Ini cerita pertama yang aku tulis, semoga suka dan terbawa alurnya ya!
***
Kyra dan teman - temannya yang tergabung dalam ekskul kesenian tengah membahas mengenai acara yang sekitar 2 bulan lagi akan mereka adakan, dari beberapa jam yang lalu.
Untuk pertama kalinya acara ini digelar untuk umum, tahun lalu acara ini hanya diadakan untuk internal saja alias hanya untuk murid di sekolahnya saja. Mereka ingin membuat yang baru.
"Gimana perkembangan sponsor, Vi?" Tanya ketua pelaksana, Ardi.
Vivi yang ditanya pun segera menjawab, "Aman Di, pihak sponsor gak minta yang ribet - ribet kok. Ini gua lagi ngedata, bentar lagi selesai. Gua kirim lo okey." Ardi pun hanya mengangguk - anggukan kepalanya.
Kyra POV
Aku melirik Ardi yang tengah menanyakan perkembangan tiap - tiap divisi, aku semakin takut karena aku belum menyelesaikan tugas yang diberi oleh Ardi kemarin. Tanganku makin terasa dingin saja huhuhu.
Memang, tugasku tidak terlalu berat, tetapi aku cukup kewalahan karena divisi ku kekurangan anggota. Huft.
Aku memasuki divisi publikasi dan dokumentasi, sengaja hanya aku saja anggotanya karena untuk dokumentasi nanti aku akan dibantu oleh ekskul lain yang memang pro di bidang photography.
Tetap saja aku keteteran karena harus membuat poster, video, dan lain - lain sendirian. Alhasil poster yang harusnya jadi hari ini,belum aku selesaikan. Huft. Capek bund. Ini pun semua gara - gara Ardi yang seenaknya bikin aku kerja rodi! Mau protes pun rasanya gak sanggup karena memang kami semua kekurangan anggota.
Aku harus jujur atau bohong ya, takut banget dimarahin Ardi karena dia serem banget kalau marah. Bola matanya akan berubah warna menjadi merah, gigi taringnya yang biasanya tidak ia perlihatkan akan muncul! Bohong deng peace. Tapi dia beneran serem kalau marah. Ngeri deh pokoknya.
"Ra, gimana poster buat promosiin acara kita, udah jadi? Kalau udah langsung cetak aja. Biar langsung sebar. Minta uangnya ke Lyna." Celetuk Ardi yang bikin jantungku berasa mau copot. Waduh, yuk bisa yuk! Bisa bohongnya.
Akupun menatap Ardi, duh muka Ardi serem banget. Premanable gitu lah hehe canda Ardi.
Fix! Terpaksa harus bohong.
"Udah dong, Di. Kalem aja, pulang ini gua print langsung." Jawabku sambil mengacungkan jempol dan sedikit memaksakan senyuman.
Emang paling jago sigue dalam urusan bohong membohongi. Padahal ini jantung udah deg deg serr ga tenang takut keliatan bohong.
Ardi pun tersenyum kearahku, "Mantap, bagus Kyr. Gua percaya sama lo.” Tanggapan Ardi bikin aku menghembuskan nafas lega yang ternyata daritadi aku tahan. Ini Ardi yang gampang aku bohongin atau emang muka aku yang cantik parah tuh gak kelihatan bohongnya ya? Kayaknya emang karena aku cantik like bidadari.
“Okey, karena semua aman terkendali. Udah sore juga, gua rasa rapat kali ini cukup sampai sini. Kalian boleh pada bubar, makasih udah menyempatkan hadir. Buat rapat selanjutnya nanti gua kabarin, gua harap kalian semua kasih yang maksimal buat ini acara karena ini perdana dibuka untuk umum. Terimakasih juga buat semua yang udah berusaha maksimal. Assalamualaikum warrahmatullahi wabarakatuh." Tutup Ardi.
Yey, akhirnya selesai. Semua meninggalkan ruang rapat termasuk Nazwa, sahabatku yang memiliki panggilan seperti buah yang rasanya asam – asam seger sebelas dua belas lah sama mukanya yang kecut, yap! Nanas. Sedangkan aku, aku tidak langsung pulang karena harus menyelesaikan poster untuk promosi acara ini.
Setelah mendengarkan Nanas yang izin untuk pulang duluan karena sudah dijemput gebetannya, akupun segera mengeluarkan laptop dan mulai menyelesaikan poster karena hari ini harus pake banget dicetak.
16.55
Alhamdulillah bund, posternya udah jadi. Tinggal aku print, selesai deh. Akupun memasukan laptopku kedalam tas. Hari ini cuapek banget pokoknya sampe rumah aku mau tidur tenang.
Aku memutuskan untuk pulang jalan kaki karena sekalian ke fotocopyan. Plus hemat juga sih. Biasanya aku pulang naik ojek online, rumah ku deket tapi lumayan lah ongkosnya sepuluh ribu. Bisa buat telor gulung ehehe.
Sesampainya di fotocopyan, aku langsung meminta mas yang ada disitu untuk mencetak poster yang tadi sudah aku buat.
Aku menunggu sambil memperhatikan jalanan, sangat macet. Mungkin karena jam pulang kerja. Padat sekali.
‘Kriett’
Mendegar suara kursi disebelahku bergeser, membuat kepalaku reflek menengok.
Haa.... Besar banget badannya! Asli mirip hulk. Gede banget woi. Kira - kira tingginya berapa ya?
Kursi disampingku ini diisi oleh lelaki yang sangat besar, bahunya terlihat sangat lebar. Lalu aku melirik kearah kakinya, kakinya pun sangat jenjang! Iri sekali. Sepertinya tingginya sekitar 180 cm atau lebih?
