Ada yang masih nunggu cerita ini?
-------------------------------------------------------------
Aku terbangun saat sinar mentari pagi yang berhasil masuk melalui celah tirai yang belum di buka mengenai matanya. Aku mengernyit karena mataku sedikit sakit saat harus menyesuaikan penglihatanku dari gelap ke terang. Aku mengucek mataku lalu menyambar ponsel yang aku simpan di atas nakas. Ini sudah jam tujuh lebih lima belas menit. Kusimpan kembali ponselku di atas nakas.
Pandanganku beralih pada pinggangku yang terasa berat. Kulihat lengan kekar milik seseorang yang aku sudah tahu siapa orangnya kini melingkar posesif disana.
Dari kapan Bimo tidur di kamar. Aku menoleh ke belakang melihat wajahnya yang dia sembunyikan di balik rambutku. Ingatanku kembali pada dini hari tadi. Saat Bimo mengigau nama wanita lain. Siapa namanya? Hm.. Dea!! Ya, Dea.
Kemarahanku kembali menyerang pikiranku. Aku mengangkat lengan kekar milik suamiku dan menghempaskannya dengan kasar.
"Hm... sebentar lagi , Sayang," gumam Bimo, mengeratkan pelukannya.
"Ish, Lepasin!! Berat tahu!" Aku mencoba melepaskan tangannya di perutku.
Tapi, tidak ada jawaban. Yang terdengar hanya dengkuran halus. Dasar kebo!!
"Mas, lepasin ih! Berat, sakit nih perut aku!"
"Hm... iya makanya kamu diem. Sebentar lagi, dingin, nih."
Dia masih belum membuka matanya.
Aku menghembuskan napasku dengan kasar. Percuma juga berusaha melepaskan lengannya. Semakin aku mencoba, akan semakin susah di lepaskan.
"Bangun, Mas! Udah siang. Nanti nyalahin aku lagi kalau terlambat," kataku datar, menyindir.
"Nanti saja, bangunin aku jam sembilan."
"Yaudah lepasin! Aku mau muntah nih. Kalau engga di lepasin aku muntah disini." Bohong banget, engga tahu kenapa saat usia kehamianku minginjak lima bulan, aku sudah jarang sekali mengalami mual muntah bahkan sampe gak pernah kalau bukan karena mencium bau yang sensitif di hidungku.
Dan alasanku akhirnya berbuahkan hasil Bimo melonggarkan lengannya. Tapi, bukannya melepaskanku, yang ada dia membalikan posisi tidurku menjadi menghadap ke arahnya.
"Selamat pagi istriku yang cantik." Aku menahan bibirnya saat dia ingin menciumku. Mendorongnya dengan kasar. Membuat dia membuka matanya dan mengernyit menatapku bingung.
"Ish! Jangan cium-cium!" ketusku, mendorong tubuhnya agar manjauh lalu bangkit dan turun dari tempat tidur.
"Ada apa , Sayang? Pagi-pagi sudah marah-marah?"
"Ada apa! Ada apa! Pikir aja sendiri. Kamu itu sudah punya istri bahkan sebentar lagi akan jadi seorang ayah. Masih sempet aja mimpiin cewe lain. Nyebelin banget sih!" ucapku dengan nada menyindir dan meledak-ledak.
Bimo mengangkat kepalanya lalu membopongnya dengan sikutnya. Kerutan di keningnya semakin dalam menatapku bingung. Mungkin dia masih mencerna ucapanku barusan.
"Ish!! Dasar om-om mesum. Sekali mesum tetep aja mesum meski sudah punya anak juga!!" bentakku lalu menarik bantal dan melemparnya pada wajahnya dengan keras.
Aku berbalik dan masuk ke dalam kamar mandi. Tak lupa menutup pintu membanting dengan keras.
