10

123 25 19
                                    

Sebuah meja persegi menjadi ruang diantara kami. Fokus semua orang hanya tertuju pada menu makanan yang tersedia direstoran ini. Hingga akhirnya mereka memutuskan apa yang akan mereka makan sebagai pengisi perut disiang ini.

Tidak begitu banyak yang dibicarakan, sedari tadi Mama Raihan hanya bertanya mengenai kuliah. Dia seperti tidak menganggap kehadiranku dan Raihan hanya menanggapi semuanya sekenanya saja. Sedangkan sang suami hanya sibuk memainkan ponselnya tanpa terlihat tertarik dengan bahasan antara ibu dan anak tersebut.

Hingga makanan tiba kami benar - benar tidak membahas apapun, hanya fokus terhadap yang tersaji dimeja makan. Terasa canggung memang, aku heran, "bagaimana mungkin Mama Raihan tidak merasakan betapa kecewanya Raihan padanya?"

"Oiya, kamu kuliah dimana?" Mama Raihan kini bertanya menatapku.

"Saya tidak kuliah, hanya mengelola bisnis kecil - kecilan."

"Ooo." Wajahnya terlihat tidak tertarik dengan apa yang aku bicarakan.

"Oiya Han, Gladis apa kabar? Rasanya Mama udah lama ga liat dia padahal dia baik banget, pintar dan berpendidikan."

Aku terdiam, terang sekali bahwa Mama Raihan tidak menyukaiku. Kalau saja aku tidak memiliki sopan santun, mungkin sekarang aku sudah mendebatnya. Aku hanya membiarkan karena aku menghargai posisinya sebagai Mama Raihan.

"Dia sudah menikah, sepertinya dia baik - baik saja," Raihan menjawab.

"Benarkah?" Mama Raihan kembali bertanya memastikan.

"Bahkan sama anak sendiri pun ga peduli, kenapa tiba - tiba peduli dengan kabar Gladis?" Raihan menatap mata Mamanya dengan tatapan yang tidak bersahabat.

Mamanya terdiam, wajahnya menunjukan rasa terluka atas ucapan Raihan. Namun dia juga tidak bisa menyangkalnya karena memang pada kenyataannya seperti itu.

"Han, kamu harus tahu Mama menyayangi kamu."

"Mama juga harus tahu, aku punya perasaan. Aku juga menyayangi Tiffany, jadi jangan sekali - kali lagi Mama merendahkannya seperti yang terjadi barusan." Raihan menatap Mamanya tidak bersahabat. Begitupula Mama Raihan malah beralih menatapku sinis.

"Benarkah dia menyayangiku?" Batinku.

"Aku kenyang, ayo pergi." Raihan menarik tanganku untuk berdiri.

Aku pun tidak memiliki pilihan lain selain mengikutinya untuk berdiri. Tentu saja aku menunduk terlebih dahulu pamitan terhadap kedua orangtuanya Raihan.

"Han, mama tau kamu masih menyukai Gladiskan?"

Pertanyaan itu mampu membuat Raihan membeku. Bukan hanya Mamanya yang menunggu jawaban, tetapi aku pun begitu.

Perlahan tubuhnya kembali berbalik menatap Mamanya.

"Ma, aku harap mama berhenti berpura - pura mengerti perasaanku. Sedangkan, mama sendiri yang sudah membuatku kehilangan Gladis. Kini, aku sudah menata kembali hatiku dan aku harap mama tidak berniat untuk kembali menghancurkannya."

Lagi, Mama Raihan tidak bisa membalas ucapan Raihan. Dia hanya membeku ditempatnya, sedangkan suaminya hanya terdiam menatap heran pada Raihan dan Mamanya. Rupanya dia sudah tidak sibuk dengan handphonenya lagi.

Raihan kemudian melangkah dengan langkah yang cepat, sedangkan tangannya tetap menggenggam tanganku. Ada amarah yang dia pendam didalam dirinya, aku bisa merasakan itu. Kakiku hanya bisa mengikuti kemana arah kakinya akan menuntun langkah kami.

Disebuah kursi dibawah pepohonan, Raihan menghentikan langkahnya dan mengajakku untuk duduk. Perlahan dia mengatur nafasnya untuk kembali normal. Aku hanya terdiam tanpa ada niatan untuk memulai pembicaraan. Mataku tak lepas memperhatikannya. Aku menunggunya memulai pembicaraan dan menjelaskan semuanya.

Moonglade [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang