dram yang kuraih dari atas meja.

"Kan gua udah pernah bilang ki, sesuatu yang dimulai dengan kebohongan itu hasilnya gaakan baik. Gimana kalo nanti Kanya malah marah sama lu gara-gara lu nyembunyiin ini semua? Gua rasa mending lu ngomong yang sebenarnya deh."

Aku memutar balikkan seluruh isi otakku, saran Tobi menuntutku agar aku jujur? Tapi aku masih belum siap. Aku tidak mau kanya mengetahui semuanya sekarang juga, aku ingin mengetahui apa dia mencintaiku sebagai Riki atau malah mencintaiku sebagai Rizki. Apalagi sekarang Reno sudah berpaling dari Kanya, ini saatnya aku mengetahui tentangnya lebih lagi.

"Ki ... Rizki ... Spada ada orang?"

"Eh iya tob, maaf gua ngelamun tadi. Gua bakal tetep sama pendirian gua tob, gua masih mau nyembunyiin semua ini dari Kanya. Makasih udah mau dengerin gue."

PARTNERTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang