Delapan: Terbang

6.1K 273 0
                                    

"Kok mirip sama Fikri sih?"

Aku mengucek ngucek mataku.

"Beneran.. itu kayak Fikri, mataku ga salah liat.."

Seseorang beridiri di seberang jalan sana. Dia mirip sekali dengan Fikri. Dia mematung. Matanya menatap mataku, begitu pula denganku. Aku mematung melihatnya dan mataku menatap matanya.

Gak mungkin Fikri kan? Ini cuman kebetulan aja kan mukanya mirip Fikri?

Tapi.

Seseorang itu tersenyum. Seyuman itu.. tak asing. Jelas jelas mirip Fikri, hanya saja ia lebih tinggi dari 3 tahun yang lalu.

Sebuah bis melintas, bis kota tepatnya. Setelah bis tersebut melintas, seseorang yang mirip Fikri lenyap. Fia gaada, dia hilang.

"Lho? kok? hilang? kok bisa?"

Aku lagi lagi mematung. Tapi kali ini, badanku lemas, aku tak bisa menggerakan pandanganku dari arah tadi. Jelas-jelas aku liat orang yang mirip Fikri kok tadi tapi sekarang dia hilang?

"Gamungkin kan kalo itu hantu?"

Aku mengubah pikiran negatif ku ini. Aku anggap aku dari tadi hanya berhalusinasi. Halusinasi yang cukup tinggi..

Oke, mungkin itu hanya halusinasi. Aku menghela napas. Mulai mengalihkan pandanganku pada jalan menuju sekolah. Baru saja aku melangkah sedikit, seseorang memegang pundakku, sontan aku kaget.

"Aaaaaa!!" Aku berteriak lalu menutup mataku. entah mengapa aku berteriak, biasanya juga kalo ada yang megang pundakku aku woles aja ga sampe teriak kayak gini.

"Hey, ini gue! jangan teriak oi!" Suara laki laki ini kini memasuki telingaku. Suara yang tak asing.

Aku membuka mataku perlahan. Aku hanya melihat tubuh laki laki itu, dia tinggi, aku mulai melihat wajahnya, ia tampan, tampannya tak asing. Dia Justin

"Kenapa lo pake acara teriak segala coba? emangnya gue monster apa?" Kini matanya membulat, seakan akan kesal padaku.

"Yaa.. maaf. aku kira.. ah sudahlah"

"Gue monster, gitu kan? ah udahlah, ayo cepet jalan. 5 menit lagi kita masuk. nanti kalo di hukum baru tau rasa!" Kini matanya mendelek ke arahku, iih matanya serem juga. Ia berjalan mendahuluiku. aku mengikutinya dari belakang.

Di lihat dari belakang gini, dia makin keren! tunggu.. aku ga bakalan lupa kejadian dia ngasih tantangan ke Angga, tantangan yang ngebuat gue sakit!

"Eh kamu yang di depan!" Kini aku memberanikan diri berbicara dengan nada keras.

Ia menoleh ke belakang " Apa nyet?" Langkahnya terhenti

"Lo ga ada puasnya ya, jailin gue! kemarin lo buat gue sampe sakit! sekarang? untung gue ga jantungan!" Aku mulai blak blakan

"Ngapain lo sakit cuman gara gara hal kayak gitu? cemen." Kini matanya sinis, serem.

Dia langsung berjalan, tak memperdulikan aku yang kini menatapnya dengan tatapan dendam.

Ia menoleh kebelakang lagi "Cepetan jalan!" Kini matanya berubah lagi, matanya seperti mata panik.

Aku juga bergegas berjalan. Waktu 5 menit untuk sampai ke sekolah lagi mana cukup coba. Gara gara orang yang mirip Fikri itusih.. eh gue lupa kan nganggep itu cuman halusinasi ya.

Kami sampai di gerbang sekolah yang sudah tertutup. Kami kesiangan. Satpam berwajah garang menghampiri kami.

"Kenapa telat?" Kini ia membentak kami ber dua

Stalker✨ [ Tamat ]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang