“And when the daylight comes I'll have to go, but tonight I'm gonna hold you so close. 'Cause in the daylight we'll be on our own, But tonight I need to hold you so close.”
— Daylight, Maroon 5
---
Seseorang menggenggam lengannya dengan lembut.
"Bisa kamu tetap disini."
Suara seorang gadis bergetar, lirih, seakan menggantungkan harap pada malam yang sebentar lagi usai. Matanya menyimpan luka yang dalam—terlalu dalam untuk diucapkan.
Dia menatap gadis itu dengan mata yang meredup, nyaris padam. Segalanya… segalanya terasa seperti desakan atas sesuatu yang tidak pernah benar-benar ia kehendaki.
Pelan, ia melepaskan genggaman tangan gadis itu, lalu menariknya ke dalam pelukan.
"Maaf..."
Suaranya nyaris tak terdengar, serak dan pecah, seolah menahan sesuatu yang terlalu lama ia simpan di dalam dada.
"Kita akan ketemu lagi dengan versi dan situasi yang lebih baik..."
Ia melepaskan pelukan itu, menunduk, menghindari tatapan penuh luka di hadapannya.
Langkahnya perlahan menjauh, punggungnya membelakangi gadis yang kini berdiri membeku.
Ia mengusap wajahnya dengan kasar.
Lalu pergi.
Pergi tanpa menoleh sedikit pun.
Tanpa memberi jeda bagi cinta yang tertinggal di belakangnya.
Tanpa menengok pada gadis yang masih menatapnya dengan mata penuh sayang—dan kehilangan.
Sama sekali tidak.
---
“Perjalanan yang kita lewati ini terlihat redup—
tidak sepenuhnya terang,
namun juga bukan gelap.
Hanya samar.”
---
YOU ARE READING
LINDAP
Teen FictionDunia ini berputar dengan sangat cepat. Yang dekat bisa menjauh, yang jauh bisa mendekat. Kadang tidak pernah terpikir oleh orang-orang kalau ... Cahaya itu ada, walau terlihat redup. Kesenangan itu ada, walau terlihat menyedihkan. Kebaikan itu ada...
