Selamat membaca ya,support terus penulis dengan selalu vote dan koment,love u all
"Hahg..."desahan Naya makin terasa berat mengingat itu semua."Jangan lelah padaku... jangan menjahuiku.."seperti mengigau,suara itu begitu lirih dan di dalam taxi Naya perlahan tertidur ayam.
*********
Taxi itu melaju pelan meninggalkan halaman rumah sakit,dan dari kaca spion terlihat seorang dokter muda yang berdiri terengah-engah setelah tak sanggup lagi berlari mengejar taxi yang membawa Kanaya pergi.
"Hahg...hagh...''kesulitan dokter yang taklain Affan itu mengatur nafasnya.
"Jadi benar,hahg.. itu tadi kamu Nay hahg..kamu kesini Nay.... kamu... " ada senyum yang terkembang diantara deru nafasnya yang tidak teratur.
"Apa mungkin kou mencariku Nay....apa mungkin kou merindukanku"batin Affan sambil menatap lepas taxi yang sudah jauh pergi sebelum kemudian terburu-buru berbalik kembali ke pintu masuk rumah sakit teringat masih ada beberapa pasiennya sudah tidak sabar menunggu untuk diperiksa.
"Maafkan saya.... Maaf...''ujarnya ketika seorang pasien menanyakan kenapa ditinggal pergi begitu saja,sementara perawat yang mendampinginya sedikit heran melihat wajah sang dokter yang biasanya datar datar saja terlihat begitu cerah meski tanpa senyum mengembang di bibirnya,yang lebih mengherankan lagi dokter yang terkenal penyendiri dan dingin itu meminta maaf pada pasiennya,sungguh kejadian yang langka.
Dokter Affan yang tinggi dengan rambut hitam legam itu bukannya tidak ramah,hanya saja wajahnya selalu tampak datar,tenang,sesekali dia tersenyum sangat samar tapi hanya pada orang yang benar benar dikenalnya,sedang dengan yang lain dia cukup menyapa dengan anggukan saja,saat berkomunikasi dengan pasienpun nadanya datar saja.Kata katanya tenang ,tidak mengandung kekhawatiran membuat pasien kadang segan terlalu banyak bertanya padanya.Meski demikian,kebanyakan pasien merasa puas dengan penanganannya yang terkenal teliti dan rapi itu.
Pagi sebelum berangkat ke rumah sakit.......................................
Beberapa kali Affan menatap layar smartphone sambil mengancingkan kemejanya dan kemudian kembali mendesah lirih sambil tersenyum kecut
"Aku sudah benar 2 gila,tidak mungkin kan dia yang duluan menghubungiku..." ucapnya seperti pada diri sendiri.Dibukanya jendela kamar dan menghirup udara pagi yang seperti memberi kekuatan dan semangat di tengah kegalauan hatinya.
"Gadis nakal....kou bahkan tidak memikirkanku sama sekali ya?apa yang harus kulakukan padamu?aku sudah benar2 berusaha mendekat padamu tapi...kou bahkan sama sekali tak beranjak dari tempatmu....''Affan memejamkan matanya menyadari satu hal...dia harus lebih banyak bersabar,Ya!!harus lebih bersabar lagi untuk dapat memenangkan hati Kanaya,hati gadis dengan mata bundar cantik itu.
"Tok..tok..tok.."
"iya..''Affan menyahut tanpa bergerak sedikitpun.
"Ditunggu bapak sarapan den.."balas bibi pelan.
"Iya..''Affan masih saja tak bergerak dari jendela,sang bibi yang sudah hafal tabiatnya yang memang tak pernah banyak bicara itu segera turun dan tak lama Affan menyusul dan bergabung dengan keluarganya,duduk di meja makan.
"Papa seneng kamu nginap disini,jadi mamamu nggak perlu heboh setiap hari nanyain kapan kamu nginap di rumah"ujar papa.
"Habis Affan jarang pulang sih,padahal deketan"mama tersenyum lebar,bahagia karena hampir 2 minggu lebih,Affan tidur di rumah,sejak memutuskan tinggal di apartemen,anak keduanya itu jarang pulang ke rumah .
"Mama nggak usah kuatir,Aku bisa jaga diri.."kata Affan yang lagi lagi membuat senyum mama kian lebar.
