6. [Mr.Robot]

311 100 5
                                    


Sepertinya sudah hampir satu bulan lebih aku beradaptasi dengan keadaan sekitar ku di sekolah ini. Aku memilih untuk membaca dan mendengarkan musik di kantin, sepertinya tempat ini cocok untuk kegiatanku itu, strategis sekali karna banyak makanan dan minuman, selain itu masih sepi karna jam masih menunjukkan pukul 06.40.
Segera aku pasang earphone di telingaku dan mulai membaca novel karya penulis yang sangat aku sukai.

Tubuh saling bersandar
Ke arah mata angin berbeda
Kau menunggu datangnya malam
Saat kumenanti fajar

Sudah coba berbagai cara
Agar kita tetap bersama
Yang tersisa dari kisah ini
Hanya kau takut kuhilang

Perdebatan apapun menuju kata pisah
Jangan paksakan genggamanmu

"Kanya ... " teriak Rani dari kejauhan, namun Kanya masih tetap fokus membaca novelnya.

Izinkan aku pergi dulu
Yang berubah hanya
Tak lagi kumilikmu
Kau masih bisa melihatku
Kau harus percaya
Kutetap teman baikmu

Akhirnya Rani memutuskan untuk menghampiri Kanya, "Kanya ... Kay." membuka paksa earphone dari telinga Kanya.

"Eh Rani, ada apa? kok diambil earphonenya?" jawabnya datar dan segera meletakkan novelnya.

"Makanya jangan pakai earphone terus, aku ngomong kamu ga dengerkan?" ucap rani dingin.

"Eh jangan marah dong, emang ada apa sih?" tanyanya santai.

"Gawat Kanya! ini gawat sumpah." wajah Rani berubah menjadi panik seakan memberi sinyal bahwa ada yang tidak beres.

"Gawat gimana maksudnya?" tanya Kanya dalam muka memelas.

"Itu loh, itu ... genk nya ka Sofie mau kesini." wajah Rani makin panik.

"Lah gapapa lah dia kesini ran, toh ini kantin sekolah bukan kantin aku," jawab Kanya enteng.

"Bukan itu Kanya, dia mau nge ... "

Prokk prokk prokk, suara tepuk tangan Sofie and the genk memutus penjelasan Rani.

"Misih dong." mendorong Rani hingga terjatuh.

"Eh apaansih lo, ko ngedorong orang se-enak jidat lu!" ucap Kanya ketus.

"Eh ada ade kelas." menghampiri Kanya, "Lagi ngapain de disini," tanyanya halus namun tatapannya bagaikan iblis.
Anak buahnya duduk di antara kanan dan kiri Kanya sementara Sofie berada tepat di depan meja yang diduduki Kanya.

"Ya makanlah, minum nih." Menunjukkan minumannya. 'ya namanya kantin mau ngapain lagi selain makan minum, ya kali mandi. Sableng nih kakak kelas,' pekik batinnya.'

"Duh berani banget ya ngejawab gue!" bola matanya hampir keluar, dari wajahnya kelihatan bahwa Sofie sudah sangat marah.

"Ka jangan ka, Kanya gatau apa-apa." Rani menarik-narik tangan Sofie.

"Apasih lo anak kecil gausah ikut-ikutan!" mendorong Rani lagi, seperti yang dilakukannya tadi.

"Eh jangan kasar dong!" Kanya segera beranjak berdiri namun terhalang oleh kedua anak buah Sofie.

Sofie menjambak rambut Kanya,dan Sofie berbisik di telinganya, "lo tau ga nyokap gue salah satu donatur di sekolah ini, lo bisa aja di keluarin kalo gue mau. Jadi gausah deketin Reno lagi. Ngerti!"

dari kejauhan Rizki melihat perlakuan Sofie kepada Kanya, dia berniat menghampiri mereka. Namun,

"Sofie lepasin Kanya!" ujar Reno, mencoba melepaskan tangan Sofie dari rambut Kanya.

PARTNERTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang