7. Tak Berpandang

127K 9.6K 373
                                    

"Kepedihan ini membuatku sadar kalau aku sudah terlanjur mencintaimu sangat dalam di hatiku." -Ocha

***

OCHA POV

Aku yang sedang lari terburu-buru tidak sengaja menabrak tubuh tegap di hadapanku sehingga aku hampir limbug dan sebentar lagi akan jatuh kalau saja orang yang ada di hadapanku ini tidak menarik pinggangku agar rapat dengannya. Mataku yang sudah kabur akibat air mata sekarang menatapnya samar.

"Loh, Ocha kenapa nangis?" tanya suara berat itu membuatku menghapus air mataku dengan cepat dan sekarang alangkah terkejutnya aku saat melihat bahwa Raka lah pemuda yang merangkul pinggangku.

Aku langsung menegakkan badanku dan segera menjauh darinya sambil menggeleng. Dari sekian banyaknya orang kenapa harus dia?

"Gak kenapa kok. Aku cuman kelilipan debu," dustaku sambil mengalihkan pandang tetapi dia diam menatapku dengan pandangan dalam. Aku merasa wajahku pasti sangat merah karena menangis tadi.

Aku pasti sangat jelek. Jangan berpikiran bahwa aku cantik. Aku masih dalam masa pubertas dan ada satu atau dua jerawat di wajahku serta bintik-bintik kecil yang tidak terlalu terlihat. Di bandingkan Kak Lisna, aku bukanlah apa-apa. Aku kalah jauh dengannya. Seharusnya aku paham dan mengerti hal itu namun hatiku berkata lain.

"Nggak usah bohong. Kak Rama ya?" ucap Raka.

Aku hanya diam saat dia berkata seperti itu.

"Nggak usah ditutupi Cha. Kalau ada apa-apa kamu bisa cerita sama aku. Kamu cinta sama Kak Rama 'kan?" tanyanya yang langsung membuatku menatapnya. Kok Raka tahu? Dia mendekatiku dan memberikanku saputangan yang ia ambil dari kantung celana sekolahnya. "Pake aja. Nih," ujarnya ramah.

"Nggak usah."

"Udah gak pa-pa."

"Tapi kan-"

"Kita keluarga. Inget kan?" pertanyaan itu membuatku mengangguk dan mengambil saputangan yang ia berikan. Aroma sabun lelaki itu menguar dari saputangan berwarna biru dongker yang sedang aku bawa.

"Kok kamu tau Ra?" tanyaku sepelan mungkin membuatnya bibirnya melengkungkan senyum tipis.

"Gampang. Kalau kamu gak suka sama Kakakku yang brengsek itu kamu gak bakalan nangis. Dan begitu juga sebaliknya," ucapnya. Raka benar. Sebaliknya kalau aku menangis, itu artinya aku menyukainya. Dia tersenyum sambil memasukan kedua tangannya ke saku celana.

"Emangnya segitu kelihatan ya?" tanyaku padanya. Cukup canggung padanya. Kami memang tidak pernah mengobrol di sekolah dan hari ini merupakan hari pertama kami mengobrol di sekolah.

"Hm," ucapnya, "Keliatan banget," ucapnya lagi dengan tenang sambil senyum lembut. Seandainya saja aku tidak mengidolakan Kak Rama. Seandainya saja aku mengidolakan Raka yang terlihat jauh lebih baik. Seandainya saja aku dijodohkan dengan Raka, mungkin semua ini tidak akan rumit. Namun kembali lagi pada realitas bahwa apa yang aku pikirkan tadi bukan jalannya. Nyatanya takdir memang kejam.

"Jangan nyerah ya," ucapnya membuatku mendongkak karena tingginya badan Raka melampauiku. "Jangan nyerah. Kalau kamu nyerah sekarang, Kakakku itu pasti bakalan seneng," ucapnya lagi membuatku menelan ludah akibat tenggorokanku yang terasa kering mendadak.

"Maksudnya?"

"Kamu pasti ngerti. Aku tau gimana Kak Rama dan dia emang kaya gitu dari dulu. Aku harap kamu bisa maklum sama dia ya Cha?" ucapnya masih bersikap tenang tetapi mampu membuatku mengangguk secara refleks. Entahlah. Tapi yang jelas aku sangat nyaman jika dia berbicara seperti itu padaku. Rasanya seperti memiliki Kakak yang selalu aku rindukan kehadirannya meski umur kami sama.

A Little LoveTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang