ARLANGA | PROLOG

145 15 0
                                        

°°°

Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.

°°°

Seorang pria yang duduk di atas rerumputan yang sedang bergoyang serta tiupan angin malam yang menusuk kulit nya. Ia memandang cahaya rembulan yang begitu terang.

Tatapannya menerawang ke depan. Tatapan yang begitu menyiratkan kesedihan,hampa dan luka yang amat mendalam.
Cahaya rembulan itulah yang menghiburnya disaat ia terpuruk oleh keadaan. pria itu tersenyum miris menatap rembulan. "mah apa kabar? Mamah disana baik-baik aja kan" tanyanya entah kenapa siapa.

Mengingat kejadian itu rasa sesak yang menjalar di tubuhnya. Sehingga tangisan yang ia tahan sendari tadi, akhirnya tumpah. Iris mata hitam pekat miliknya mengeluarkan cairan bening yang terus mengalir tanpa henti, mewakili segala perasaan yang berkecamuk yang bersarang di dadanya. Ia terisak meruntuki dirinya yang begitu lemah dan rapuh. Ingin sekali ia mengakhiri semua tetapi itu sudah takdirnya.

Ingin sekali ia menyalahkan takdir, tapi tidak bisa, ingin rasanya mengulang waktu tapi tidak bisa.

°°°
Hay selamat datang di cerita kedua aku!
Jangan lupa vote, comment ya biar aku semangat ngetiknya okay?
See you gays!!

ARLANGA Where stories live. Discover now