"Lihat..mama jadi senyum terus akhir2 ini sejak kakak pulang ke rumah dan enaknya lagi mama jadi sering dibikinin camilan sama chef Dito.."sahut Kia.
Affan mulai memakan sarapanya tidak banyak bersuara,samar2 dia ingat saat tinggal bersama keluarga Naya.Ayah seperti papa yang sering mengajaknya ngobrol,sementara dia sendiri hanya banyak diam dan lebih memilih menjadi pendengar yang baik karena bingung harus bagaimana memulai suatu obrolan.Affan berharap keduanya tidak frustasi menghadapi menantu sepertinya.Mau bagaimana lagi,Affan memang tidak terbiasa berbasa-basi,dia hanya bicara jika dirasa perlu saja.
"Mama senang sekali, belakangan ini kita bisa sering makan dan ngobrol bareng"kata mama."Dan wajah kamu sangat cerah belakangan ini Fan..."lanjut mama.
"Sepertinya kita harus bilang maka sih ke mbak Naya nich.."goda Kia membuat Affan menjentikkan telunjuk ke kepalanya.
"Auww...sakit kak"teriak Kia manja.
"Oh iya..gimana perkembangan hubungan kalian sekarang?"tanya papa seperti tersadar.
"Kami baik baik saja pa"jawab Affan pendek.
"Baik –baik aja itu lebih jelasnya gimana?"mama nampak antusias."Apa mama sudah bisa berharap segera dapat cu..."
"Ma..kami belum sejauh itu,kami masih berusaha mengenal satu sama lain lebih baik lagi?"potong Affan cepat dengan wajah sedikit memerah
"Ciee..kakak tersipu malu.."ledek Kia membuat Affan kembali mengangkat telunjuknya tapi Kia sudah mengantisipasi dengan segera memiringkan kepala menghindar sambil menjulurkan lidahnya membuat Affan gemas.
"Lho..kalian kan sudah sah..''kata mama.
"Iya.. secara agama tapi belum secara hukum.."jelas Affan.
"Iya..Affan sudah benar ma,status mereka saat ini bisa dijadikan momen untuk lebih saling mengerti satu sama lain dengan lebih aman,yach..anggap saja momen untuk pacaran secara halal,mau ke depannya sedekat apa kita serahkan pada mereka berdua,papa percaya kok Affan dan Naya bisa mengaturnya.."bela papa.
"Ya dech..tapi gantian ajak Naya main kesini donk Fan,apa mama yang telpon minta dia kesini?"kata mama kemudian.
"Mama aja yang telpon dia.."Affan mengelap mulut mengakhiri sarapannya.
"Aku sudah selesai sarapan,berangkat dulu ma,pa..."pamit Affan berdiri.Mama dengan senang hati memberikan tangannya,tidak menyangka belakangan ini banyak yang berubah dari putra satu satunya itu,
"Nanti pulang kesini kan?tanya mama.
"Belum tahu,ayo Kia,sekalian ku antar gak usah pake sopir.."jawab Affan sambil mengajak Kia bareng,tentu saja si bungsu kegirangan menyambutnya,setidaknya 2 mingguan ini dia bisa manasin seorang cowok di kampusnya,Kia udah lama naksir tapi sepertinya senior yang bentar lagi lulus itu jual mahal bikin geregetan.
Mama segera masuk begitu mobil Affan meninggalkan halaman masih dengan senyum lebarnya membuat papa ikut tertawa senang.
"Duuh.. yang bahagia anaknya pulang,sampai sampai papa dicuekin"godanya.
"Bukan hanya itu aja pa yang bikin mama senang,papa lihat sendirikan Affan benar-benar banyak berubah,dulu..kalo pamit dia salim aja nggak pake ngomong langsung main pergi aja,sekarang dia pasti ngomong mau kemana,belum lagi belakangan ini mama lihat dia suka ngumpul dengan kita walau cuma sebentar padahal dulu ngamar aja kerjaannya,cuek,sibuk sendiri dan..."
"Ma..anak kita bukannya cuek,dia hanya nggak bisa terbuka mengenai perasaannya, mama inget kan waktu anaknya bi Imah masuk rumah sakit.."kata papa memotong ucapan istrinya.
