When I look at you, I see my future.
Kosong.
Itulah yang pertama kali Oris sadari saat ia membuka kedua matanya perlahan. Hanya dia sendiri yang masih berada di dalam kelas. Bangku yang lain sudah kosong.
Oris melirik sekilas ke jam dinding yang ada di depan kelas. Jarum jam berada di angka lima. Kelas sudah selesai sejak tiga jam yang lalu. Sepertinya, Oris ketiduran dan tak ada satu orang pun yang membangunkannya.
Guru yang harusnya mengisi jam pelajaran terakhir berhalangan hadir. Kelas mereka diberi tugas merangkum materi. Begitu selesai merangkum materi, siswa lain bermain game atau sekedar merumpi. Sedangkan Oris hanya melamun di pojok belakang kelas. Tak ada yang mengajaknya berbicara apalagi mengajak bermain game bersama. Semua orang di kelas menjauhi Oris. Tak ada yang mau terlibat dengannya, apalagi menjadi teman dekatnya.
Baguslah. Memang itu yang Oris inginkan.
Oris pun bangkit dari kursi sambil menyampirkan tasnya di bahu dengan ogah-ogahan. Mata Oris masih terasa sedikit berat. Ia lupa sejak kapan dirinya tertidur di kelas. Yang jelas, sebelum tertidur, ia sempat mendengar beberapa anak perempuan membicarakan dirinya.
"Oris itu... suram banget. Kelas jadi terasa nggak nyaman karena dia. Kenapa sih dia harus ada di kelas yang sama dengan kita?!"
Suara anak perempuan itu cukup keras seperti memang ingin Oris mendengarkannya. Sambil memikirkan itu, Oris terus berjalan menyusuri koridor lantai dua.
Tiba-tiba mata Oris menangkap suatu hal mengagetkan. Ada seorang gadis kehilangan keseimbangan saat hendak menuruni tangga. Dari belakang, Oris langsung mengenali gadis itu. Namanya Dena. Mereka berbeda kelas tapi pernah satu tim dalam lomba estafet saat acara tujuh belasan kemarin.
Tanpa pikir panjang, Oris langsung berlari secepat yang ia bisa menuju Dena. Walaupun Oris selalu berusaha tidak terlibat dengan orang lain, ia tak bisa membiarkan seseorang berada dalam bahaya di depan mata kepalanya sendiri. Apalagi, orang itu Dena. Tubuh Oris seperti bergerak sendiri untuk menyelamatkan gadis itu.
Dengan susah payah, Oris berusaha meraih tubuh Dena. Mereka berdua jatuh berguling-guling di anak tangga. Oris memeluk Dena erat-erat dan melindungi kepala Dena dengan tangan kanannya.
Kepala Oris terasa sangat pusing saat tiba di anak tangga paling bawah. Untungnya, dia masih sadar dan tubuh Dena mendarat tepat di atasnya.
"Lo nggak apa-apa?" tanya Oris, berusaha mengabaikan rasa pusingnya. Keadaan Dena lebih penting untuk saat ini.
Dengan gerakan yang sangat kaku, Dena mengangkat kepalanya yang berada di atas dada Oris. "Pelipis lo berdarah!" seru Dena panik.
Refleks, Oris memegang pelipisnya sendiri. Ia meringis kesakitan. Ada darah segar mengalir di sana. Sepertinya itulah penyebab kepalanya terasa pusing.
"Nggak apa-apa," kata Oris menenangkan Dena. "Lo nggak ada yang luka, kan?" Oris mengulangi pertanyaannya tadi dengan kalimat berbeda.
"Kenapa lo sekhawatir itu sama gue? Yang luka itu lo!" kata Dena akhirnya. Ia dan Oris tak saling kenal, apalagi dekat.
"Karena gue... suami lo di masa depan."
***
YOU ARE READING
Precognition
Teen FictionHidup Adena Laquitta, gadis biasa penyuka novel fantasi, berubah drastis sejak dirinya bertemu cowok bernama Oris Lizio. Sayangnya, Oris jauh dari kata normal. Ada rumor di sekolah yang mengatakan Oris bekerja sampingan sebagai dukun dan punya ilmu...
