Tak ada yang akan tahu kita akan menaruh hati pada siapa. Tak ada yang salah dari menyukai seseorang, yang salah adalah berharap lebih pada seseorang yang tak seharusnya dicintai.
Menghilangkan perasaan jauh lebih sulit dari menumbuhkan perasaan.
Setiap pagi Citra berangkat sekolah dengan diantar kakaknya. Kakaknya adalah orang kedua yang paling ia sayangi setelah mamanya. Kakaknya ialah gambaran yang sempurna dari kata 'muda, tampan, dan mapan'. Farel namanya, kini ia mengelola restoran keluarga yang sudah didirikan mamanya. Farel menjaga Citra dengan sangat baik dan Citra juga sering membantu kakaknya dalam segala hal. Saling menjaga dan saling membantu, itulah yang diajarkan oleh mama Indri pada kedua anaknya.
Pagi ini Citra dan Farel memilih untuk berangkat lebih pagi untuk menhindari padatnya jalanan dan bisingnya suara klakson yang saling bersahutan. Hari yang melelahkan sudah menanti Citra dan Farel. Senin adalah jadwal terpanjang dalam agenda Citra. Upacara dan tentunya kelas tambahan, mengingat kini Citra sudah di tingkat akhir dan perlu mempersiapkan dirinya untuk ke jenjang berikutnya.
"Kak nanti sore aku pulang sama siapa ?"
"Ya nanti kalo bisa kakak aja yang jemput, tapi kalo engga bisa ya mama yang jemput, kalo engga bisa ya minta anter Edo, terus kalo Edo juga gabisa ya kamu naik ojol aja" Jelas Farel sambil memperhatikan jalan dan sesekali melihat adiknya.
Farel memperlambat laju mobilnya sambil melepas sabuk pengaman yang ia pakai karena kini mereka sudah berada di dekat area sekolah Citra. Setelah mobilnya benar-benar berhenti ia mulai mengambil dompetnya yang berada di sakunya dan mengambil uang pecahan dua puluh ribu lalu memberikannya pada adiknya.
"Dikit banget"
"Enggak, kan kamu juga udah dikasih uang sama mama "
"PLEASE..... kak Farel yang paling ganteng" Rayunya pada kakanya.
"Kalo enggak mau yaudah sini balikin uangnya "
"Iya-iya, jangan gitu dong"
"Makanya kalo dikasih rezeki itu mau banyak atau dikit harus bersyukur, masih untung ada yang mau ngasih "
Citra mengangguk paham beberapa kali setelah mendengar petuah dari kakanya. Tangannya bergerak melepaskan sabuk pengaman yang masih melekat di tubuhnya. Setelahnya Citra mencium pipi kakaknya dan buru-buru turun dari mobil."Iya makasih. See you nanti di rumah"
Farel terkadang masih bingung dengan kelakuan adiknya yang terkadang begitu aneh, menurutnya ini adalah efek pubertas yang dialami adiknya.
*
Waktu terus berjalan tanpa menghiraukan apa yang terjadi, terus berjalan tanpa pernah memandang ke belakang apalagi untuk sekedar kembali ke masa lalu hanya untuk memperbaiki apa yang terjadi sehingga tiada penyesalan.
Wajah-wajah baru selalu bermunculan sili berganti mengisi dunia yang indah dan fana ini. Jiwa-jiwa yang terluka pun perlahan membaik dan berusaha untuk menemukan kebahagiaan abadi yang mungkin belum pernah dirasakan sebelumnya.
Para murid berhamburan keluar kelas dan menuju kantin yang menandakan watku istirahat makan siang sudah tiba. Semua berlari menuju kantin tak terkecuali Citra, Citra memang membawa bekal dari rumah buatan mamanya tapi dia tetap pergi ke kantin hanya untuk membeli sesuatu yang sangat ia sukai. Citra berlari dengan wajah yang bahagia dan senyuman yang lebar sembari berdesakan dengan insan-insan yang lapar dan buas.
"MBAK LASTRI ES TEHNYA SATUUU" teriak Citra sambil berlari menuju kantin dengan suara yang akan membuat siapapun kaget saat mendengarnya.
"IYAA TAPI KAMU GAUSAH TERIAK, MBAK LASTRI UDAH DENGER " Jawab Mbak Lastri tak kalah keras
YOU ARE READING
Penyesalan
Teen FictionBuat yang baru mampir coba baca dulu beberapa siapa tahu jadi bucin Tentang cinta yang tak seharusnya ada. Tentang aku yang mencitaimu dalam diam. Tentang kita yang tak bisa bersama. Tentang aku yang berusaha melupakanmu. Seorang gadis yang mencoba...