"iya sich pa"mata mama menerawang
"..waktu i tu mama hampir marah karena Affan nampak nggak peduli tapi ternyata...dia melaku kan banyak hal untuk mengurus anak bi Imah,dari mulai pendaftaran,nyari kamar sampai minta bantuan teman dokternya untuk mempercepat penanganannya,padahal Affan itu tipikal orang yang nggak suka minta tolong ke siapapun,mama benar-benar terharu saat tahu itu,betul kata Edo Affan itu talkless do more pokoknya"kenang mama.
Dan mata wanita paruh baya itu tiba2 berkaca-kaca mengingat masa kecil putra keduanya,Affan memang sedikit berbeda dengan kakaknya,sampai usianya 5 tahun dia masih belum bisa bicara lancar,senang menyendiri dan kurang bisa beradaptasi dengan lingkungan dan orang-orang di sekitarnya,dan kematian ayah kandungnya membuat hal itu semakin parah,bahkan untuk beberapa waktu Affan sama sekali tidak mau bicara,untunglah kakak papanya yang tak lain om Zain yang pada akhirnya menikahi mamanya bisa meyakinkannya untuk kembali menjalani hari hari seperti biasanya ,meski begitu Affan tetaplah Affan yang banyak diam,tampan tapi berwajah datar,ramah tapi jarang tersenyum sedang kakak perempuan Affan,Kamila memilih tinggal dengan kakek neneknya dan dari pernikahan mama dan om Zain lahirlah Zakia,adik bungsu Affan.
Papa menyeka airmata yang jatuh di pipi istri tercintanya dan memeluknya lembut.
"Jangan selalu memandang aneh Affan,papa takut dia jadi nggak nyaman"ucapnya yang dianggukin mama.
"Memang ini semua salah mama pa"tangis istrinya.
"Ststs..saat itu situasinya memang serba baru buat mama,jadi gak perlu menyalahkan diri sendiri lagi"hibur papa.
"Makasih banyak pa...meski mama yang melahirkanya mama tetap tidak bisa menerka apa yang dipikirkannya malah justru papa yang ternyata lebih memahaminya..makasih banyak pa.."isak mama.
"Papa yang harus berterimakasih karena diberi kesempatan bahagia ini ma.."om Zain mengecup lembut bibir istrinya.
"Oh iya..mama harus telpon Kanaya,agar mau main ke rumah minggu ini..''kata mama dengan penuh semangat.
''Mama lupa ya,minggu ini kita akan ke Singapur"kata om Zain ngingetin istrinya.
"Ah iya..ada launching ya,apa mama telpon minta minggu depan dia kesini"kata mama.
"Iya telpon menantu mama suruh main&nginap kesini..setidaknya kita juga harus membantu agar mereka lebih dekat lagi,mama kan sudah kepingin cucu.."dukung papa.
"Iya pa,habis Mila juga gitu lebih milih tinggal di desa daripada ikut kita jadi mama nggak bisa sering2 ketemu cucu ganteng mama.."keduanya nampak kompak merencanakan sesuatu untuk mendekatkan Affan dan Kanaya yang memang secara agama sudah halal menjalin hubungan.
Di Rumah sakit,Affan segera mengambil secangkir coffelate dan membawa ke ruangannya.
"Hey ...bisa nggak itu mulut senyum dikit dan sepertinya hari ini kamu kan belum waktunya praktek"sapa Edo yang sudah menunggu di ruangannya.
"Bukannya pagi ini ada kamu ada jadwal operasi?''Affan duduk sambil meminum kopinya."Orang ganteng nggak senyum itu dimaafkan..''lanjutnya menirukan ucapan para perawat yang sering didengarnya manakala dia lewat.
"Sialan..narsismu itu lho coba dikit demi dikit dikurangi"omel Edo lucu.
"Jadi ...??kamu nggak ada operasi?"masih dengan ekspresi datar Affan ngulangi pertanyaannya,heran bagaimana setiap pagi Edo bisa nongkrong di ruangannya padahal ruangan sahabatnya itu ada di lantai 2.
"Kondisi pasienku ngedrop jadi belum bisa dioperasi..ngomong-ngomong biar nggak pernah senyum sejak tunangan wajahmu tambah cerah aja,jangan-jangan kalian udah..."Edo cekikan membuat Affan tersenyum hambar.
