Suara rintik hujan menemani kesendirian seorang gadis berseragam putih abu yang tengah duduk manis menunggu jemputannya di halte sekolah.
Sekolah sudah sepi dari setengah jam yang lalu dan dia harusnya sudah dirumah menikmati sore harinya jika tidak ada yang menghambat nya.
Pak Soleh guru mapel matematika tiba-tiba saja memanggilnya saat dia hendak berjalan keluar kelas. Lelaki setengah baya itu meminta bantuannya untuk mengoreksi ulangan teman-temannya dan Fera nama gadis itu terlalu baik untuk menolak.
Suara deruman motor terdengar dari kejauhan membelah jalanan yang lumayan ramai di sore hari ini. Fera menoleh memperhatikan sang pengendara motor hitam itu hingga melewatinya.
Sekilas mata yang terlihat dari balik kaca helm itu melirik kearahnya. Tidak lama hanya satu detik mungkin.
Fera Titania Abraham gadis itu menggerutu pelan saat pengendara itu tetap melaju kencang walaupun jalanan basah oleh air hujan membuat genangan air yang tercipta menciprat sepanjang roda motor itu melesat. Ya walaupun Fera tidak terkena air genangan itu tetap saja membuatnya jengkel.
Tak lama sebuah mobil bmw hitam berhenti didepannya. Membunyikan klakson mobil sehingga Fera cepat-cepat berjalan masuk ke mobil sambil melindungi kepalanya dari air hujan dengan tangan.
"Kamu lama nunggu?" Lelaki di balik kemudi itu bertanya sembari mengulurkan handuk kecil untuk mengelap tangan Fera yang basah terkena air hujan.
"Nggak kok. Nggak lama" Dengan senang hati Fera meraih handuk itu dan mulai mengeringkan tangannya.
Lelaki itu tersenyum. Gadis itu tidak hanya cantik wajahnya tapi juga hatinya yang tentunya membuat semua orang menyukai gadis itu. Kecuali para gadis yang merasa tersaingi dengannya.
Rafka nama lelaki itu mulai menjalankan mobilnya meninggalkan halte sekolah Fera.
Di sepanjang perjalanan pulang mereka di hiasi dengan cerita Rafka yang hampir menyerempet orang karena pengendara motor yang ugal-ugalan hingga merambat kemana-mana. Yah begitulah dia.
Tak jarang pula Rafka melemparkan leluconnya yang ditanggapi dengan kekehan gadis disampingnya itu.
Keadaan jalanan sore hari ini cukup ramai walaupun rintik hujan sedari tadi menerjang bumi. Mobil berhenti di lampu merah dekat komplek perumahan Fera. Gadis itu terus saja dibuat tertawa karena banyolan yang selalu di lemparkan Rafka.
Tak ada kata sepi ataupun canggung diantara dua orang itu. Sering kali orang-orang disekitar mereka bertanya-tanya tentang apa sebenarnya hubungan diantara Fera dan Rafka dilihat dari interaksi mereka berdua yang selalu manis dan perlakuan Rafka kepada Fera yang menunjukan bahwa mereka tidak hanya teman biasa.
Entahlah. Setiap ada teman Fera yang bertanya mengenai hubungan gadis itu dan Rafka dia hanya tersenyum dan menjawab "Rahasia" Membuat penasaran saja.
Sambil menunggu lampu merah berubah menjadi hijau Fera mengedarkan pandangannya keluar jendela memperhatikan orang-orang yang juga menunggu dibawah rintik air hujan.
Pandangannya terkunci pada seorang pria yang menaiki motor hitam disamping mobil yang dia tumpangi. Fera mengenalinya. Pria itu adalah orang yang sama yang tadi melaju cepat melewatinya dan sempat menyita perhatiannya tapi bukankah tadi orang itu sudah melaju jauh kenapa tiba-tiba ada di sini.
Di bawah rintik hujan yang sudah mulai deras laki-laki itu tak peduli mencari tempat berteduh ataupun mantel untuk melindungi dirinya dari air hujan. Dengan baju yang serba hitam bukannya terlihat menakutkan pria itu justru terlihat keren.
Perlahan-lahan jaket kulit hitam yang dikenakan pria itu basah oleh air hujan. Pria itu tetap tak bergeming pandangannya fokus ke depan.
Dia terlihat gagah. Tunggu dulu apa yang di pikirkannya ini. Bisa-bisanya dia berpikir seperti itu. Padahal tadi dia kan jengkel dengan orang itu yang ngebut saat jalanan basah terdapat genangan air. Fera menggeleng-gelengkan kepalanya berusaha menepis segala pemikiran anehnya tentang pengendara motor itu.
Rafka menoleh memperhatikan Fera yang tengah menggelengkan kepalanya. Keningnya mengerut lucu. Tangannya mendarat di kepala gadis itu bermaksud menghentikan tingkah aneh Fera. Ya aneh karena Rafka tak pernah melihat Fera bertingkah seperti itu. Setahunya Fera adalah gadis kalem yang tidak pernah bertingkah absurd.
"Kamu kenapa?" Dengan tangan yang tetap berada di posisi yang sama Rafka bertanya.
"Ah nggak papa kok cuma pusing sedikit aja" Fera balas dengan menyengir lucu membuatnya mendapatkan cubitan gemas di pipi.
"Itu udah ijo lampunya. Ayo jalan"
"Iya-iya ini jalan" Rafka menginjak pedal gas nya dan Seakan belum puas Rafka kembali mencubit Fera kali ini di hidung mancungnya.
Dan begitulah sisa perjalanan pulang mereka sekarang tidak ada lagi suara tawa dari kedua orang itu. Yang ada hanya suara tawa Rafka dan wajah merengut Fera.
Fera mengusap pipinya dan hidungnya yang sakit sehabis di aniaya Rafka dan memalingkan wajahnya ke Jendela. Dia melihat pengendara motor menjalankan motornya dengan pelan kali ini. Baguslah setidaknya orang itu masih sayang nyawa tidak kebut-kebutan di waktu hujan seperti ini.
Pria itu tiba-tiba menoleh menatap kearah Fera yang cepat-cepat mengalihkan pandangannya kedepan tanpa menoleh lagi.
أنت تقرأ
RAIDAN
أدب المراهقينNgga ada deskripsi dulu ya Aku buat cerita ini semata-mata untuk kepuasan pribadiku sebagai reader. Sebagai reader, aku banyak nemuin cerita bagus tapi ngga kuat sama konfliknya atau ngga puas sama endingnya. Berhubung aku suka sama cerita yang n...
