"Halo Van!" Bella langsung menelfon Vanya saat ia baca pesan-pesan yang dikirimkan Vanya bahwa ia akan izin untuk beberapa hari.
"Kenapa Bel?" sahut Vanya dengan suara serak khas orang bangun tidur diseberang sana.
"Gak sekolah lo?"
"Gue gak enak badan"
"Gue kerumah lo ya" Bella yang nampak mulai khawatir pun mengurungkan diri untuk ke sekolah.
"Oke tar gue siapin camilan dan pancake coklat kesukaan lo deh" ucapnya sambil menguap.
"Thanks Van"
Klik
Bella langsung beranjak dari sofa dan segera membangunkan Gio yang masih sedang terlelap padahal jam sudah menunjukkan pukul 7.
"Gio"
Bella mengguncang-guncangkan tubuh Gio.
"Apasih!?" sahutnya tak karuan.
"Cepetan bangun! udah jam 7. Emang kamu mau dihukum lagi?"
Gio yang merasa terganggu, langsung membalikkan tubuhnya.
"Gio! is!"
Tak ada cara lain selain menyiram atau mencium Gio yang ia ketahui dari mama Elle. Tapi ia lebih memilih opsi kedua, karena siapa yang tidak merasa kesal jika disiram? padahal lagi enak-enak nya tidur.
"Gioooo"
Bella kembali mengguncang-guncangkan tubuh Gio dan membalikkan tubuh Gio menghadap kepadanya.
Cup
Bella menahan malu saat Gio mulai tersenyum dan membuka matanya.
"Kamu kok udah bangun?"
"Emang udah. Mau ngerjain doang" Gio tersenyum miring.
Bella gelagapan, "Ya gapapa ya kan"
Gio terkekeh pelan, "Kan sah sah aja cium suami"
Cup
"Kok lo blushing?"
Bella langsung memalingkan wajahnya dan menahan senyum yang ingin terukir di wajahnya itu.
Gio kembali menciumnya, namun tidak sekedar mencium. Tapi melumatnya dalam dan menuntut.
"Nghh"
Bella tersadar kalau ia harus ke rumah Vanya dan menjenguk sahabatnya itu. "Kamu mandi sana!"
Gio menatap sebal Bella yang sedang gugup dan beranjak menghindari Gio. Dengan terpaksanya, Gio melangkahkan kaki ke kamar mandi dan bergegas mandi.
"Lo mau kemana?" Ucap Gio yang mengganggu Bella yang masih memoleskan bedaknya itu.
"Kerumah Vanya."
"Gue ikut ya"
Bella mengangguk samar.
---
Bella dan Gio telah sampai dirumah Vanya dan disambut baik seperti biasa oleh mama Vanya.
"Langsung keatas ya!"
Gio dan Bella mengangguk sopan dan melangkahkan kaki mereka ke kamar Vanya.
"Woi Bel!"
Bella mendekat ke kasur queen size milik Vanya itu.
"Lo sakit apaan sih?"
Vanya terkekeh, "Biasalah. Demam doang"
"Gue numpang ke toilet bentar ya Van"
Bella pun langsung berlalu dari kamar Vanya.
Hening,
"Ehm"
Vanya menolehkan sedikit kepalanya kearah Gio yang sedang menatapnya itu.
"Lo beneran demam? atau.." Gio sedikit bingung dan tak berniat menyambungkan kalimatnya.
"Masih sama kek dulu" Vanya tersenyum.
"Lo yakin kuat? gak minta di opname gitu?"
Vanya terkekeh pelan, "Gue masih kuat seperti dulu kok"
Gio hanya manggut-manggut sambil menatap Vanya.
"Lo sayang Bella?"
Gio sedikit tersentak dengan pertanyaan yang keluar dari mulut Vanya itu.
"Maybe"
"Lo udah mencintai dia Gi" Vanya terkekeh,
Gio nampak diam dan hanya menatap Vanya.