"Selain tangannya,aku belum nyentuh yang lainnya"ujarnya .
"What??'' Edo ternganga sebelum kemudian terpingkal-pingkal menertawakan sahabatnya yang terdiam menatapnya.
Jadi nggak enak akhirnya tawa Edo terhenti meski masih sesekali nahan tawa karena menurutnya itu lucu.
"Kalo nggak ada kerjaan sana keluar,aku mau siap siap bentar lagi pasienku datang.."usir Affan kesal
"Hmm.. ini dia yang bikin kamu nggak bisa dapetin hatinya,udah dingin tukang ngambekan lagi"ejek Edo membuat Affan kembali menatapnya serius..
"oke...oke.."Edo mengangkat tangannya.
"Aku keluar..tapi...."Edo balik menatapnya serius."Coba kamu pikir lagi,kalau masalah di masalalu kalian memang udah selesai,apalagi coba yang bikin kalian belum dekat selain sikap dingin itu,panasin dikit dunk suasananya...'"ujarnya pelan
"Pake kompor?" sungut Affan membuat Edo ketawa.
"Pake itu tuch.."Edo yang berotak mesum menunjuk bagian bawah perut Affan sambil cekikikan berlari keluar sebelum Affan melemparnya dengan tumpukan rekam medis dimejanya.
"Sialan.." Affan mengusap rambutnya ke belakang dengan senyum kecut,diantara banyak orang di rumah sakit itu hanya Dr.Edo satu satunya teman dekatnya,biar sedikit orakan dan suka nggodain perempuan Edo bisa bersikap biasa tanpa memandang latar belakang keluarganya,yang merupakan salah satu pemilik pemilik hotel&resort ternama di Jakarta dan dengannya kadang Affan bisa sedikit berbagi tentang kehidupan pribadinya yang biasanya tak terekspos bahkan oleh keluarganya.
Tapi...untuk masalahnya dengan Kanaya saat ini,tidak mungkin keluarganya tidak tahu apa-apa karena keluarganya jugalah yang mengatur pertemuan mereka,perjodohan yang dulu bagi Affan adalah sesuatu yang memuakkan kini bahkan dia tak bisa berbuat apa-apa untuk menolaknya karena hati ternyata bukan sesuatu yang bisa dikendalikannya,hati itu bukan miliknya melainkan milik seorang gadis yang berhasil menghidupkan tiap detaknya,hati itu...telah jatuh dan tak mungkin bisa dihentikannya.
"Hati ini...."Affan memegang dadanya yang terasa lapang sekaligus sesak
"Hahg...hati ini hati yang mengkhianati pemiliknya sendiri'' gumannya lirih sambil tersenyum mengejek dirinya sendiri.
"Dok..hari ini sudah ada..."
"Mulai panggil mereka 15 menit lagi"potong Affan saat seorang perawat masuk melapor.
"Baik Dok..."perawat itu mengangguk kemudian keluar.Affan sendiri juga keluar mengambil tag id nya yang ketinggalan di ruang handkey baru beberapa langkah,kakinya terhenti melihat punggung seorang gadis dengan jilbab hijau maroon,gadis itu...bukankah dia... Kanaya, iya...tinggi dan perawakannya juga cara jalannya sama persis.
Affan segera mendekat ingin menghampirinya namun gadis itu lebih dulu berjalan menjauh,Affan mengikutinya dan kembali langkahnya terhenti ketika gadis itu ternyata menuju toilet cewek.Tidak ingin kehilangan begitu saja Affan nekad menunggu sambil mondar mandir di sekitarnya tanpa memperdulikan beberapa perempuan muda asyik berbisik megagumi kegantengannya.
Affan tak bisa menyembunyikan wajah gugup dan bahagianya tapi....apa dia nggak salah lihat?Untuk apa Kanaya ke rumah sakit ini?bukankah dia selalu menghindarinya?bukankah dia tak pernah nyaman berada di sekitarnya?tiba2 Affan tersenyum getir
"Hahg..aku bodoh sekali,seandainya sakitpun dia bakal cari rumah sakit yang bukan aku dokternya?" ucapnya kecewa.