"Hei? Ada apa, pagi-pagi marah-marah tidak jelas. Huft... aku memang tidak pernah mengerti dengan sikap wanita! Susah sekali di tebak," terial Bimo frustasi dari dalam kamar.
Om mesum sialan! Bukannya minta maaf malah ngatain. Eurgh! Lihat saja nanti pembalasanku, aku tidak akan memberinya jatah dua bulan! Eh, dua tahun. Biar tahu rasa.
Selesai membersihkan badanku aku keluar dari kamar mandi dan mendapati Bimo yang sudah terlelap kembali dengan posisi tengkurap.
Kuperhatikan wajahnya sedang senyum-senyum tidak jelas. Pasti lagi mimpiin cewe yang namanya Dea itu. Menyebalkan, tidak ada Rana yang buat kesal. Ada Mommy, tidak ada Mommy yang buat kesal kini anaknya yang buat kesal. Kapan hidupku tenang dan bahagianya kalau kaya gini?
"Bangun!" Aku menekuk satu lututku dan kunaikan d ke atas tempat tidur. Tanganku menjewer telinga Bimo yang terlelap.
"Akh! Sakit, Sayang." Bimo memegang tanganku mencoba melepaskan jeweranku. Tapi, tidak sama sekali aku lepaskan. Yang ada aku semakin memelintir daun telinganya.
"Bangun om mesum!" seruku tajam. Bimo membuka matanya lalu bangun mendudukan dirinya. Barulah aku melepaskan jeweranku.
Aku berkaca pinggang menatapnya kejam. Sedangkan Bimo sibuk menggosok telinganya yang sudah memerah dengan mulut cemberut.
"Apa-apaan kamu ini, Sayang? Kenapa marah-marah?" protesnya menatapku bingung.
Masih gak mau ngaku lagi! "Mimpi apa barusan? Kenapa senyum-senyum?!"
"Hah? Mimpi? Tidak tahu, lupa. Gelap!"
"Bohong! Pasti mimpiin cewe yang namanya Dea Dea itu kan?!" Bimo mengernyitkan keningnya, satu alisnya terangkat satu.
"Bicara apa kamu ini, Sayang? Tidak mungkin aku mimpiin wanita lain. Hanya kamu yang selalu menghiasi mimpiku. Kalau bukan kamu ya berarti aku bermimpi buruk," jelasnya dengan serius.
Tak ada kata-kata yang keluar dari mulutku. Aku masih menatapnya marah. Masih saja dia tidak mau mengaku. Ini mungkin masalah kecil, tapi hormon kehamilanku memperburuk keadaan. Aku bisa saja menjadi bahagia luar biasa, tapi bisa juga dalam sekejap menjadi sedih dan kecewa. Kalau begini, aku merasa di selingkuhi terang-terangan.
Bimo menggeser duduknya ke tepi tempat tidur dan menurunkan kakinya. Tangannya meraih tanganku.
"Tidak mau!" Aku menghempaskan tanganku menghindari sentuhannya.
Bimo memalingkan mukanya lalu menghembuskan napas lelah. "Kesini." Kali ini Bimo berhasil membawaku duduk di sampingnya. "Dengar," Bimo menyelipkan anak rambut ke telingaku, "Kalaupun aku bermimpi seperti apa yang sudah kamu katakan, percayalah itu hanya sekedar mimpi. Dan aku dalam keadaan sedang tidak sadar. Tidak ada wanita lain, kamu kenyataanku Anna." Bimo berkata tanpa melihat wajahku, pandangannya mengikuti jemarinya yang bergerak membelai wajahku.
Aku memegang tangannya dan menghempaskannya. "Kalau seseorang melakukan atau mengucapkan sesuatu dalam keadaan tidak sadar. Itu berarti yang sebenarnya." Aku menatapnya sedih.
