Pertemuan Pertama

2.3K 244 77
                                        

Pagi hari ini Luki beserta teman-temannya sedang berjalan menulusuri lorong koridor sekolah. Luki sebagai mostwanted dan juga famous di sekolah, dia berjalan di depan. Sedangkan kedua temannya Devan dan Rendy berjalan dibelakang Luki.

"Ki, kemarin gue ketemu Chaca di perpus," sahut Rendy.

"Gue tau," ujar Luki sembari membuka permen gagang dan memakannya.

"Terus Kalian ngapain? Lo nggak ada acara buat balikan gitu?" tanya Devan ikut menyauti.

"Buat lo aja, gue nggak bakal pungut orang yang udah gue buang," jawab Luki memasuki kantin sekolah yang terlihat sepi.

Bayangkan. Luki dan teman-temannya datang pukul 05.20, masih pagi bukan? Itulah kebiasaan yang dibawa oleh Luki setiap paginya saat menjemput kedua temannya.

"Ngomongnya dijaga Ki, kemakan omongan sendiri kan nggak enak," sahut Rendy langsung membantu Aisyah—anak dari Bu Siti.

"Neng Asiyah, sini Abang bantuin ya," ujar Rendy membantu Aisyah yang membawa adonan gorengan.

"Makasih kak," ujar Aisyah.

Luki dan Devan melihat kedua insan tersebut hanya menggelengkan kepalanya saja. Kalau mereka ke kantin pagi seperti ini, pasti kerjaan Rendy adalah membantu Aisyah.

"Vian ngajak kita taruhan nanti malam," ujar Devan sembari mengeluarkan benda pipih di dalam saku celananya.

Luki berdecih. "Cih! Nggak kapok apa tuh anak gue kalahin terus,"

"Gue juga heran sama tuh anak," sahut Devan.

"Heran kenapa?" tanya seorang gadis yang tiba-tiba ikut nimbrung dimeja Luki dan Devan.

Luki menaikan satu alisnya. "Maksud lo?" tanya Luki.

"Maksud gue, kalian kenapa heran sama Kak Vian?" tanya gadis itu spontan.

"Mending lo masuk kelas, kepo banget lo!" usir Devan.

"Loh, emang kenapa? Gue cuman mau tau aja kenapa kalian heran sama Kak Vian?" tanya gadis itu masih tetap dimeja Luki dan Devan.

"Hubungannya sama lo itu apa? Ribet banget lo jadi cewek," ujar Luki.

"Dia Kaka gue," terangnya.

Luki dan Devan langsung saja tertawa saat mendengar kata yang keluar dari gadis di depannya ini.

"Kenapa kalian ketawa?" tanya gadis itu.

"Lo adik Vian?" tanya Devan. Gadis itu mengangguk lucu di depan Devan dan Luki.

Sekali lagi mereka hanya tertawa, gadis itu hanya menatap Kaka kelasnya ini dengan bingung, dia tidak tau kenapa mereka tertawa.

"Rara!" teriak salah satu siswi kelas 12 memanggilnya.

Gadis yang bernama Rara itu menoleh ke arah siswi yang memanggilnya.

"Yaudah, gue mau nyamperin Kaka itu dulu, kalian jangan lupa buat kasih tau, kenapa kalian heran sama kak Vian." jelas Rara beranjak dari kursinya dan berlari kecil kearah siswi itu.

"Cantik." batin Luki saat melihat gadis yang memanggil Rara tadi.

"Lo suka?" tanya Rendy yang datang tiba-tiba sembari membawa nasi goreng ala Bu Siti.

Luki melirik ke arah Rendy. "Nggak."

***

Luki berjalan di koridor kelas yang nampaknya sepi. Jam pelajaran sudah dimulai tapi Luki malah berkeliaran di koridor sekolah. Sedangkan Rendy dan Devan mereka sudah duduk rapih di kelasnya.

Luki berjalan tegap, bajunya dikeluarkan, rambutnya terlihat berantakan, dan kedua tangannya dimasukan kedalam saku celananya.

"Jangan pernah menjadi orang baik jika kamu tidak dihargai." ujar Mamah Luki.

Luki tersenyum getir mengingat ucapan Mamahnya.

Bruk

Lembaran kertas terapung-apung di koridor dan berserakan di lantai, seorang gadis tertabrak oleh tubuh tegap Luki. Luki menghela nafasnya lalu mengulurkan tangannya.

Gadis itu langsung saja menerima tangan Luki. "Kalau jalan itu pake mata!" ujar Luki langsung memberi sautan.

"Kalau jalan itu pake kaki! Mana ada jalan pake mata!" ujar gadis itu tak mau kalah.

"Jalan pake kaki dan mata juga di pake supaya lo bisa liat!" sarkas Luki berjalan dengan menubruk bahu gadis itu dan meninggalkannya sendiri di koridor kelas bersama lembaran kertas yang jatuh di lantai.

_____________________
Hallo, gimana part ini? Jangan lupa buat pencet bintangnya dan komen plus Follow akun author💞

Senin, 12 Oktober 2020
Jumat, 9 April 2021

LUKISANStories to obsess over. Discover now