"Oke, aku selama ini menyadari Sammy sebenarnya ganteng, tapi sepertinya Junnie lebih menyadari jika kegantengan cowok mungkin bisa dilipat gandakan."
✈✈✈
Dalam suasana remang kamar, aku kembali meneliti pojok-pojok kamar Emily yang sebenarnya jika kuperhatikan lagi, terlihat seakan Emil sudah menghuni kamar ini bertahun-tahu. Dia bahkan tidak seperti gadis pindahan. Aku mencurigai Emily? Tentu saja tidak, jika Emily berbohong, lalu cerita detailnya tentang kehidupan sekolahnya di Jakarta itu apa?
Aku segera membuang pikiran itu jauh-jauh. Perlahan lututku merangkak di atas ranjang dan kembali membuka buku catatan milik Emily. Jika memang kenyataannya Emily menyimpan kesedihannya dalam satu buah buku mungil ini, maka biarkan dia membagi kesedihannya secara tak langsung padaku. Pada adiknya sendiri, meski aku tak tahu pasti Emily sebenarnya sedih karena apa.
Tulisan Emily kali ini benar-benar membawaku pergi. Ke tempat yang sama sekali tak pernah terpikirkan olehku.
Kepada Stratosfer tersayang ...
"Bayangkan kita ada di tempat tertinggi, tempat tertinggi di dunia."
"Di mana?" Tanyaku polos saat itu. Emily tersenyum seraya membagi pandangannya ke luar jendela. Jendela kamar lama kami yang saat itu sedang memperlihatkan betapa berawannya langit.
Saat itu aku pergi meninggalkanmu. Di hari itu pula aku menangis karena harus pergi tanpamu.
Akan tetapi, kau tahu mengapa kau tak melihatku menangis saat itu?
"Ke langit harus naik pesawat." Perkataan konyol yang logis anak baru masuk SD keluar dari mulutku.
"Ya," Emily tersenyum. Saat itu aku mengira itu senyum kebahagiaannya. Emily mengecup kepalaku kemudian. "Kita mungkin tak akan bisa naik pesawat bersama."
"Kenapa?" Tnyaku tak mengerti. Emily menggeleng pelan tak menjawab apa-apa, raut kesedihan mulai tampak di wajah sendunya.
"Tapi kita punya puncak tertinggi lainnya,"
Aku tidak ingin membuatmu menangis meski aku melakukannya. Aku egois karena meninggalkanmu, tapi terkadang beberapa keegoisan tak dapat kukendalikan dalam genggamanku.
Emily berjalan memperlihatkan padaku keajaiban baru yang mungkin dia ciptakan.
"Kita saat ini berada di lantai dua rumah." Emily menaiki ranjang dan melompat di atasnya. "Sekarang Kakak ada di atas sini dan saat ini Kakak berada di tempat tertinggi."
Maaf jika aku kadang terlalu berharap lebih. Dan ... maaf jika aku tak dapat memenuhi harapanku. Senyumanmu adalah hal terakhir yang ingin aku lihat sebelum aku menjauh darimu, Stratosfer.
Dengan polosnya, aku mengikuti Emily memanjat ranjang dan melompat di atasnya.
"Lihat, Cheryl, kita ada di puncak dunia!!" Emily semakin melompat tinggi. Dalam lompatan yang tak pernah kukira itu, aku merasa diriku melayang di atas angkasa, bersama Emily, bersama bintang-bintang. Aku menatap Emily dengan riang dan tertawa kecil.
Namun, Emily sudah berhenti melompat.
Jika saja aku diberikan harapan terakhir, aku akan meminta tak ingin berpisah darimu. Tapi hidup kadang tak seberuntung itu.
Dalam pundi-pundi ruang yang tersisa, kuisi pojok paru-paruku dalam buku bertuliskan namamu. Dan kuharap, Stratosfer, pesawat jet akan mengantarkan pesan ini padamu. Untuk kali pertama yang membahagiakan dalam hidupku.
"Kakak tak tahu apa kita akan bertemu lagi."
Aku tak tahu apa kita akan berjumpa lagi.
"Tapi satu pesan Kakak ...,"
Tapi satu pesanku ....
"Jagalah diri Cheryl baik-baik."
Jagalah dirimu sebaik mungkin.
"Jika beruntung kita akan bertemu lagi."
Jika beruntung kita akan saling menatap satu sama lain.
Emily mengeluarkan sesuatu dari kepalan tangannya, sebuah penghapus Penny yang ia selipkan dlam saku kemejaku. "Kakak menyayangimu!"
Dan ... Aku mencintaimu ....