"Itu hanya mimpi, sayang. Bahkan aku sama sekali tidak mengingat mimpi itu. Jangan baperan, ah! Tidak ada yang lain. Dan jangan cemberut kaya gini. Nanti cantiknya hilang." Jari telunjuk dan jari tengahnya di tempatkan di dua sudut bibirku lalu membentuk agar aku mengangkat sudut bibirku, "'Kan kalau senyum cantik."
"Jadi sekarang aku gak cantik lagi? Mentang-mentang aku sekarang lagi hamil terus gendut, aku jadi gak cantik lagi, hah? Dan karena itu juga kamu mimpiin cewe lain yang engga gendut kaya aku?!" semprotku meledak-ledak. Berat badanku memang tidak seideal dulu. Di kehamilanku yang ke lima bulan ini berat badanku naik sampe tujuh kg.
"Semua cowo emang sama dimana-mana. Istri hamil kelayapan kemana-mana cari cewe yang lebih bagus body-nya!"
"Stop!" Kini Bimo kelihatan sudah tidak sabar. Dia menaikan nada bicaranya satu oktaf dan terdengar tegas. "Tidak akan pernah selesai berdebat dengan bumil. Tidak hamil saja cowo itu harus terus mengalah sama perempuan apalagi kalau lagi hamil," ucap Bimo datar. "Sudahlah, tenangkan pikiranmu. Aku tidak mau berdebat, tidak akan ada ujungnya." Bimo bangkit dan menghilang di balik pintu kamar mandi.
Saat itu juga satu tetes air mataku menetes. Hormon sialan! Kenapa harus nangis sih? Lagian punya suami ko gak pedulian sama istri sendiri. Bukannya bujuk biar gak marah, tapi malah nyuekin.
"Dasar om mesum!" Aku menarik bantal dan meleparnya ke arah pintu kamar mandi sambil terisak.
Selesai memakai baju aku bergegas keluar dari kamar. Saat kubuka pintu tepat di hadapanku ada Mbak Asih yang hendak ingin mengetuk pintu.
Aku mengernyit dengan raut wajah bad mood "Ada apa?" ucapku ketus.
"Emh... anu non..."
"Anu apa?!"
"Itu ada yang mencari den Bimo di luar."
"Mencari Bimo? Siapa?"
"Mbak tidak kenal, non."
"Cewe? Cowo?"
"Cewe, Non." Saat itu juga aku langsung melangkah menuju ke arah luar rumah meninggalkan Mbak Asih yang masih berdiri mematung di depan pintu kamar.
Sampai di luar rumah aku melihat wanita berambut sebahu sedang berdiri membalakangiku dan terlihat gelisah.
"Maaf, Mbak. Cari siapa, ya?" kataku membuat dia tersentak kaget lalu berbalik badan menghadap ke arahku. Siapa wanita ini? Aku tidak mengenalnya.
Kulihat wanita di hadapanku kini memandangku tampak menilai dari ujung kaki hingga ujung kepala.
"Kamu pasti istrinya Bimo?" ucapnya kemudian.
Aku menatapnya bingung lalu mengangguk. "Ada apa cari suami saya?"
Wanita cantik di hadapanku memiringkan kepalanya menatap ke dalam rumah "Bolehkan aku masuk?"
"Eh? Hm... ya boleh." Refleks aku menggeser posisiku berdiriku memberi jalan wanita di hadapanku.
"Terima kasih," ucapnya tersenyum, lalu melangkah ke dalam rumah. Diikuti dengan aku di belakangnya.
Siapa wanita ini? Mau apa dia bertemu suamiku? Mana gerak-geriknya mengingatkanku pada seseorang yang aku tidak suka lagi. Kurasa dia punya sikap tak jauh beda dari si tante Feronica!
Tanpa dipersilakan wanita cantik itu duduk di sofa lalu tersenyum singkat saat menatapku sebelum dia menyapukan pandangannya pada seluruh penjuru ruangan.
"Jadi dimana suamimu?" ucapnya setelah puas melihat-lihat.
