Bu Tuti sudah bosan mengurus kenakalan Deloria dan Rafanza. Mereka berdua masuk ke ruang BK bukan ada sesuatu masalah keluarga atau persahabatan, tetapi karena kenakalannya. Sudah sebulan mereka bersekolah di SMA Tunas Bangsa. Hari ini hanya mereka yang terlambat masuk sekolah, entah hanya kebetulan atau sebuah takdir. Di SMA Tunas Bangsa sedang melaksanakan upacara yang dilakukan setiap hari senin. Gerbang sekolah sengaja dikunci. Mereka harus menunggu di luar sampai upacara selesai.
"Lo, Deloria kan?" tanya Rafanza mengawali percakapan.
"Iya," jawab Deloria.
Rafanza sangat bosan di luar gerbang menunggu upacara selesai. Rafanza melampiaskan kebosanannya kepada Deloria. "Boleh kenalan?" tanya Rafanza dengan santai.
"Boleh," jawab Deloria singkat.
"Cuek amat. Kenalin gue..." Perkenalan Rafanza terpotong oleh Deloria.
"Gue Deloria Fellycia dan lo Egi," ucap Deloria.
"Heh, nama gue bukan..." Seperti tadi, ucapannya terpotong lagi.
"O, iya, nama panggilan gue Adel," ujar Deloria sambil mengulurkan tangan.
Rafanza menerima uluran tangan Deloria. "Dengerin yang baik ya Del, nama gue Rafanza Egidius. Nah, nama panggilan gue Egi."
Deloria tidak bisa melepas genggaman tangannya. "Oke, sekarang lepasin tangan gue!" bentaknya.
"Nggak, nanti gue lepas, tapi lo harus jawab satu pertanyaan gue!" Rafanza mengajukan syarat.
"Sok kenal lu. Lepasin nggak?" Amarah Deloria memuncak. Rasanya ingin mematahkan tangan Rafanza.
"Kenapa lo suka bulak-balik masuk BK? Lo banyak masalah keluarga atau emang lo bandel?" tanya Rafanza sedikit serius.
"Gue harus ngaku bandel apa gimana?" tanya Deloria sangat pasrah.
"Oh, berarti lo bandel. Gue suka cewek bandel. Tukeran nomor WA kuy." Rafanza melepas uluran tangan Deloria. Rafanza menyodorkan ponselnya kepada Deloria. "Maaf, gue nggak bisa ngasih nomor WA ke sembarang orang," tolak Deloria. Deloria berlari memasuki sekolah karena gerbang telah dibuka.
"Gila tuh cewek. Nggak liat muka gue yang paling cakep ini. Liat aja nanti, lo bakal ngejar-ngejar gue. Gue juga ogah sama lu, najis!" teriak Rafanza kesal.
Deloria langsung menuju lapangan untuk mendapatkan hukuman. Tidak seperti Rafanza yang masuk kelas tanpa merasa bersalah. Pak Asep masuk ke dalam kelas 10 IPS 3. Tanpa basa-basi Pak Asep langsung menyeret Rafanza ke lapangan sekolah.
"Aduh, Pak sakit nih telinga saya. Gimana kalau telinga saya copot? Bapak mau ganti?" omel Rafanza.
"Kamu jangan banyak tanya. Kamu lupa kalau murid yang terlambat harus dihukum?" tanya Pak Asep.
"Saya tau Pak, saya cuma mau menyimpan tas saya ke kelas terus ke lapangan deh buat dihukum," jawab Rafanza.
"Jangan banyak alasan kamu!"
"Iya, maaf Pak."
Deloria sama sekali tidak peduli dengan Rafanza yang dimarahi Pak Asep. "Aduh, Pak, Adel kepanasan nih. Hukumannya mana Pak? Lama banget sih," cibir Deloria.
"Punya mulut tuh dijaga Adel! Kamu sedang berbicara sama guru." Emosi Pak Asep meningkat.
"Maaf."
Rafanza tertawa jahil melihat Deloria dimarahi oleh Pak Asep. Hukuman yang diterima oleh Deloria dan Rafanza adalah berdiri tegak dengan kedua tangan memegang telinga dan salah satu kaki diangkat selama 30 menit. Biasanya hukuman seperti itu hanya 15 menit, namun Pak Asep ingin kedua muridnya jera untuk melanggar aturan sekolah.
YOU ARE READING
DELORIA
Teen FictionDeloria Fellycia dan Rafanza Egidius adalah murid langganan ruang BK. Mereka berdua ke ruang BK bukan ada sesuatu masalah keluarga atau persahabatan, tetapi karena kenakalannya. Deloria berjanji tidak akan masuk ke ruang BK lagi setelah terjadi sesu...
