Pertemuan pertama.

110 6 1
                                        

Aku selalu memperhatikan senja disini, ditempat ini, aku suka sekali tempat ini, sejuk, nyaman, disinilah aku biasa melepas penat sendiri.

Karna kesendirian membuatku mengerti bahwa tidak ada yang benar-benar bisa dibanggakan kecuali diri kita sendiri.

Dan ini adalah halaman pertama cerita cintaku.

Ternyata memang benar, cinta memang suka datang tiba-tiba, tanpa kusadari Tuhan telah menyusun skenario indah untukku.

Tak ku sangka orang yang tak pernah aku fikirkan untuk menjadi seorang yang spesial mendadak menjadi topik favorit untuk ku bicarakan dengan senja kala itu.

"Hei sedang apa? Ko sendirian, aku temani boleh? Jika tak keberatan itupun hahaha" Begitu ucapnya saat pertama kali bertemu.

Dina namanya, aku suka dia. Tatapannya, cara bicaranya.

Terkadang seseorang tidak pernah menyadari rasa cintanya, sebelum ia benar-benar berfikir bahwa ia sedang jatuh cinta.

Seperti embun yang tak perlu warna, agar daun bisa jatuh cinta.

Sekarang aku sudah tidak sendirian lagi menikmati senja di sore hari, semuanya berubah ketika aku bersamanya. Di depannya aku menjadi diriku sendiri.

Ternyata ini ya yang namanya jatuh cinta, ya Tuhan aku mohon semoga ia tetap bersamaku selamanya. Ia selalu membuatku tertawa dengan hal-hal konyol yang dilakukannya.

Sampai suatu ketika duniaku berubah menjadi kelam, seperti senja yang ditelan oleh gelapnya malam.

"Kamu kenapa? Apa yang terjadi? Kenapa kau tak cerita dari awal mengenai apa yang terjadi pada dirimu?" Tanya ku.

"Tak apa, aku hanya ingin kau ikut bahagia dengan ku. Apapun itu." Ucapnya.

Ternyata dibalik senyum indahnya yang kulihat setiap hari, ada kegelapan yang semakin lama menghabiskan sisa waktu hidupnya.

Dina kembali, namun ia membawa senja yang berbeda. Kali ini senja lebih indah dari biasanya walaupun ada kegelapan yang mengintai.

Aku tidak boleh sedih, seperih, seberat, sekelam, atau segelap apapun yang terjadi. Aku yakin aku pasti bisa menjalaninya.

Aku sudah melihat jutaan senja, tapi tak satupun dari mereka yang lebih indah daripada ketika kamu memelukku sebagai seseorang yang sederhana.

Din, kamu itu persis seperti senja, hanya datang pada waktu tertentu dan saat ia datang ia membawa keindahan.

Mengapa Tuhan menciptakan senja yang begitu indah, jika akhirnya akan ditelan oleh malam.

Tapi aku percaya, Tuhan merencanakan sesuatu yang indah dibalik tenggalamnya senja.

Selamat tinggal Dina, terimakasih.

Catatan HatiWhere stories live. Discover now