"Dia sedang mandi, memangnya ada apa ya? Terus kamu siapa?"
"Sudah kubilang jangan kesini." Suara berat dan dalam terdengar dari belakangku.
Aku dan wanita itu bersamaan menoleh ke arah suara. Bimo berada disana berjalan dengan santai ke arah kami. Wajahnya terkesan datar tak bisa ku baca.
"Ah, Bim!" pekik wanita itu. Dia bangkit dan melangkah mendekati Bimo. Lalu merangkulkan kedua lengannya dan mencium pipi kiri dan kanan Suamiku.
Aku shock melihat apa yang aku lihat. Siapa wanita ini? Dan apa-apaan ini? Lancang sekali dia mencium suamiku.
Aku menarik lengan wanita itu dengan kasar agar menjauhi Bimo yang juga tampak kaget dengan gerakan tiba-tiba wanita itu.
"Apa-apaan ini? Kamu siapa? Lancang sekali main rangkul suami orang!" Kenapa hari ini emosiku seakan disulut terus menerus.
"Sorry, aku hanya punya urusan dengan dia, bukan dengan kamu!"
"Jangan kurang ajar sama istri gue Dea!" tukas Bimo mendorong lengan wanita itu agar menjauh dariku.
Otakku masih berputar mencerna kata-kata yang dilontarkan Bimo. Ada yang aneh dengan kata-katanya. Mataku membulat sempurna setelah mengerti mana kata yang terdengar aneh di telingaku.
Dea katanya? Dea?! Bukankah nama itu yang di sebut Bimo saat dia tertidur. Jadi itu bukan hanya sekedar mimpi saja? Orang itu memang ada. Dan wanita yang membuat kami bertengkar tadi pagi sekarang berada di hadapanku. Sungguh ini suatu kebetulan atau memang pertanda buruk?
"Bim, gue kesini gak ada niatan buruk. Gue cuma mau lo bantuin gue. Dan gue kesini sekalian mau minta ijin sama istri lo," jelas wanita yang bernama Dea itu dengan serius.
"Gue bilang gue gak bisa, De! Lo minta bantuan orang lain aja. Gue gak mau nanggung resiko," jawab Bimo tak kalah serius.
Disini aku hanya bisa mengernyitkan keningku. Karena aku sama sekali tidak mengerti dengan apa yang mereka bicarakan.
"Siapa yang bisa bantu gue? Radit? Gak mungkin, atau Chandra? Dia ada di balik jeruji. Cuma lo yang bisa bantu gue."
"Gak, De. Gue gak mau nanggung resikonya."
"Waktunya tinggal satu minggu lagi, apa lo tega ngebiarin gue di jual sama orangtua gue sendiri? Gue berharap lo mau mikirin permintaan tolong gue," ucap wanita yang bernama Dea itu sebelum dia pergi meninggalkan kami berdua.
Meninggalkan aku yang masih bingung dengan apa yang mereka bicarakan. Pandanganku mengikuti punggung wanita itu yang semakin menjauh lalu menghilang setelah masuk ke dalam taksi yang memang sudah berada disana sejak tadi.
Raut wajah bingungku seketika barubah dingin saat aku menatap Bimo yang tampak kesal.
"Mas, dia siapa?" Keluarlah kata-kata itu karena rasa penasaran yang terus mendesak ingin tahu.
Bimo menghembuskan napas lalu menatapku "Dia temanku," jawabnya singkat lalu berbalik masuk ke dalam kamar kembali meninggalkan aku sendiri di ruang tamu.
Dengan langkah cepat dan perasaan bergumuruh marah aku menyusul Bimo masuk kembali dalam kamar. Ada apa dengan dia? Bukankah seharusnya aku yang marah disini? Kenapa jadi dia yang marah.
"Jelaskan semuanya padaku!" Aku menarik lengannya yang sedang sibuk memasang dasi.