Hatiku pasti begitu merindukannya sampai semua gadis berjilbab tampak seperti dirinya...iya sudah 2 minggu lebih,aku tidak melihat ataupun mendengar suaranya..awalnya aku hanya ingin sedikit memberinya waktu untuk memikirkan kembali hubungan kami,aku sudah berjanji pada diriku sendiri tidak akan menghubungi sampai dia sendiri yang menginginkannya tapi... aku melalui setiap hari dengan perasaan tersiksa...tersiksa karena sangat merindukannya,aku tidak suka dengan perasaan ini tapi aku tidak bisa berbuat apa-apa untuk mengendalikannya, hatiku bukan lagi milikku sendiri..hati sialan ini telah membuatku seperti orang bodoh yang berlarian kesana kemari tiap melihat seseorang yang mirip dirinya...hati ini benar-benar telah memperdayaku"
Affan menghela nafas panjang,menyadari kebodohannya,lalu dengan langkah cepat dia berbalik,dan
"Bruuk..."karena tergesa-gesa dia menabrak dokter cewek berambut sebahu.
"Ah..."Dokter cewek itu mengaduh kesakitan,memegangi kakinya.
Affan segera membantunya berdiri ,padahal biasanya dia lebih suka memanggil perawat lain jika ada insiden seperti itu.
"Maaf dr.Sandra,anda tidak apa-apa?"ucap Affan menyesal
"Nggak papa dok Cuma...auww.."Dr.Sandra memegangi kakinya yang keseleo karena sepatu tinggi yang dipakainya.Affan membiarkanya berpegangan pada pundaknya.
"Apa dokter perlu kursi roda.."tawarnya.
"Nggak usah dok,tapi...bisakah dokter bantu saya ke ruangan saya di lantai 2?"Sandra memberanikan diri mengalungkan sebelah tangannya ke pundak Affan meski si pemilik pundak terlihat tidak nyaman, dan karena keadaannya sudah begitu mau tidak mau Affan mengangguk membawanya berjalan pergi tanpa menyadari Naya melihat semua itu,bukan mengantar ke ruangan si dokter,Affan malah memasukkan Sandra ke ruangan Edo dan tentu saja dokter yang terkenal playboy itu kegirangan karena sudah lama dia naksir dengan dokter Sandra yang memang cantik dengan wajah yang oriental namun bermata belok dengan hidung mancung dan bibir tipis menggoda.
"Tolong rawat dr.Sandra baik-baik" kata Affan sebelum keluar dari ruangan Edo meninggalkan Sandra yang terlihat kesal karena usahanya untuk mendekati Affan selalu gagal.
Di Poli gigi Affan segera melakukan pemeriksaan pada pasiennya,wajahnya yang serius dan datar merupakan pemandangan yang begitu digilai para wanita yang berada di sekitar lingkungan kerjanya,namun Affan sendiri terkenal tidak pernah meladeni mereka,dan dia juga termasuk cowok dengan kategori ekstrim ketika melakukan penolakan pada cewek yang tetap mengejar-ngejarnya meski sudah tidak diberinya harapan.
Konon saking ekstrimnya saat SMA dulu sampai harus berurusan dengan pihak berwenang,untunglah semua bisa di selesaikan secara kekeluargaan setelah kakeknya menyewa pengacara terkenal.Affan benci jika hidupnya diganggu,karna dia type pribadi penyendiri,tidak suka kehebohan,karena baginya ketenangan adalah segalanya,saat sunyi dia seperti bisa merefresh pikiran dan mengisi ulang tenaganya yang lelah setelah seharian bekerja.
Para pasien nampak puas dengan hasil kerjanya,entah apapun keluhan dan masalah pasien,Affan selalu melakukannya dengan penuh tanggung jawab,kadang kala ada beberapa pasien yang sengaja ingin berlama-lama dengannya dengan menanyakan banyak hal padanya dan seperti biasa Affan selalu berhasil membuat mereka jera dan akhirnya sedikit segan membuang waktu si dokter dengan pertanyaan tak berguna "Saya sudah selesai memeriksa,silahkan kembali besok untuk konsultasi lebih lanjut,saya hanya menyediakan 10 menit untuk konsultasi setelah tindakan agar pasien yang lain juga bisa terlayani,terimakasih."jurus Affan keluar saat ada beberapa pasien yang menurutnya terlalu berisik dan keterlaluan,perawat disampingnya hanya mengulum senyum lucu melihat si pasien yang malu-malu pamit pulang.