Emily,
Dahiku berkerut tak mengerti melihat Emily yang turun dari ranjang dan mengatakan kalimat kompleks dan begitu sulit untuk kucerna. "Kakak," panggilku seraya turun ranjang dan mengikutinya. Emily menoleh sesaat dan keluar dari kamar kami. Dia berjalan cepat mendahuluiku dan aku hanya bisa terpekur pada penghujung pegangan di lantai dua. Menatap kosong Emily yang menuruni tangga dan bergabung bersama Ayah serta koper-kopernya.
"Kakak mau ke mana?" Saat itu aku mulai bersungut-sungut, memaksakan diri menuruni tangga, tapi kaki kecil itu terlalu lambat. Emily pergi bersama Ayah sementara Ibu berhasil menahnku meski hanya untuk memeluk Emily.
Aku mengggit bibir dan menutup buku itu. Mataku basah akan semuanya. Tulisan, kenangan, hal pahit yang menjadi awal dari segala penderitaan, kebohongan, dan aku terjebak dalam semua keadaan sampah ini.
Sebenarnya apa yang aku inginkan?
Aku memiringkan tubuh sesaat dan memejamkan mata untuk beberapa hela napas.
Yang kuinginkan ... keluarga kami utuh. Setidaknya untuh bersama Emily dan salah satu dari orang tua kami. Itu semua lebih dari cukup asalkan kehidupannya normal. Tapi itu hanaylah angan, kenyataannya begitu. Ibu hanyalah pelacur, Ayah mungkin punya sisi yang tak terobati, sementara aku dan Emily, hanyalah dua remaja yang kehilangan masa kecilnya.
Air mataku berlinang sampai pintu kamarku terbuka dan Ayah terlihat berjalan pincang mendekat.
Napasku memburuh melihat tatapan tajam yang penuh amarah itu. "Ibumu meneleponku lagi," suara seraknya membuat kudukku merinding. "Dia bilang aku yang memaksamu tinggal di sini dan aku sering memukulimu."
Aku mengernyit tak mengerti dengan apa yang Ayah katakan. "A-Ayah, Ak-aku tidak--"
PLAK!!!!
Mataku membulat sempurna, tak memercayai buku yang kupegang menghantam pelipisku secara tiba-tiba. Ya, aku tak memercayainya sampai menyadari jika Ayah beru saja melakukannya padaku.
Dalam pandangan kabur, aku memegang pelipisku dan merasakan pusing.
Ayah melanjutkan kalimat-kalimat ancamannya yang sama sekali tak dapat kudengar saat ini.
Telingaku hanya berdengung, dan dengungan itu membuatku kembali teringat tentang seberapa sering laki-laki di depanku memukul Emily dulu.
✈✈✈
"Astaga Dragon! Kamu kenapa Woiii!" Junnie berusaha menyentuk pelipis dan kening sampingku yang bengkak.
Aku menepis tangan gemuk teman sebangkuku itu. "Aku sedang tidak ingin diganggu, Junnie." Sialnya Junnie tadi bereaksi histeris hingga kebanyakan anak memusatkan perhatian padaku kini.
Napasku sesak dan aku mengepalkan tangan. Mataku lurus berpura-pura fokus pada buku PR yang baru kukeluarkan. Ayah belum berubah, dia bahkan tidak hanya sekali memukulku, dia memukul kepalaku tiga kali. Dua kali di plipis dan satu di samping mata. Mungkin emosi ayah tak terkontrol karena akhir-akhir ini dia bertemu Ibu.
Ibu sialan! Kenapa dia harus menemui Ayah? Mungkin selama ini Ayah menerima semacam treatmen yang membuatnya dapat mengontrol emosi secara baik kecuali pada orang di masa lalu yang menyakiti perasaannya. Ibu pasti senang saat ini, ia telah membuktikan padaku seperti apa Ayah yang sesungguhnya.
Tapi ini bukan intinya. Ayah sebenarnya sudah berubah, aku yakin itu, buktinya Emily baik-baik saja. Ibu pasti mempengaruhinya dan membuat Ayah kembali kesal. Belum lagi wajahku sekilah mirip dengan Ibu.
Untuk kali pertama aku menggerutui wajahku.
Rasa pening dan sakit yang masi berbecap di kepala ini tidak ada apa-apanya dibandingkan yang Emily mungkin rasakan dulu. Aku tak akan memberi tahu hal ini pada Emily, dia pasti khawatir tidak hanya denganku tetapi dengan Ayah juga karena Emosinya kembali tak terkontrol. Dan semua ini dikarenakan Ibu.
Sial, kenapa kemarin ia menghampiriku di sekoalh ini.