"Lo tau hal apa yang lebih bahagia dari ngelihat lo waktu itu nikah dengan Bella?"
Gio menggeleng pelan,
"Ngelihat lo mulai menerima dan mencintai Bella"
"Dan lo tahu? gue bener-bener ikhlas melepas lo, karena pengganti gue jauh lebih baik dan layak mendampingi lo" Vanya menatap Gio dalam.
Gio diam dan tak tahu harus berkata apa lagi.
"Gio. Lo mau janjiin gue satu hal?"
"Apa?"
Vanya menghembuskan nafasnya pelan, "Lo harus bahagiain Bella seperti lo bahagiain gue dulu"
Gio mendadak kaku, "Tapi rasa itu masih ada. Buat lo Anya"
Vanya menggeleng sambil menangis, "Lo harus lupain gue."
"Dengan syarat"
"Apa?"
"Lo harus bilang ke Bella kalau lo gagal ginjal"
Vanya menggeleng keras, "Gak! gak bisa!"
"Gue janji Nya, gue bakal cariin donor buat lo"
"Nggak Gi! Gue masih bisa sembuh dengan terapi-terapi"
"Lo tahu apa yang paling buat gue bener-bener bisa mengikhlaskan lo?"
Vanya diam dan menunggu kata yang selanjutnya Gio ucapkan.
"Melihat lo ceria lagi tanpa beban ataupun penyakit"
Vanya menatap sendu mata Gio yang juga menatapnya penuh luka. "Bella memang yang terpantas untuk mendampingi lo"
Vanya bangkit dan menghampiri Gio. Gio langsung memeluk tubuh mungil itu. Ya, mungkin untuk yang terakhir kalinya.
Bruk
Tubuh Vanya ambruk seketika dan dengan segera Gio mengangkatnya dan membawanya turun.
"Loh kenapa Gi?" tanya Bella cemas.
"Vanya sakit! Buruan!"
"Vanya kenapa ini Gio?!" sahut mama Vanya histeris.
"Pingsan tante. Ayo buruan ke mobil"
Mereka segera beranjak masuk ke dalam mobil,namun Bella menghentikan langkahnya saat ia merasa handphone nya ketinggalan diatas. Namun saat ia turun lagi, ia tak melihat mobil Gio. Bella buru-buru menyetop taksi yang lewat.
Namun saat kondisi jalanan sedang sepi dan mengejar mobil Gio yang berada berapa meter dari taksi yang dinaikki Bella, truk besar melintas dari arah kiri lampu merah dan
Brak
Taksi yang ditumpangi Bella pun tertabrak dan terpental.
"Shh tolong" teriak Bella dan gelap.
---
"Dok bagaimana kondisi anak saya?"
"Semakin parah bu, karena kondisi ginjal yang semakin buruk menyebabkan anak ibu lemah. Sebaiknya ibu tunggu saja. Kami akan mencarikan pendonor"
"Terimakasih dok!" ucap Gio dan mama Vanya bersamaan.
"Vanya pasti kuat tan! Selama ini juga dia jarang ngeluh kok. Tante doa aja dan pasrah buat kesembuhan Vanya"
Mama Vanya memeluk Gio erat, "Makasih ya nak. Tapi kamu mau kan bantu tante menjaga Vanya?"
Gio terkejut, karena memang mama Vanya tidak tahu akan putusnya hubungan Gio dan Vanya. "Tapi tan-"
Ucapan Gio terhenti saat ia melihat orang berbondong-bondong memasuki ruang icu dan membawa seseorang yang penuh luka diatas bangkar itu.
"Astaghfirullah! Bella!"
Gio menyuruh mama Vanya agar menunggu Vanya dan pamit untuk melihat apa yang terjadi dengan Bella.
"Ini kenapa sus?"
"Korban tabrakan di Jl.merpati pak. Kondisinya parah sepertinya."