Kebanyakan pasien di RS itu adalah sosialita kaya jadi kebanyakan artis2 ibu kota,tapi Affan bahkan tidak mengenal siapa mereka karena baginya semua pasien itu sama.Pernah ada artis yang meminta ijin diliput saat sedang perawatan gigi ,dengan tegas Affan menolaknya dan mempersilahkan mencari dokter gigi yang lain.
Pasien selanjutnya masuk.
"Drdrdrrrr'' hp Affan bergetar,Affan melirik sekilas nama pemanggil yang muncul.
"Permisi..saya terima telpon dulu"pamit Affan yang diiyakan pasien,perawat nampak heran karena biasanya sang dokter idola tidak menjawab telpon saat bekerja,dia tidak tahu yang menelpon saat itu adalah Zahra,kakak Kanaya.
"Naya sudah sampai apa belum dik?"tanyanya membuat Affan kaget.
"Tadi aku ke kantornya tapi katanya hari ini dia ijin mau periksa gigi pas aku cek di klinik gigi di lantai 3 nggak ada jadi aku tanya Hera temannya,katanya Naya ke rumah sakitmu.."Zahra menjelaskan sambil ketawa,diam-diam dia juga ingin membantu hubungan keduanya agar segera membaik.
"Sepertinya dia kangen kamu dik... ngapain coba jauh-jauh kesitu orang di sebelahnya ada dr,gigi juga..."lanjutnya membuat Affan makin ternganga.
"Jadi kalian belum ketemu ya?"tanya Zahra lagi
"Iya..belum mbak,saya coba cek di pendaftaran"
"Bunda mau bicara dulu bentar dik"
"Iya mbak.."Affan menjawab dengan pikiran sedikit melayang,jadi....gadis tadi pagi itu benar-benar dia...jadi....Kanaya memang sengaja datang ke rumah sakit untuk bertemu dengannya,ada lega dan bahagia yang tiba-tiba membuncah memenuhi hati Affan segera setelah Bunda menutup telpon dia meminta perawat mencari rekam media atas nama Kanaya
"Mungkin masih di pendaftaran dok.."kata perawat saat tidak menemukan nama Kanaya diantara tumpukan yang di pegangnya agak heran juga,karena biasanya Dr.Affan tidak mau memberikan perlakuan khusus pada pasien,apapun kedudukannya tapi siapa Kanaya ini?membuat dokter itu kelabakan mencari tahu nomor pendaftarannya.
"Permisi sebentar,saya harus mengantar berkas ini"tanpa membuang waktu Affan bergegas keluar ruangannya,pandangan fokus ke ujung lorong tanpa bisa melihat kiri kananya lagi dan setengah berlari dia menuju pendaftaran dan menanyakan pasien atas nama Kanaya
"Iya dok..ada,atas nama Kanaya Sabrina usia 21 tahun,alamatnya..."
"Makasih..."Affan mengambil berkas itu dan bergegas kembali ke polinya.
Selalu seperti ini Nay...aku terus saja berlari menuju arahmu namun kou semakin menjauh....tapi aku tidak peduli lagi...bahkan jika setiap hari harus berlari akan kulakukan asal bisa melihatmu
Nanar pandangan Affan menatap satu persatu pasien di depan polinya tapi Naya tidak ada disana..
"Maaf..apa tadi anda melihat seorang gadis berkerudung hijau..."tanyanya pada seorang pasien
"Ada dok,pas dokter keluar tadi di sepertinya mau bilang sesuatu pada anda,tapi karena anda langsung pergi tak berapa lama kemudian juga pergi,mungkin baru 4 atau 5 menit yang lalu..."
"Apa...??terima kasih.."Affan putar arah menuju lobby lantai 1 dan dengan segenap kekuatannya berlari berusaha mengejar gadis berkerudung hijau maroon yang tadi sempat ditemuinya.
Tuhan tolong....hentikan dulu langkahnya,aku tidak mau membiarkannya pergi begitu saja,aku tidak ingin dia berpikir aku sengaja mendiamkannya,sudah terlalu banyak kesalahpahaman di antara kami,karena gadis keras kepala itu...selalu berpikir dari sudut pandangnya sendiri..gadis itu..selalu saja menganggap sesuatu berbeda dari yang aku pikirkan...gadis itu...
