1

187 26 13
                                        

Kupikir, aku satu-satunya orang yang dia suka
Kupikir, aku satu-satunya hati yang dia puja
Kupikir, dia bersikap manis padaku saja
Kupikir, aku lah pengisi hati satu-satunya
Hanya aku yang bisa membuatnya jatuh cinta sebegitu rupa

Tapi ternyata aku salah
Aku bukan satu-satunya
Dia merayu dan memuji banyak sekali wanita di luar sana
Aku bukan satu-satunya orang yang dia puja
Dia membuatku tampak begitu bodoh dan terperdaya

Pokoknya, sampai kapanpun aku tak mau jatuh ke lubang yang sama
Pokoknya, tak kan kubiarkan dia mengganggu hidupku lagi di dunia
Pokoknya, sampai berani muncul lagi akan kutendang dia sampai puncak Himalaya

Mungkin benar aku telah memaafkan akal bulusnya
Tapi yang pasti, aku tak kan pernah melupakan apa yang telah dia perbuat di belakangku selamanya
Dasar buaya!

Tawa kencang langsung pecah begitu isi lembaran kertas itu selesai dibaca. Dengan geram aku merebut kertas itu dari tangan si pembaca yang ... jangan tanya mukanya kini seperti apa. Sudah jelas aku bakal dijadikan bahan ledekan kapanpun ada kesempatan, selama nyawanya masih ada.

"Itu kamu yang nulis, Kal? Gila, eh. Ternyata bakat jadi penulis puisi kamu, ya." Walau kertas sudah kuremas-remas menjadi bulatan bak bola pingpong, tapi percuma saja. Diaz sudah terlanjur membacanya. Ia terus saja tertawa. Lihat saja lagaknya. Sepertinya rasa gelinya telah menyebar dari ujung kaki hingga ujung kepala.

"Guys, Kallea mendadak jadi ahli pujangga sejak putus cinta!" gembornya yang untungnya tak dipedulikan siapa-siapa.

"Suka-suka aku, dong. Kamu mau punya bakat jadi penari ular aja aku nggak bakal gimana-gimana," balasku, yang justru membuat cowok itu kembali terbahak.

"Tahu dari mana kalau aku bisa nari ular?" tanya Diaz usai berdeham keras demi menghentikan tawanya. "Seumur-umur perasaan aku belum pernah deh nari ular di depan kamu."

"Masih muda tapi otak udah pikun ternyata," desisku sambil melempar buntalan kertas puisi tadi ke bawah meja. "Kamu pernah tuh, nari di depan aku kayak gini." Aku merentangkan kedua tangan, membuat gerakan gelombang dari jari-jari hingga siku lalu berakhir di lengan. "Tiap aku abis ketemu Rendra, pasti kamu bakal nyamperin aku terus ngitarin sambil nari kayak gini."

Diaz tertawa lagi. "Tapi itu kan tarian gurita, Kal. Bukan tarian ular," timpalnya kegelian, benar-benar mirip balita yang baru saja digelitiki perutnya. "Kalau tarian ular tuh kayak begini, nih." Ia mengangkat tangannya ke atas, menangkupkan kedua telapaknya, kemudian mulai meliuk-liukkan badannya secara berirama.

"Nah!" Mati-matian aku memasang wajah tetap ketus. "Akhirnya kamu nunjukin juga kan, bakatmu jadi penari ular sanca kembang?"

Diaz langsung berhenti bergerak. Apalagi sadar teman-teman yang lain sudah ikut memerhatikannya. Ia menurunkan tangannya dengan cepat lantas menatapku sebal. Selama 10 detik kami tak berbicara lagi dan hanya saling melempar tatapan tajam. Namun pada detik ke sebelas, secara kompak tawa kami menyembur ke udara.

"Kasihan deh, yang jadi korban buaya!" ejek cowok itu kemudian.

"Makasih, udah nunjukin bakatmu jadi penari ular sanca," sahutku dan kami kembali terpingkal-pingkal.

Baiklah, itu adalah sedikit kejadian dari berbagai kisah yang telah aku jalani bersama Diaz. Kisah yang masih hidup walau mungkin mulai lapuk dimakan waktu. Ngomong-ngomong, Diaz adalah temanku. Kami berteman cukup baik walau kelihatannya mungkin tidak seakrab itu. Kisah kami berawal dari liburanku di tempat nenek.

Walaupun keluarga besarku berasal dari Jawa Tengah, tapi sejak kecil aku ikut ayah dan ibu tinggal di Surabaya. Tak lama kemudian nenek dari pihak ibu juga pindah ke sini bersama om dan tante. Kakek sudah lama tiada. Hanya saja tempat tinggal nenek dengan kami berbeda kawasan. Jika menempuh dengan kendaraan hampir memakan waktu 30 menit. Bukan karena agak jauh, tapi lebih karena macet. Jadi Diaz tetangga nenek serta om dan tanteku. Sejak kecil aku sudah sering menginap di rumah nenek, tapi aku mulai berteman dengan Diaz hanya setelah masuk SD. Karena kami sepantaran, jadi mudah bagi kami untuk menjadi teman.

Mr. Croco And My Best Friend Stories to obsess over. Discover now