Selamat membaca (◍•ᴗ•◍)❤
Smile In Tears
"Bangun! Buruan mandi!"
Aditya membuka tirai jendela membangunkan adiknya yang masih Setia dengan guling yang dipeluknya.
Heera yang merasa terusik pun akhirnya terbangun dan segera mandi.
Selesai mandi Heera keluar dari kamar dan berjalan menuju dapur.
Sesampainya di dapur, Heera hanya mendapati kakaknya. Dia tidak melihat Ayahnya di meja makan.
"Duduk, Bentar lagi sarapan siap"
Setelah selesai, Aditya meletakkan dua piring nasi goreng di meja. Karena Heera tidak bisa memasak maka dirinya yang bertanggung jawab untuk urusan dapur.
"Dimana Ayah?"
"Udah berangkat"
Setelah mereka selesai makan, Heera meletakan piring yang kotor di wastafel. Dia akan mencucinya saat pulang sekolah nanti.
Heera turun dari motor yang ditumpanginya lalu memberikan helmnya pada kakaknya.
"Belajar yang bener!"
"Siap tuan!"
Aditya langsung menancapkan gasnya.
Heera terkejut melihat jam yang bertengger ditangannya dengan langkah yang cepat dirinya tak sengaja menabrak seseorang.
Brukkk
"Ahh sakit"
"Kalo jalan pake mata!"
"Maaf"
"Maaf! maaf!" Laki-laki itu langsung pergi.
Heera memasuki kelas. Tak lama guru pun datang.
"Selamat pagi semuanya!"
"Selamat pagi bu!"
"Baiklah mari kita lanjutkan materi. Buka buku kalian pada halaman 122!"
#Jam istirahat
Semua siswa dan siswi pergi meninggalkan kelas. Heera masih sibuk membereskan bukunya. Tiba-tiba seseorang datang mendekatinya.
"Ra! Ke kantin yuk?"
Heera membalas dengan senyuman dan mereka pergi menuju kantin.
Heera dan Dhira membawa nampan yang berisi makanan. Mereka berjalan menuju meja kosong dan menduduki kursinya.
"Minggir!"
Seseorang dengan suara keras secara paksa mengusir anak yang duduk di kursi miliknya hingga menjadi pusat perhatian.
Siswa yang diteriaki langsung berdiri, meminta maaf dan pergi meninggalkan kantin.
"Apa mereka selalu seperti itu?" Heera memerhatikan meja berisi tiga laki-laki yang menjadi pusat perhatian.
"Biasa, preman sekolah"
"Tidak pernah berubah"
Mereka bisa disebut sebagai preman sekolah dengan Varen sebagai pemimpinnya tak kala Yasa dan Danar sebagai pengikutnya.
Seketika Heera bingung, dia mencoba mengingat kejadian beberapa jam yang lalu. Dimana dia bertabrakan dengan seorang laki-laki.
Dan Boom! Heera tersadar dan langsung menatap laki-laki dimeja sebrang yang tidak jauh dari meja yang ditempati.