Dari lantai 2 Affan bisa melihat Naya yang keluar dari lobbi
"Nayyyy..."teriaknya seperti lupa beberapa orang memperhatikannya,gadis itu sempat menoleh tapi karena merasa tidak ada siapapun yang dikenalnya dia kembali berbalik dan menunggu taxi,Affan berlari menuruni tangga tapi terlambat... saat tiba di lobbi sebuah taxi sudah membawanya pergi,sekuat tenaga Affan berlari memanggil Naya tapi taxi itu telah benar-benar pergi pada akhirnya Affan hanya bisa memandangi,ada kesal dalam hatinya tapi ketika mengingat bahwa itu bukan halusinasi tiba-tiba ada bahagia yang merasuki hatinya....bahagia karena yang tadi dilihatnya benar-benar Kanaya,gadis yang sudah dinikahkan sirri dengannya itu benar-benar datang dan mencarinya di rumah sakit tempatnya bekerja,jadi...yang perlu dilakukannya sekarang hanyalah menyelesaikan pekerjaannya lalu segera menghubunginya..tidak!! lebih baik jika langsung datang ke rumahnya,lagipula sudah lama mereka tidak bertemu sejak pesta pekan lalu dan kebetulan bunda Naya memintanya menemani Naya beberapa hari ke depan,hahg... rasanya hari ini berlalu dengan sangat lambat bagi Affan tapi itu akan sepadan saat dia dapat kesempatan bertemu dengan Naya danmenjelaskan situasinya.
Edo kembali tertawa tak percaya,sahabatnya itu mela kukan semua hal yang baru didengarnya dari beberapa perawat yang sepanjang hari ini terus menggosipkannya.
"Selamat bro..selamat sudah menemukan gadis yang benar2 membuatmu seperti manusia,akhirnya gadis itu bisa mematahkan kutukan manusia batu jadi manusia beneran"ejeknya.
Affan yang tengah merapikan peralatannya ke tas dokternya diam tak menyahut.Dilepasnya jas putih tanda profesinya itu dan di taruhnya di gantungan ruangannya,tidak lama dilakukannya peregangan badan,tangan dan kepala mengurangi rasa lelahnya.
"Pulang nggak?"tanyanya pada Edo yang nyengir karena nggak diheraninya.
"Sepertinya kutukan itu belum benar2 hilang sebelum adegan ciuman"sungutnya kesal.
"Lihatlah wajahmu itu..makanya tadi dia tadi kabur lagi dan.."
"Berhenti bicara bicara kalo nggak tahu kebenarannya.."Affan memotong ucapan Edo sambil bersiap keluar.
"Orang ini...bener2 keterlaluan "Edo ikutan berdiri mengekornya
"Apa kou tahu hebohnya orang2 hari ini,nama Kanaya mendadak jadi viral,semua berebut mewancarai petugas pendaftaran hari ini untuk sekedar menanyakan bagaimana Kanaya itu,cantik nggak? tingginya seberapa? putih atau tidak?....gimana penampilannya?fashionable nggak? cantikan mana sama dr.Sandra.."
"Biarkan saja..nanti juga berhenti sendiri..".
Edo geleng-geleng kepala melihat reaksi Affan yang seperti biasanya,nggak ambil pusing dengan semuanya,bahkan Edo ingat,ada artis terkenal tinggal di sebelah apartemenyapun nggak dikenalnya,benar-benar!!
**********
Next Eps
Affanmemutuskan datang setelah magrib sekalian,lampu depan rumah Naya masih belumdi nyalain saat dia datang,bahkan pagar depan dalam keadaan terbuka,Affanbergegas masuk setelah memarkir mobilnya.
"Nay..."panggilnya pelan sambilmenyalakan lampu rumah.
"Nay...apa kamu baik-baik saja.."Affan langsungmenghampiri kamarnya dan saat itu dia mendengar suara nafas Naya yangberat.
"Nay..aku masuk" ragu-ragu Affan membuka pintu dan tampak tubuh Naya yangterkulai lemas de ngan suhu tubuh lumayan panas.
"Ya Tuhan Nayyy......"
Sampai jumpa di Eps selanjutnya ya,mmmuuuuahhh
01 Maret 2018