1

36 12 0
                                        

Setiap pagi, sebelum matahari terbit, Amar, bersama ibu dan ayahnya, mulai bekerja di sawah. Ketika itu adalah musim tanam, yang menuntut kerja keras. Lumpur menempel di kaki mereka bagaikan lem dan di setiap benih harus di tanam dengan tangan kendati menyakitkan. Ketika matahari bersinar dengan teriknya di atas kepala mereka, lutut Amar bergetar akibat kelelahan. Dia membenci perasaan yang ditimbulkan oleh lapisan lumpur pekat dan basah di tangan dan wajahnya. Dan berulang kali, dia ingin menghentikan pekerjaannya lantaran letih dan kesal. Tetapi, ketika melihat orang tuanya bekerja dengan sabar, dengan punggung membungkuk, Amar menelan keluh kesahnya dan melanjutkan pekerjaannya. Setelah matahari mulai terbenam, orangtua Amar menyuruhnya pulang ke rumah untuk menyiapkan makan malam dan beristirahat, sementara mereka terus membanting tulang dikubangan lumpur yang pekat. Ibu dan ayahnya baru pulang setelah matahari sepenuhnya menghilang dari langit.

Di rumah, Amar membasuh wajah, tangan, dan kakinya, meskipun seluruh air di dalam ember telah berubah warna menjadi cokelat, dia masih merasa kotor akibat lapisan lumpur di badannya. Lengan dan kakinya yang pegal membuatnya merasa seperti seekor kepiting yang merayap di atas batu.

Ketika memandang bayangannya di permukaan air yang keruh, kernyitan Ibu tampak diwajahnya.

"Ibu emang bener" pikir Amar. "Miskin banget kita. Setiap hari, ayah sama ibu bekerja dan terus bekerja, dan kita tetap gak punya apa-apa. Seandainya aku bisa mengubah nasib kita.

Seketika itu juga, Amar menuju kamarnya untuk mengganti pakaian yang kotor tadi karena terkena lumpur dan langsung memasak makanan untuk mereka makan bertiga setelah selesai masak amar berbaring di kasur sambil memeluk gulingnya.

Sepulangnya dari sawah ayah dan ibu membasuh wajah, tangan, dan kakinya di air keruh bekas Amar membersikan dirinya tadi.

Ibu yang mengetuk pintu kamar amar dan langsung membukanya "amar ayo bangun, kita makan yang tadi kamu masak" ibu langsung tersenyum saat amar membuka matanya

Ibu yang langsung mengganti pakaiannya dan menyiapkan pakaian ganti untuk ayah dan langsung bergegas ke meja makan untuk makan malam bersama.

Ketika ayah masuk ke kamar dan berbaring karena kelelahan, ibu memijat kaki ayah dengan sekuat tenaganya sampai ayahpun tertidur pulas, ibu yang mengetahui ayah sudah tertidur ia langsung menjatuhkan badannya perlahan karena sudah terlalu lelah.

Setelah selesai makan amar kembali ke kamarnya melewati kamar ayah dan ibunya, amar terus berjalan dilantai kayu yang bersuara "krakkk" ya sebagian kayunya mulai rapuh, dengan pelan pelan amar berjalan agar ayah dan ibunya tidak bangun

Amar merebahkan ke kasurnya dan memeluk guling nya dan bantal kasar yang keras ketika kepala amar bersentuhan

"Argghh sakit banget" mengerang amar sambil memegang kepalanya

"Sampai kapan aku kaya gini terus? Melihat ayah sama ibu terus bekerja dari siang sampai petang tapi tidak menghasilkan banyak uang" gumamnya dalam lamunan

"Apa aku harus pergi mencari kerja? Aku sudah lulus SMA mungkin dari ijazah SMA aku bisa mendapatkan pekerjaan"

"Ahhh, apa ayah sama ibu ngizinin aku buat pergi dari rumah buat mencari kerja? Sedangkan di desa ini semuanya hanyalah petani seperti ayah dan ibu" fikir amar didalam lamunannya

Lalu amar melihat jam dinding sudah menunjukan pukul 20.00 lalu dia menarik sarung tipis menutupi seluruh tubuhnya agar tidak kedinginan.

Jam menunjukkan pukul 01.30 amar bangun dari tempat tidurnya lalu dia pergi ke ruang makan dengan hati hati dia melangkah dilantai kayunya yang berisik agar tidak membangunkan ayah dan ibunya, amar mengambil segelas air dan meminumnya lalu duduk di kursi kayunya dan angin yang berhembus dari celah celah jendelanya yang membuat amar duduk dalam lamunan.

"Apa aku harus pergi sekarang? tanpa sepengetahuan ayah dan ibu?" fikirnya sambil memegang gelas diatas meja

"Yaaa, aku harus pergi sekarang!" Ucap amar yang langsung bangkit dari kursi kayunya menuju kamarnya tidak lupa amar selalu berhati hati agar langkah kakinya di lantai kayu tidak bersuara nyaring agar tidak membangunkan ayah ibunya.

Amar mencari berkas berkas yang didalamnya ada ijazah SMA nya dan persyaratan masuk kerja yang dulu ia buat untuk masuk kerja tapi dilarang oleh ayahnya. Setelah semua terkumpul amar mengemas pakaiannya serta beberapa roti yang dibuat ibunya "hahh roti? Yaa mungkin ibu membuatkannya untukku semalam setelah aku tertidur, karena aku selalu menginginkan roti, aku akan membawanya dan menyisakannya untuk ayah dan ibu"

Amar merapihkan tempat tidurnya dan berjalan keluar kamarnya menuju pintu, amar berjalan mengendap endap bagaikan maling memangsa berlian dirumah saudagar kaya dan tidak lupa amar menaruh kertas diatas meja makan kayunya, "yaa ini bukan rumah saudagar kaya tapi ini rumah petani tua dengan istri cantik dan anak nya yang penurut dan ganteng" gumamnya sambil senyum senyum berjalan keluar menjauh dari rumahnya.

_ _ _ _ _

Maaf ya guys ceritanya baru sedikit🙏
Jangan lupa vote yaa hehe.
BTW jangan lupa follow Instagram aku ya IG: @ayusuffmhmd_

Sorry kalau ceritanya gak menarik, soalnya ini first time aku bikin cerita kaya gini..

Tolong support aku yah caranya follow dan vote cerita ini😊

Thank you ♥️

THIS IS DESTINYHistorias para obsesionarse. Descúbrelo ahora