Bimo menghentikan gerakannya. Lalu menatapku datar. "Mas harus pergi bekerja, sayang. Nanti Mas jelaskan." Bimo memegang kedua bahuku. Lalu tangan satunya merapikan anak rambut yang menghalangi wajahku.
Aku menangkis tangannya kasar. "Aku mau kamu jelaskan sekarang. Siapa dia? Dan permintaan tolong apa? Apa kamu sedang menyebunyikan sesuatu di belakangku!" bentakku mendorong dadanya hingga di tergeser beberapa langkah ke belakang dari posisinya berdiri.
"Bisakah kamu tidak membentakku, Anna? Dari pagi kamu marah-marah tidak jelas, aku akan jelaskan semuanya. Tapi tidak sekarang, aku harus segera ke kantor," ujar Bimo datar. Aku bisa melihat kini dia sedang menahan amarahnya, berbeda denganku yang terang-terang memperlihatkan kemarahanku yang meluap-luap.
"Ini baru jam delapan, bukannya tadi kamu menyuruhku membangunkanmu jam sembilan? Aku tidak mau jadi wanita bodoh yang mau saja di bohongi suaminya!" semburku lagi membentaknya.
"TIDAK ADA KEBOHONGAN ANNA!" Kali ini nada suara Bimo naik satuoktaf setengah membuatku tertegun dan menciut. "Aku tidak mau pembicaraan ini menjadi menjalar kemana-mana. Dinginkan pikiranmu. Aku berangkat kerja dulu," tambahnya dengan nada super dingin sebelum dia menyambar jas kerjanya lalu keluar dari kamar.
Kedua kakiku terasa lemas, seluruh tubuhku luruh di lantai marmer yang terasa dingin saat kulitku bersentuhan. Aku melipat kedua kakiku dan menyandar pada tempat tidur lalu menenggelamkan kepalaku diantara kedua lututku.
Tangisku pecah seketika. Persis seperti abege labil yang jatuh cinta lalu patah hati.
Aku sendiri tidak tahu ini efek dari hormon kehamilanku yang terlalu sensitif atau memang ada yang tidak beres yang Bimo sembunyikan di belakangku.
Apakah pernikahanku akan terus berjalan seperti ini. Selalu ada saja hal yang membuat kami dalam kondisi seperti ini. Masalah yang sama yang menghadang.
Tidak tahu seberapa lama aku menenggelamkan kepalaku di antara kedua lututku. Tapi kurasa cukup lama karena sekarang aku merasa mataku membesar, sembab karena menangis.
Aku mengangkat kepalaku lalu bangkit dan menidurkan diri di atas tempat tidur. Napasku tercekat di tenggorokan karena dadaku terasa sesak menahan sakit yang timbul dan bergemuruh. Bayangan saat Dea; wanita yang datang tadi mencium pipi suamiku berkelebat semakin memperburuk perasaanku.
Semakin aku menahan untuk tidak menangis, semakin banyak airmata yang keluar. Karena semakin membuang perasaan sesak yang melanda, perasaan itu semakin membuatku lebih sesak lagi.
"Non Anna?"
"Aku gak mau di ganggu, Mbak," ucapku tertahan karena sengaja aku menutup wajahku dengan bantal.
"Ada yang mencari non Anna," ucap Mbak Asih tidak menyerah dari luar kamar. Mau tak mau aku menyingkap bantal yang menutupi wajahku. Dengan gontai aku berjalan keluar kamar.
Aku menyeka air mataku saat membuka pintu. Sesaat aku dan mbak Asih saling menatap, mungkin dia bingung melihat wajahku yang merah dan mataku yang sembab.
"Ada apa?" ucapku saat Mbak Asih tak juga berbicara.
"Eh, itu non ada yang mencari non Anna diluar." aku mengernyit, mencariku? Siapa lagi, apa orang yang tadi. Banyak tamu yang tidak di undang hari ini.
