Bagaikan hidup di dalam utopia, Sunoo selalu mendapatkan apa yang ia inginkan dengan sekali jentikan jari. Keinginannya adalah mutlak dan tak terbantahkan. Setidaknya sampai ia bertemu Park Sunghoon. Keturunan setengah serigala dan setengah vampir y...
Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.
Sunoo tidak langsung mengambil keputusan setelah kejujuran Riki terucap. Ia diam terlalu lama, terlalu sunyi untuk seorang putra mahkota yang biasanya tahu persis apa yang ia inginkan. Malam itu, ia duduk sendiri di balkon kamar, membiarkan angin dingin Chaconne menyentuh kulitnya tanpa perlawanan.
Tidak ada ciuman. Tidak ada pelukan. Tidak ada sentuhan.
Dan untuk pertama kalinya, Sunoo menyadari bahwa selama ini ia menghukum orang yang salah.
Pagi belum sepenuhnya merekah ketika Sunoo memerintahkan pelana disiapkan. Ia tidak mengenakan jubah kebesaran, tidak membawa iring-iringan. Rambutnya dibiarkan tergerai tanpa hiasan. Wajahnya pucat, matanya sembab, tidak ada jejak putra mahkota anggun yang selalu berjalan dengan kepala tegak.
Kali ini, Sunoo terburu-buru. Langkahnya terlalu cepat. Napasnya terlalu pendek. Hatinya berdetak dengan irama yang tidak ia kenali—takut, panik, dan penyesalan yang terlambat.
Gerbang Amryla menyambutnya dengan senyap. Musim semi yang konon abadi itu tampak seperti ejekan ketika Sunoo melangkah masuk dengan dada yang sesak.
Baekhyun adalah orang pertama yang ia temui. Permaisuri itu berdiri di lorong dalam, mengenakan pakaian gelap yang sederhana, namun sorot matanya tajam seperti biasa. Ia hanya perlu satu pandang untuk memahami kondisi Sunoo.
“Kau datang,” ucap Baekhyun lirih.
Sunoo menelan ludah. “Aku ingin bertemu dengannya.”
Baekhyun tidak menjawab dengan kata-kata. Ia hanya berbalik, berjalan perlahan, membiarkan Sunoo mengikutinya melewati koridor panjang yang berbau ramuan dan darah kering. Setiap langkah terasa seperti hukuman. Ketika pintu kamar dibuka, dunia Sunoo seolah runtuh.
Sunghoon terbaring di ranjang besar dengan seprai putih yang terlalu kontras dengan kulitnya yang pucat. Bibirnya nyaris tak berwarna. Rambutnya sedikit basah oleh keringat dingin. Dada itu naik turun dengan ritme yang lemah—hidup, tapi rapuh. Masih sama seperti terakhir kali Sunoo meninggalkan Amryla.
Sunoo tidak mampu melangkah lebih jauh. Dengkulnya melemas, tubuhnya bergetar hebat. Ia harus berpegangan pada sisi pintu agar tidak jatuh. Semua kemarahan yang ia simpan, semua kebencian yang ia rawat dengan keras kepala, runtuh bersamaan dengan satu kesadaran menyakitkan:
Ia hampir kehilangannya.
Baekhyun memperhatikan dari ambang pintu. Tidak ada penjelasan maupun permohonan untuk tetap tinggal. Hanya suara pelan yang dingin namun tidak kejam.
“Kalian mate,” katanya. “Hanya kau yang ia butuhkan.”
Lalu ia pergi. Pintu ditutup perlahan, meninggalkan Sunoo dan Sunghoon dalam keheningan yang berat.
Sunoo akhirnya melangkah mendekat. Setiap langkah terasa salah—terlalu lambat, terlalu terlambat. Ia duduk di sisi ranjang, tangannya gemetar saat menyentuh lengan Sunghoon yang dingin.