"Kamu Oke?" Jeremy yang baru datang langsung menanyaiku.
"Aku khawatir, Cheryl." Junnie menambahkan setelah sebelumnya hanya terdiam karena peringatanku. "Kamu dipukuli rombongan anak nakal? Atau ...." Junnie menerik napas dan melotot tak percaya. "Gue gak nyangka Alison selicik ini."
"Bukan-bukan ...." Aku berdecak. Memijit pelipis dan menggeleng pelan. "Bukan siapa-siapa."
"Terus kenapa?" Jeremy kemudian duduk di kursinya dan menghadapku.
"Bukan siapa-siapa, lupakan." Aku berusaha melanjutkan PR PKN dengan tangan yang agak gemetar.
"Sayang banget, Cheryl. Padahal besok kamu jadi tim khusus."
"Ya Tuhan Junnie, kau masih memikirkan Tim khusus?!!" Aku menepuk meja dan meninggikan suara.
Junnie yang terlihat kaget hanya terdiam dan meminta maaf. Jeremy juga hanya menatapku prihatin.
"Aku ... sebenernya mau kasih selamet ke kamu pagi ini, soalny udah jadi tim khusus."
AKu menghela napas dan menjernihkan pikiran sesaat. "Terima kasih."
Daftar Tim Khusus pasti sudah dikeluarkan kemarin malam dan aku yakin Junnie pasti mengontakku berkali-kali semalam. Hanya saja, aku terlalu sibuk dipukuli untuk sekadar membalas pesannya.
✈✈✈
"Sebenarnya apa yang terjadi?" Untuk kali ketiga Emily menanyakan padaku tentang yang terjadi pada kepalaku. Melihat hal ini sebelumnya membuat Emily kaget dan alngsung menanyaiku perihal kebenarannya. Sama seperti terhadap Junnie sebelumnya, aku mengatakan jika aku tak ingin membicarakannya. Apalagi terhadap Emily.
"Kakak mengkhawatirkanmu." Emily berusaha mengikutiku yang berjalan mendahuluinya. Ketika bertemu Emily dan Emily langsung menanyakan perihal ini, aku sebaik mungkin berusaha menghindar.
"Bukan apa-apa, Kak." Aku menghembuskan napas panjang menuju kantin. Emily mencekal bahuku dan kami berhenti.
"Katakan yang sebenarnya, baru aku percaya. Siapa yang memukulmu?"
Melihat mata Emily yang berkaca-kaca membuatku memalingkan wajah tak tega. "Aku bertengkar dengan seseorang."
"Siapa?"
Aku menggigit bibir, memejamkan mata sesaat. Siapa? Siapa? Siapa? Otakku tak mau berfungsi aktif dalam situasi pengkambing hitaman ini. Setalah meilirik wajah ingin tahu Emily sekali lagi, aku teringat akan praduga Junnie sebelumnya.
"Perempuan. Rombongan perempuan ...," aku menghela napas sesaat tak yakin Emily percaya atau tidak. "Penggemar Sammy. Mereka kesal aku jadi tim khususnya."
Raut wajah Emily berubah seketika menjadi begitu bersemangat dengan mulut menganga yang penuh kekagetan. "Kamu beneran jadi tim khususnya Sammy?"
Aku mengernyit heran, kekhawatiran Emily brerubah begitu saja? Entah harus lega atau aku harus heran dengan hal ini. Yang pasti, sudahlah, aku mengangguk saja. "Yap, ternyata bagi beberapa cewek menjadi tim khusus sama sulitnya dengan menjadi lulusan Universitas Negeri Terbaik."
Aku tersenyum ketika Emily tersenyum. Kekhawatiran di raut wajahnya sudah hilang dan aku senang. "Perempuan memang terkadang menjadi amat liar." Emily menggandeng tanganku kemudian kami berjalan ke kantin bersama. "Ngomong-ngomong, masih sakitkah?"
"Aww!! sakit, Kak." Aku memukul pelan bahu Emily ketika dia mencoba menyentuh memarnya. Kami berdua tertawa setelahnya.
✈✈✈
Sudah kuduga, dengan menjadi tim khusus, aku akan menjadi bulan-bulanan cewek-cewek yang lebih layak menjdai tim khusus. Bangku para pemain dipasang sejajar, tapi entah mengapa aku merasa didiskriminasi dan terpinggirkan jika melihat rombongan tim khusus—semuanya cewek-cewek—yang bergerombol di satu tempat. Sedangkan aku, diujung pojok berpura-pura tak mendengar obrolan murahan mereka.
Beberapa kali namaku disebut.
Perempuan ternyata belum puas jika hanya menyakiti dari belakang.