Oh! Jangan lupakan wajah babyface nya itu, tidak cocok sekali dengan badannya yang seperti hulk. Walaupun hitam tapi keliatan bersih gitu. Paham gak sih? Malika gitu deh hitam manyiss. Tipeku banget. Gregettttt. Umh, juga tangannya...
Author POV
Kyra terus memperhatikan lelaki disebelahnya, melirik dari atas ke bawah lalu dari bawah ke atas. Terpesona sekaligus terkejut.
Ketika mata Kyra melirik kearah kursi plastik yang lelaki tersebut duduki, Kyra malah membayangkan jika lelaki itu terjatuh karena kursinya tidak dapat menopang tubuh besarnya. Kyra terkekeh dengan imajinasinya tersebut.
Mendengar gadis yang sedari tadi memperhatikannya, tertawa sendiri membuat lelaki tersebut tersenyum geli dan menyapanya.
"Hai." Sapa lelaki tersebut. Kyra yang tiba - tiba disapa pun terkaget langsung menundukan kepalanya sepertinya Kyra malu karena terciduk memperhatikan. Wajahnya sudah merah padam. Lelaki tersebut terkekeh melihat reaksi Kyra, lelaki itu menyodorkan tangan kanannya kehadapan Kyra.
"Kenalin gua Aksa, nama lo siapa? Anak sma 30 ya?" Tanya lelaki tersebut yang ternyata bernama Aksa. Akhirnya Kyra mendongkakan kepalanya, tersenyum kecil dan menyambut jabatan tangan Aksa. Merasa senang karena diajak kenalan.
"Gua Kyra, iya 30. Kok tau sih? Jangan bilang lo stalkerin gua." Jawab Kyra bercanda sambil melepaskan jabatan tangan mereka.
"Yeh, enak aja. Seragam lo, bet nya sman 30. Yakali ganteng gini, jadi stalker." Kyra yang mendengar jawaban Aksa tertawa kencang,
"AHAHAHA, pede banget sih lo. Ganteng ya ganteng huek, tuh lemak sedot dulu sana." timpal Kyra berpura - pura ingin muntah sambil menoel perut Aksa. Gak ada akhlak banget Kyra. Sebenarnya ini modus Kyra sih biar bisa pegang perut Aksa. Ck!
Kyra pun semakin terkejut ingin pingsan karena sumpah demi apapun!! Perut Aksa terasa keras!
"eh sorry, gua gak maksud body swimming hehehe. Duh, maaf banget ya. Gua kalo ngomong emang ga suka dipikir - pikir dulu. Maaf banget ih." Kyra meminta maaf dengan menambahkan sedikit lelucon receh, disertai ekspresi wajah yang (dibuat - buat) terlihat tidak enak.
Aksa hanya diam menatap Kyra dengan tatapan yang tak bisa diartikan.
Kyra pun semakin tak enak hati lalu Kyra menundukan kepalanya sambil menampar - nampar pelan bibirnya.
"Bodoh ih, bodoh banget. Gara – gara Bu Astrid nih nurunin kebiasaan ceplas ceplos ke gue jadi ginikan. Tapi tadi perutnya... Ga ga ga mesum banget sih gua. Asli! Pasti gara - gara si Nanas otak gua konslet." Gumam Kyra yang masih bisa Aksa dengar.
Melihat tingkah konyol Kyra, Aksa tidak bisa menyembunyikan tawanya.
"Hahaha, santai aja Ra. Tadi gua cuman kaget aja bisa - bisanya lu ngeh sama lemak gua, cewek lain mana merhatiin perut gua. Mereka kan langsung terpesona sama muka gans gua." Ucap Aksa sebari menepuk - nepuk perutnya dan menampilkan senyuman gantengnya dan jangan lupakan alisnya yang ia naik turunkan.
Kyra pun mendongkak dan melihat muka tengil Aksa yang sedang cengengsan.
"Najis Sa, muka dikontrol dong. Senyumnya kayak kuda mesum." Kyra pun tertawa setelah mengatakan itu, karena melihat Aksa langsung mengubah raut wajahnya menjadi cemberut.
"Tau ah, gua marah beneran." kata Aksa sambil memalingkan muka.
Kyra mengabaikan Aksa karena Kyra melihat posternya telah dikemas oleh mas fotocopy. Kyra berdiri dan langsung membayarnya.
Kyra menghampiri Aksa.
"Dih, emang gua peduli? Ga eyy wle." Kyra memeletkan lidahnya di depan wajah Aksa dan segera kabur dari hadapan Aksa yang tengah kaget karena muka Kyra sangat dekat.
"See you, Aksa!" Teriakan gadis itu. Lalu membalikan badan dan berjalan pulang ke rumahnya.
Aksa menatap lekat punggung Kyra yang lambat laun menghilang dari pandanganya. “Nice to meet you, Kyra.” Ucapnya sambil tersenyum lebar. Merasa sangat beruntung dan bersyukur hari ini karena bertemu gadis unik seperti Kyra, otaknya yang memiliki banyak beban menjadi sedikit lebih relax.
Sore itu menjadi awal pertemuan mereka. Dan Aksa harap akan segera terjadi pertemuan - pertemuan menyenangkan berikutnya. Yah, semoga.
****
KAMU SEDANG MEMBACA
A Relationship Goals
Teen FictionKyra Ayunindya, gadis beruntung karena mendapatkan pacar sangat sabar dan penyayang. Aksa Rafisqy, siswa kelas 12. Tidak hanya direpotkan dengan ujian, Aksa juga direpotkan dengan si tukang ngambek yang sialannya sangat ia sayangi. Orang - orang m...