Tanpa ba-bi-bu lagi aku segera melangkah ke arah luar. Kulihat seseorang sedang duduk di sofa ruang tamu. Perawakannya tidak aku kenali, mau apa dia mencariku? Karena kurasa pria itu bukan Divan.
"Cari siapa?" Pria itu menoleh padaku yang sudah berdiri di samping sofa yang dia duduki.
Mataku melebar melihat siapa yang datang. Sedangkan pria itu memamerkan senyumannya. Senyuman yang mengingatkan aku pada sosok di masa lalu. Sosok yang menghilang entah tidak tahu kemana dan sosok yang sudah lama ingin aku temui.
"Apa kabar Venuce?" Aku masih shock melihat sesorang di hadapanku yang kini sudah berdiri menjulang di hadapanku. Aku tersenyum setelah otakku berhasil mencerna apa yang di katakannya. Venuce, adalah nama panggilannya untukku. Hanya dialah orang satu-satunya yang menyebut namaku dengan sebutan Venuce, karena aku masih ingat dulu dia bilang 'aku berbeda dengan orang lain, dan aku tidak mau disamakan'.
Sudah lama aku mencari tahu kebar tentang pria di hadapanku ini. Tapi, semua komunikasi yang bisa menghubungkanku dengannya tiba-tiba terputus. Dan sekarang dia ada di hadapanku.
"Bagas?" ucapku masih tak percaya dengan apa yang aku lihat.
Bagas memasang senyum yang sejak dulu menjadi senyuman favorite-ku. Tanpa aba-aba aku langsung menghambur kedalam pelukannya. Dan Bagas sedikit mengangkat tubuhku membalas pelukanku.
"Aku kangen sama kamu, Venuce," gumamnya tepat di telingaku.
Aku melepaskan pelukanku, lagi-lagi gara-gara hormon sialan itu air mataku keluar karena terharu. Aku benar-benar sensitif pada hal apapun. "Aku juga kangen sama kamu," ucapku terisak.
"Lebay banget pake nangis segala," ucapnya dengan nada mengejek, tangannya terulur mengapus air mataku. "Aw..." pekiknya saat cubitanku mendarat mulus pada kulit perutnya. "Tidak berubah ya dari dulu, doyan nyubitin perut orang."
"Lagian kamu nyebelin banget sih, ngilang gitu aja tanpa kabar," ucapku merajuk, aku melangkah ke arah sofa dan menghempaskan tubuhku disana.
"Hei, maafkan aku." Bagas mengikutiku duduk di sampingku.
"Maaf, maaf ayo jelaskan dulu apa alasannya kamu selama ini menghilang tanpa jejak?" Aku menatap pria di sampingku galak.
"Baiklah, saat itu Kakek memaksa aku untuk ikut dengan dia ke Singapure. Kamu tahu sendiri bagaimana kondisiku saat itu. Disana aku menjalankan banyak sekali proses penyembuhan." Wajahku berubah sendu saat mendengar kata penyembuhan.
Dari kecil Bagas memang sudah mengalami gagal jantung. Dan dokter memvonisnya hanya akan hidup 20 tahun saja. Terkecuali ada seseorang yang mendonorkan jantungnya untuk di tranplantasi. Kami dari kecil sudah bersama-sama. Dari mulai di taman kanak-kanak sampai di sekolah dasar. Tapi, saat masuk ke SMP dia menghilang begitu saja. Tidak ada kabar sedikitpun tentang keberadaan Bagas saat itu. Bahkan kedua orangtuanya juga ikut menghilang. Satu-satunya kabar yang aku dengar saat itu, kira-kira satu tahun kebelakang ini kedua orangtuanya Bagas kembali ke Indonesia. Tapi, tetap saja aku tidak mengetahui keberadaan Bagas dimana. Karena aku terlalu sibuk dengan persiapan pernikahanku sampai aku lupa menanyakan keberadaannya.