"Yo-Yo, Cheryl!!!"
Kepalaku menoleh sesaat ketika di bangku penonton terdengar sayup-sayup orang memanggil namaku. "Junnie?"
"Cheryl, kamu motivasiku!!" Junnie berteriak ke arahku, dahiku berkerut tatkala melihat perempuan gempal itu bahkan menggoryang-goyangkan pom-pom milik tim chirs yang ia pegang. "Cheryl! S-E-M-A-NGAT!! Semangat!"
Aku hampir tertawa. "Apa-apaan itu?" Tak hanya Junnie, Jeremy yang di sampingnya bahkan lebih norak lagi. Laki-laki kaca mata itu memegang spanduk tulisan tangan jelek yang menyiratkan semangat dan selamat padaku karena menjadi tim khusus.
"Cheryl! Meskipun kamu bengor, tapi aku bangga sama kamu." Bahkan Don berteriak senorak itu.
Bagi beberapa orang menjadi tim khusus sepertinya sebuah prestasi tersendiri meski menurutku menjadi tim khusus sama seperti main orang dalam. Kalau kamu pacarnya, atau gebetan si pemain basket, maka kamu auto tim khusus. Jadi apa istimewanya? Mungkin karena banyak yang ingin jadi tim khusus tapi tidak bisa. Sementara tahun ini tiba-tiba ada gadis antah berantah yang menyelip di satu slot yang seharusnya bukan miliknya.
Mataku secara tak sengaja melihat Emily yang duduk di bangku paling atas di antara ratusan penonton. Pandangan kami saling berpapasan dan dia tersenyum seraya mengacungkan jempol. Sesaat, aku merasa lebih tenang dan lebih layak duduk di kursi ini.
Sekali lagi, aku melirik rombongan siswi lainnya. Tak ada yang bisa diajak bicara karena tak ada yang kukenal selain Alison. Mengajak Alison ngobrol sama dengan menciptakan perang dunia baru. Jadilah aku memfokuskan diri menontoni tim basket yang sedang gladi resik berlatih di H-1 perlombaan. Hampir satu sekolah memenuhi bangku penonton yang bisa menampung dua kali lipat jumlah siswa sekolah ini jika duduknya berdempetan.
Break time! Para pemain mulai mengambil jeda dan mendatangi tim khusus masing-masing. Ngomong-ngomong, pemandu sorak ditiadakan karena hampir semua pemandu sorak kini berperan sebagai tim khusus. Begitu kata Junnie.
"Aku sebenarnya tidak iri, karena jika pemain cadangan diperbolehkan punya tim khusus, maka aku pasti dipilih," ujar Junnie sebelum aku turun ke bangku tim khusus sebelumnya. Aku mengiyakan pendapat Junnie demi menaikan martabatnya yang tengah dilanda inferioritas.
"Dengar, Cheryl. Ketika Sammy mendekatimu nanti, jangan bertingkah norak, karena mungkin laki-laki itu akan terlihat dua kali lebih keren nantinya, percaya padaku," tambah Junnie sebagai nasihat.
Saat itu aku hanya mengiyakan meski mengabaikan kebenarannya. Namun, sialnya apa yang Junnie katakan benar.
Dengan tubuh yang dipenuhi keringat dan napas yang terengah-engah, Sam masih berusaha tersenyum padaku. Mataku hanya terpaku padanya. Oke, aku selama ini menyadari Sammy sebenarnya ganteng, tapi sepertinya Junnie lebih menyadari jika kegantengan cowok mungkin bisa dilipat gandakan.
"Boleh minta handuk," pinta Sammy ramah.
Aku menyerahkan handuk dengan patah-patah.
"Bagaimana penampilanku tadi."
"Ganteng," ucapku tanpa sadar dan itu seketika membuat wajah Sammy memerah. "Maksudku, kalian para pemain pada ganteng-ganteng. Ak-aku baru sadar karena gak merhatiin selama ini." SIAL! SIAL! SIAL! Kenapa sampai bicara begitu.
Sammy tetap terlihat salah tingkah. "Dengar, besok ada seragam khusus untuk tim khusus. Aku harap kamu nanti nayaman pakainya meski modelnya sama kayak pakaian anak chirs."
"Apa?!" Teriakku seketika yang justru mencuri perhatian pemain dan tim khusus lain.
Nasihat Junnie untuk bertindak tidak malu-maluin justru kulanggar dalam satu sesi latihan.
🌬....................🌪
Setiap chapter ada bagian yang mudah dan ada bagian yg susah.
Author pribadi lebih mudah tulis yang mudah🙃
Oh iya gimana komentarnya sama chapter ini?
See ya🎋