Hujan turun pelan malam itu, seperti langit yang tidak benar-benar ingin menangis, tetapi juga tidak sanggup menahan beban yang ada di dalamnya. Udara sekitar juga terasa dingin, seolah menyambut kesedihan langit pada malam itu.
Fazriel Syahfa berdiri di depan pintu kamar yang tertutup rapat.
Sudah terlalu lama.
Tok! Tok! Tok!
Tiga ketukan pelan tadi tidak dijawab.
"Nadzira..." suaranya pelan, nyaris tidak keluar. Lebih seperti bisikan.
Tidak ada jawaban.
Hanya suara jam dinding yang berdetak pelan, seolah dunia masih berjalan seperti biasa—padahal di dalam rumah itu, sesuatu sudah berhenti.
Fazriel menarik napas panjang.
Dadanya terasa berat tanpa alasan yang bisa ia jelaskan dengan kata-kata.
Sejak beberapa bulan terakhir, perasaan seperti ini sering datang, tetapi selalu ia abaikan.
Lelah dan stress kerja.
Mungkin hanya itu, pikirnya dulu.
Ia memutar gagang pintu.
Tidak terkunci
Itu hal pertama yang membuat hatinya tidak nyaman.
"Nadzira, aku masuk ya."
Langkahnya pelan saat memasuki ruangan itu. Lampu kamar redup. Tirai sedikit tertutup, membuat cahaya dari luar hanya masuk sedikit, seolah enggan untuk ikut campur.
Dan di sana...
Nadzira Elviana duduk di tepi tempat tidur.
Diam.
Tidak menoleh.
Tidak bergerak.
Rambut panjangnya sedikit berantakan, wajahnya tidak menunjukkan ekspresi yang bisa Fazriel pahami.
Bukan sedih.
Bukan marah.
Justru... kosong dan hampa.
"Nadzira" panggil Fazriel sekali lagi, kali ini suaranya lebih jelas.
"Kamu kenapa? Seharian kamu tidak makan. Aku telepon tadi juga tidak diangkat."
Nadzira tetap diam beberapa detik.
Lalu pelan sekali, seolah berbisik ia berkata,
"Kamu pulang."
Hanya itu.
Bukan pertanyaan.
Bukan juga sambutan.
Lebih seperti pernyataan bahwa ia menyadari keberadaan seseorang, tapi tidak benar-benar merasa terhubung dengannya.
Fazriel melangkah mendekat dan berdiri di depannya.
"Ya, aku sudah pulang. Aku khawatir. Kamu tidak membalas dan menjawab telponku"
Kalimat terakhir itu seharusnya hangat.
Tapi suasana di kamar itu tidak terasa seperti itu.
Nadzira menatap ke arah jendela yang sedikit ditutupi oleh tirai.
"Kamu juga lelah ya, kalau khawatir terus?" tanyanya pelan.
Fazriel terdiam.
Pertanyaan itu sederhana, tapi entah kenapa membuatnya kehilangan kata - kata.
"Kalau lelah-.." lanjut Nadzira, masih tanpa menoleh dan tetap menatap jendela di depannya.
"Jangan khawatirkan aku lagi.."
Fazriel mengernyitkan dahinya.
"Jangan berbicara seperti itu. Kamu sebenarnya kenapa sayang? Aku ngerasa kamu akhir - akhir ini berubah."
YOU ARE READING
BEFORE YOU FADE
Romance"Kalau suatu hari aku hilang... tolong jangan ikut hilang bersamaku." Fazriel hidup dengan satu penyesalan yang tidak pernah selesai: ia terlambat menyadari bahwa perempuan yang paling ia cintai sedang perlahan hancur sendirian. Di masa depan, Nadzi...
