1. Dia Bukan Aku

2.5K 185 18
                                    

HAPPY READING.

"Good morning Bunda." teriak seorang gadis yang sedang menuruni tangga.

Wanita paruh baya, yang sedang menyiapkan sarapan itu terkejut dengan teriakan putrinya, menatap putri nya yang berjalan ke arah nya dengan seragam rapih

"Jangan teriak teriak, Kai. Ini masih pagi," peringat Bunda, pada Kaila.

Kaila hanya menyengir, lalu duduk di kursi meja makan, berhadapan dengan Bundanya. Memulai sarapan nya.

"Nanti Sore kamu ikut bunda ke rumah sakit ya," ujar bunda nya di sela sela sarapan.

Kaila menghentikan sarapan nya. Lalu mendongak manatap Bunda nya, yang sedang makan. Hati nya teriris melihat bunda nya seolah baik baik saja, dia melihat secarik kesedihan Dimata bunda nya.

"Iya, Bun." ujar Kaila. "Bun, kemarin Bunda kalah Arisan ya dari Tante Tante menor itu?" tanya Kaila mencoba mengalihkan pembicaraan.

Bunda Naila mengernyit, lalu mengangguk. "Iya, emang kenapa?"

"Kok bisa sih, Bunda Kalah?!" tanya Kaila tak terima. Padahal dia sudah berharap Bunda nya menang.

Bunda Naila menaikan sebelah halisnya. "Ya, Biarin. Emang kenapa?"

Kaila merengut. "Harusnya Bunda yang menang biar uang jajan Kaila nambah!!" ujar nya. Itu lah alasan nya, sangat di sayang kan uang jajan Kaila hanya 800 per-hari, jika itu bunda nya sedang tidak pelit.

Bunda Naila menggeleng. "Nggak akan Bunda kasih uang tambahan." Bunda Naila menuangkan air putih ke gelas yang kosong.

"Kok gitu sih Bun?"

"Ya, nggak ada aja. Bunda lagi nggak mau ngasih kamu uang." ujar Bunda Naila santai, lalu meminum air yang berada di gelas itu.

Kaila menatap bunda nya Tak percaya. "Bun, aku ini anak Bunda Lho, harusnya Bunda selalu ngasih aku uang tambahan, biar aku bisa jajan lebih."

Bunda Naila mengangkat bahunya tak acuh. "Bunda sih dont care," Bunda Naila tersenyum jahil.

Kaila mendelik. "Bunda kok jahat sama Kai?! Masa nggak pernah ngasih uang tambahan ke Kai. Nanti Kai pulang nya sama siapa? Kalau nggak sama babang ojek tercinta." seloroh Kaila dengan mulut yang komat Kamit.

"Kamu kan bisa minta jemput Bunda." jawab Bunda Naila.

"Minta jemput Bunda, nggak akan keburu. Paling 3 jam baru datang sampe sekolah, Bunda kalau jemput Kai, suka mampir dulu. Lama banget, kai kan Capek nunggunya." cerocos Kaila mengeluarkan kekesalan nya di depan Bunda Naila karna selalu telat terus bila di jemput Bunda nya itu, karna kalau Bunda nya menjemput pasti akan mampir ke toko toko terlebih dahulu.

"Ya udah, kamu pulang nya jalan kaki aja." Kaila menatap bunda nya tak percaya, Jalan kaki katanya? Rumah nya dari sekolah sangat jauh, mana mungkin Kaila mau jalan kaki, yang ada saat sampai kaki nya akan sakit.

"Ihh?! Bunda jahat!"

Bunda Naila tertawa pelan. "Becanda Kai. Kamu baperan." ujar nya lembut.

"Kalau kamu mau Bunda bakal nyari supir buat antar jemput kamu." Kaila menghentikan pergerakan yang ingin mengambil tasnya, lalu menoleh pada bunda nya.

"Kenapa? Bunda salah ngomong ya?"

Kaila menggeleng, "Nggak mau, Bunda kan tau Kai bisa bawa mobil."

Alis bunda Naila terangkat sebelah, dengan wajah heran. Terus, jika Anak nya bisa mengendarai mobil, kenapa ia harus menjemputnya?

"Terus kenapa Kamu minta jemput Bunda?" tanya Bunda Naila.

Bukan Senja (On going)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang