12 Juli 2026
Hai, apa kabar pembaca setiaku?
Maaf banget ya aku sempat hiatus lama 🥲 Nah, setelah melewati masa-masa 'puasa' ide, akhirnya aku kembali menyapa kalian dengan cerita baru dan dengan genre sama seperti karyaku sebelumnya, kehidupan kedua— rebirth— relife— time travel, semacam itu pokoknya.
Apapun imajinasiku yang tertuang dalam cerita semoga dapat diterima baik oleh pembaca sekalian.
Sebelum baca vote dulu yuk. Dan jangan lupa tinggalkan komen, biar aku makin semangat uploadnya 🤗
────────────────────────────────────────────
Sebagai seorang model yang tengah naik daun, Sarai tentu memiliki jadwal yang luar biasa padat. Seperti hari ini, ia baru saja kembali dari luar kota setelah menghadiri acara promosi salah satu merek pakaian. Kendati demikian, waktu untuk beristirahat tampaknya menjadi kemewahan yang belum bisa ia nikmati. Rangkaian agenda panjang telah menantinya hari ini. Mulai dari fitting untuk fashion show, meeting dengan sebuah merek pakaian, hingga serangkaian sesi pemotretan yang melelahkan.
Di sela keterbatasan waktu sebelum melakukan fitting dua jam lagi, Sarai mendatangi apartemen Cristian demi memberikan sebuah kejutan. Cristian sama sekali tidak mengetahui kepulangannya hari ini, sebuah rencana yang memang sengaja Sarai persiapkan untuk merayakan hari kelahiran sang kekasih.
Kantong kertas berlogo toko kue premium itu berayun pelan di jemari Sarai. Di dalamnya, sebuah kue tar kecil dengan lapisan dark chocolate kesukaan Cristian tersimpan rapi. Langkah kaki Sarai terdengar ringan di koridor lantai delapan apartemen mewah itu. Senyum tipis terukir di bibirnya saat jemarinya mulai menekan deretan angka di keypad digital pintu unit Cristian. 0-7-1-1. Tanggal jadian mereka. Pintu berdenting pelan, tanda kunci otomatisnya terbuka. Sarai tidak mengetuk. Ia ingin melihat wajah terkejut Cristian saat pria itu mendapati dirinya sudah berdiri di dalam rumah dengan lilin yang menyala.
Namun, begitu pintu kayu berat itu terdorong sedikit, senyum Sarai langsung membeku. Bukan keheningan yang menyambutnya, melainkan gema suara bernada tinggi yang saling bersahutan dari arah ruang tengah. Suara yang sangat familiar. Satu adalah suara bariton Cristian, dan yang satu lagi... suara cempreng seorang wanita yang sangat ia kenali. Zara. Sahabatnya sendiri.
Sarai melangkah pelan, nyaris tanpa suara. Ia merapatkan tubuhnya ke balik dinding pembatas lorong masuk, dadanya tiba-tiba berdegup kencang oleh firasat buruk yang mendadak mencekik lehernya.
"Aku tidak peduli, Zara! Gugurkan anak itu! Jangan bertingkah bodoh dan menghancurkan semuanya!" Suara Cristian menggelegar, penuh amarah dan penekanan yang dingin.
Sarai tertegun. Anak? Gugurkan?
"Ini anakmu! Darah dagingmu sendiri! Bagaimana bisa kau menyuruhku menyingkirkannya seolah-olah ini cuma sampah?!" balas Zara, suaranya bergetar hebat, setengah terisak namun penuh amarah.
"Karena kehadiran janin itu adalah sampah yang merusak rencanaku!" bentak Cristian lagi. Terdengar suara gebrakan meja yang cukup keras, membuat Sarai tersentak di balik dinding. "Kau tahu persis seberapa keras aku berjuang sampai di titik ini. Begitu Sarai resmi berpisah dari Erland, aku akan langsung menikahinya. Aku tidak boleh punya cacat sedikit pun di mata Sarai, apalagi menghamili sahabatnya sendiri!"
Dunia seolah berhenti berputar bagi Sarai. Kantong kertas di tangannya mendadak terasa seberat beton. Tangannya gemetar hebat. Apa yang mereka bicarakan?
ŞİMDİ OKUDUĞUN
The Second Chance of Sarai
RomantizmSebagai model papan atas, hidup Sarai tampak sempurna. Namun, di balik gemerlap lampu sorot, ia hanyalah wanita naif yang dibutakan oleh cinta palsu. Cristian, pria yang ia puja, berselingkuh dengan sahabatnya sendiri. Tak hanya itu, Cristian ternya...
