⚠️ WARNING! ⚠️
Rating 17+ dan beberapa 18+
- Cerita ini bertemakan kenakalan remaja. Semua adegan yang ada di dalam cerita ini hanya sekedar menceritakan bagaimana kehidupan remaja saat ini.
- Cerita ini tidak mengajarkan atau mengajak pembaca untuk melakukan hal tak terpuji seperti yang dilakukan para tokoh.
- Tindakan tak terpuji, melawan guru dan orang tua, mabuk-mabukan, narasi tentang pakaian tak senonoh para tokoh, kekerasan, dan adegan tujuh belas ke atas hanya sekedar penjabaran.
- Ambil nilai positif dan abaikan yang negatif. Jadilah pembaca yang cerdas.
- Bila memang tak suka bisa langsung skip tanpa menjudge. Setiap orang berhak berkarya meski tulisannya seburuk tumpukan sampah.
➖➖➖➖
"Lewat sini!"
Dua gadis itu berjalan mengendap-endap, mencoba untuk tak mengeluarkan suara sedikitpun. Yang satu melihat sekeliling dan mengamati keadaan, sedangkan yang satu mengambil sebuah tangga yang tersandar di bagian ujung pagar lalu membawanya ke tempat temannya berada. Anka menginjak anak tangga pertama hingga berhenti di pertengahan karena suara deheman terdengar dari arah belakang. Mata dua gadis itu melirik, seorang guru dengan kepala plontos serta kumis tebal berdiri seraya berkacak pinggang menatap mereka dengan garang.
"Turun!"
Jovanka, atau yang lebih dikenal dengan nama Anka, memiliki julukan Becak, alias Berandal Cantik itu menyengirkan bibirnya, menampilkan deretan gigi putih. Dengan perlahan ia menuruni anak tangga dan kembali menginjakkan kaki di atas tanah. Begitu pula dengan Jovita, atau Ovi yang sedari tadi memegangi tangga itu. Mereka berbaris di depan Pak Yoto tanpa ada rasa takut sedikitpun.
"Mau kabur lagi?" tanya Pak Yoto, guru Bimbingan Konseling, tangannya senantiasa memelintir kumis tebal di bawah hidung.
"Enggak, Pak, kita tuh mau benerin tangga itu yang di atas."
"Mana? Benerin tangga kok dinaikin."
"Itu lho, Pak."
"Udah! Kalian itu gak pernah capek bikin ulah terus."
"Lah? Kita ngapain, Pak? Kita kan gak bikin repot," sanggah Ovi yang dibenarkan oleh Anka.
"Pala bapak kau gak bikin repot! Udah kalian ikut saya."
Anka dan Ovi berjalan di belakang Pak Yoto. Mereka sudah tahu akan berakhir di mana langkah mereka. Sebuah lahan luas dengan lantai yang disemen serta berbagai perlengkapan olahraga. Beberapa orang dengan seragam olahraga sedang di sana, mendengarkan instruksi guru. Pak Yoto menyuruh mereka untuk berdiri di tengah lapangan, mengangkat satu kaki serta menjewer telinga satu sama lain. Sudah biasa! Tak ada rasa malu atau mungkin urat malunya sudah putus. Lagipula tak akan ada satupun murid yang berani mencela apalagi mengejek mereka.
Pak Yoto pergi meninggalkan mereka berdua. Mencari mangsa baru yang akan mengisi ruang kosong di tengah lapangan itu. Yah, seperti sudah tahu di mana saja titik para anak nakal itu berada. Ia memasuki toilet belakang yang sudah tidak digunakan lagi. Benar saja, bau rokok sangat menyengat di indera penciuman. Asap rokok mengebul dari salah satu pintu bilik. Ketika dibuka, dua orang pria dengan seragam acak-acakan serta batang rokok yang menyala terjepit di antara jari telunjuk dan jari tengah.
"Kalian ngapain?"
Dua pria itu, Aarav dan Lio seketika terdiam, mata mereka menatap tubuh tambun Pak Yoto. Rokok yang tadinya dihisap kuat-kuat justru sekarang telah bersilaturahmi dengan lantai. Aarav nyengir seraya menggaruk kepala bingung. Pasti ia akan mendapatkan hukuman lagi. Mau alasan pun rasanya tak berguna, sudah kepalang tanggung.
"Ikut saya!"
"Yah, Pak, kita kan cuma praktek Biologi," ujar Lio dengan kaki yang mengikuti langkah Pak Yoto.
"Mana ada praktek kayak gitu."
"Ada loh, Pak. Kan katanya rokok itu bikin jantung kotor."
"Ginjal b*go!" protes Lio.
"Iya ginjal, jadi kita mau praktek."
"Mau mati kalian, ha?!"
"Enggak lah, Pak. Kita masih pengen nikah juga."
"DIEM!"