"... kamu ingat Venuce? Saat dokter memvonis aku hanya akan bertahan sampai umurku duapuluh tahun saja?" Aku menatap Bagas yang tampak sedang menerawang menatap pada satu titik di depan. Tak ada jawaban dari mulutku, aku hanya mengangguk menatapnya.
Bagas mengalihkan pandangannya padaku lalu tersenyum. "Tapi, aku masih bisa hidup, bahkan sampai sekarang umurku sudah duapuluh tiga tahun." Bibirupun mengulum senyum saat mendengar ucapannya.
"Bukan dokter yang tahu umur manusia sampai mana," gumamku menatapmya lembut.
"Ya, kamu benar, dan kamu tahu, Anna. Sekarang aku bisa hidup tanpa batasan. Tidak akan ada lagi dokter yang memvonisku akan hidup berapa lama. Sekarang hidupku tergantung sama Allah, hanya dia yang tahu kapan aku akan menghadapnya."
"Kamu...?"
"Ya, Venuce. Aku berhasil mendapatkan transplantasi jantung itu. Dan sekarang aku sudah sembuh, aku bisa menghabiskan waktuku semauku. Tidak ada lagi bayangan aku akan meninggal di waktu kapan."
"Ah, selamat ya Bagas." Refleks aku langsung memeluknya setelah Bagas menyelesaikan ucapannya.
"Haha.. sudah, sudah sekarang aku yang introgasi kamu." Bagas melepaskan pelukannya lalu tatapannya beraih pada perutku. "Kamu menikah tidak bilang-bilang. Tau-tau udah bunting aja."
"Mau kabarin kemana, aku aja gak tau kamu dimana," ucapku kesal. Aku mendorong tubuhnya keras. "By the way, kamu tahu aku disini darimana?"
"Sebelumnya, aku memang sudah dapat kabar kamu menikah di awal tahun kemarin. Diam-diam juga aku merhatiin kamu dari jauh, Venuce. Aku tahu kamu disini dari tante Anggun, lah. Ini aku dari Singapure langsung kesini lho... kamu yang pertama ingin aku temui."
"Jadi Mama tahu tentang kamu?"
"Hmm.. engga begitu sih. Aku baru ngontek tante Anggun sebulanan yang lalu."
Sebulan yang lalu? Berarti saat aku di rumah sakit, Bagas udah ngabarin Mama dong. Tapi, kok Mama gak bilang ya, kalau Bagas kasih kabar sama dia.
"Jangan kesel dulu, emang aku sengaja bilang sama tante Anggun supaya gak bilang sama kamu dulu. Aku mau kasih surprise buat kamu." Rupanya Bagas paham aku sedang memikirkan hal itu. Kedua tangannya membingkai wajahku. Mataku jauh menatap matanya, masih sama seperti dulu. Aku masih bisa mendapatkan kehangatan di dalamnya.
Setelah menghela napas, aku kembali menghambur kedalam pelukannya. Tidak tahu harus diistilahkan dengan apa rasa kangenku pada sosok di hadapanku ini. Bahkan aku merasa kini dia muncul sebagai malaikan penolongku. Aku sampai lupa dengan perasaan burukku karena ulah wanita tadi dan Bimo. Semua masalah seakan menguap begitu saja.
Tuhan selalu tahu apa yang umatnya butuhkan. Setidaknya kalau ada masalah datang, sekarang aku bisa membanginya dengan Bagas. Aku tidak tahu, tapi kurasa Bagas adalah orang yang paling tepat setelah Mama yang bisa aku ajak bicara. Mungkin karena aku sudah sejak dari kecil bersama dengannya.
"Anna!!" ujar sebuah suara yang familiar di telingaku. Tubuhku menegang di pelukan Bagas. Ya Tuhan, masalah lagi.
-------------------------------------------------------------
To Be Continue
Kalau masih nunggu cerita ini, ayo vote dan comment :))