Pak Yoto menjewer telinga dua siswa bandel itu, menyeretnya hingga ke tengah lapangan, menyuruh untuk berbaris dengan Anka dan Ovi. Setelah merasa keempat anak didiknya itu melakukan hukuman, ia pergi meninggalkan lapangan.
Di sisi lain mata tajam Anka menatap kaki Aarav yang berada tak jauh darinya. Dengan senyum jahil ia menginjak kaki Aarav hingga berteriak keras. Kesal dengan perlakuan gadis itu, Aarav sontak saja menginjak balik dengan lebih bertenaga hingga membuat sang empu tersungkur karena berusaha menarik kakinya.
Pertengkaran tak terelakkan, Anka menjambak rambut Aarav dan menariknya hingga menunduk. Bagian pusakanya pun tak luput dari tendangan maut Anka. Aarav terduduk seraya meringis menahan sakit di bagian bawahnya. Sedangkan Ovi dan Lio hanya menatap satu sama lain selama beberapa detik. Hingga akhirnya ikut saling menjambak.
"SAKIT WOI!" teriak Ovi ketika tangan Lio menarik rambutnya dengan kuat hingga membuat beberapa helai terlepas dari akarnya.
Beberapa murid yang sedang berolahraga pun mendekat, hanya menonton, tak ada yang mau melerai. Alasan pertama mereka tak berani dan alasan kedua ini terlalu asik untuk diakhiri. Yah, sudah menjadi pemandangan biasa di mata murid SMA Gemilang ketika melihat dua kubu itu bertengkar. Mungkin sudah menjadi santapan setiap harinya.
Pak Yoto datang kembali ketika mendengar suara gaduh. Matanya menatap tajam kepada empat murid yang setiap hari membuatnya pusing. Tak perlu basa-basi, ia mengajak keempatnya ke ruang guru.
"Kalian kalau gak berantem terus bisa gak? Saya bosen liat muka kalian nongol di situ terus," gerutu Bu Ani, guru bimbingan konseling.
"Si Ibu, kalau bosen mah kita datang usir aja," sahut Aarav yang disetujui oleh ketiganya.
"Kamu ini kalau diomongin pasti jawab, ya!"
"Kalau diam aja nanti dimarahin juga, dibilang gak dengerin, giliran dijawab juga salah dibilang kurang ajar. Emak-emak emang aneh."
"Astaga, bisa stres saya."
"Gapapa, Bu, nanti langsung pensiun aja biar gak liat kita," ujar Anka.
Sebenarnya tak ada maksud untuk kurang ajar atau tidak sopan pada guru. Namun, memang mereka terlahir dengan desain seperti ini, katanya dengan sifat istimewa yang jarang dimiliki manusia pada umumnya. Lalu apa salahnya? Entahlah, terlalu sulit jika dipikir dengan otak.
"DIAM! Kalian saya hukum bersihkan seluruh toilet yang ada di sekolah ini. Harus bersih! Nanti saya cek."
Dengan langkah lunglai, mereka keluar dari ruang guru dan segera melakukan hukuman itu sebelum semuanya bertambah rumit. Sebenarnya membuat masalah adalah hobi mereka, tapi tak dengan sesuatu yang rumit. Namun, mereka suka menciptakan kerumitan. Kalian paham? Kalimat ini pun juga rumit.
Aarav mengambil sebuah pel untuk membersihkan lantai, Ovi mengambil lap dan membersihkan kaca, Anka dengan sikat WC meskipun ia harus berdebat dahulu dengan Aarav karena berebut alat, serta Lio dengan sapu. Mereka bekerja sesuai alat yang dipegang, tenang, tenteram, semua sudah dibersihkan, sisa dua toilet lagi yang masih kotor, hingga dengan tak berdosanya Anka menumpahkan ember berisi air kotor ke lantai yang sudah dipel.
"LO KALAU GAK NYARI MASALAH EMANG GAK BISA?" teriak Aarav kesal.
"Enggak." Anka menjulurkan lidah ke arah Aarav.
Seolah tak ingin memperpanjang masalah, Aarav diam dan membersihkan lantai itu lagi. Bukannya ia kalah, hanya saja ia ingin segera selesai dan pulang ke rumah. Ada sesuatu yang sudah menunggunya di atas meja makan. Pasti Bunda telah memasak ikan pindang serta tempe orek kesukaannya. Aarav ingin segera melahap semuanya. Sadar pikirannya beterbangan, ia menggeleng beberapa kali.
ESTÁS LEYENDO
Sin (17+)
Novela Juvenil17+ Hidup yang berantakan, kelab malam, minuman keras, bandel, dan masih banyak kenakalan yang dilakukan. Nasib yang sama tak membuat mereka ada dalam satu frekuensi. Yang ada hanya adu mulut yang terjadi setiap saat, sumpah serapah tak lupa dilonta...
