1. Prolog

863 27 3
                                        

Namaku Arsyila Az-zahra biasa dipanggil Syhila. Sekarang aku berumur 17 tahun. Aku bersekolah di SMA Rajawali salah satu sekolah swasta di Jakarta.

Di sekolah aku terkenal dengan sikap yang "bar-bar." Tapi menurut aku sikap ku masih wajar. Aku sering melakukan berbagai pelanggaran di sekolah seperti membolos, menyontek, dll. Tapi inilah cara gue menikmati masa SMA.

......................

Sampai pada suatu ketika, ayahku dipanggil ke sekolah. Dan ketika aku pulang dari sekolah, sampai rumah aku langsung diberi berbagai pertanyaan oleh ayah.

"Assalamualaikum,Syhila pulang," ucapku

Namun aku heran kenapa tidak ada yang menjawab salam. Dan ketika aku masuk ternyata ada ayah sedang duduk diruang tamu, dan sepertinya sedang menunggu kedatanganku. Wajahnya sangat menyeramkan.

" Waalaikum salam " jawab ayah.

"Syilaa!! ngapain aja kamu di sekolah selama ini hahh?? sampai kamu harus dikeluarkan dari sekolah seperti ini!!! Bikin malu keluarga saja!! " ucapa ayah dengan keras.

"Apa??!! Syila dikeluarkan dari sekolah??? " jawabku kaget.

"Ya!! kamu dikeluarkan dari sekolah karema sudah terlalu sering membolos."

"hiks.. hiks.. maafin Syila ayah... Syila sangat menyesal. Syila tidak menyangka kalau perbuatan Syila sangat fatal.. " aku pun berlutut di depan ayah dan meminta maaf.

"Ayah tau Syila, semenjak ibumu meninggal kamu mungkin kehilangan kasih sayang dan kurang perhatian dari ayah. Sebenarnya ini bukan sepenuhnya salah kamu, ayah juga salah dalam hal ini" ucap ayah sambil memelukku.

"Maafkan ayah ya, kalau selama ini ayah belum bisa jadi ayah yang baik buat kamu" lanjut ayah.

"Tidak ayah.. ayah adalah ayah terbaik di dunia, Syila sayang ayah" jawabku.

" O iya Syila, karena kamu sudah dikeluarkan dari sekolah, dan mulai semester baru ini kamu akan ayah pindahkan ke rumah kakek dan nenek. Ayah sudah carikan sekolah baru disana" Kata ayah.

"Apa?? Tidak ayah, aku tidak mau tinggal degan kakek dan nenek,
Syila tidak sanggup kalau harus tinggal di desa."

"Kamu harus mau Syila, ini yang tebaik buat kamu. Ayah merasa tidak bisa merawat dan mengurus kamu dengan baik tanpa ibumu"

"Tidak ayah,, ayah sudah memberikan yang terbaik buat Syila, Syila tidak mau jauh dari ayah"

"Syilaa kalau ayah sudah memberikan yang terbaik buat kamu, kamu tidak mungkin seperti ini,"

"Ayah plissss... Syila gak mau tinggal di desa yah, Syila mau disini aja... Syila janji akan memperbaiki sikap Syila"

"Tidak Syila, keputusan ayah sudah bulat, besok pagi kita langsung berangat kerumah kakek dan nenek"

"Tapi yah.... "

"Tidak ada tapi-tapian sekarang kamu kemasi barang-barang mu"

"Baik ayah"

Aku tidak bisa lagi menolak keinginan ayah, dia sangat keras kepala dan tidak ada yang bisa menolak keinginannya kecuali ibu. Aku pun bergegas ke kamar dan mengemas barang-barangku.

Keesokan paginya ayah sudah siap untuk mengantarku ke bandara. Aku hanya diantar sampai bandara, karena ayah bilang dia sedang banyak pekerjaan yang harus diselesaikan.

D

i bandara....

"Kamu baik-baik disana ya, jangan merepotkan kakek dan nenek" ucap ayah sambil memelukku.

"Iya yah, ayah juga baik-baik disini ya jangan kecapena dan jaga kesehatan ayah"

"Pasti sayang, o iya nanti setelah tiba di bandara Yogyakarta kamu langsung ke stasiun ya, itu ayah sudah belikan tiketnya. Nanti kakek menunggumu di stasiun. Dan membawamu ke desa"

"Iya yah.., ya sudah Syila pamit Assalamualaikum"

"Waalaikum salam"

Setelah sampai di Yogyakarta aku langsung menuju stasiun dan melanjutkan perjalanan.

Di stasiun...

Setibanya di stasiun, aku langsung melihat kakek yang sedang menungguku.

"Kakek!!" aku memanggilnya

"Syila!!!" jawab kakek sembari memelukku.

"Kakek apa kabar Syila kangen"

"Kakek baik-baik saja, gimana kabarmu dan ayahmu"

"Aku baik kakek, ayah juga baik"

"Syukurlah, ya sudah ayo kita pulang nenek pasti sudah menunggu"

Aku pun pulang naik motor dengan kakek, diperjalanan aku heran kenapa semua orang melihatku dengan pandangan sinis.

Di rumah kakek dan nenek....

Sampai dirumah aku langsung disambut hangat oleh nenek, sikapmya padaku membuat aku merasa ada ibu disisiku.

"Assalamualaikum" ucapku dan kakek bersamaan.

"Waalaikum salam, Masya Allah Syilaa!! Kamu sudah besar nak, kamu mirip sekali dengan ibumu, cantik"ucap nenek sambil memelukku.

"Ah nenek bisa saja, nenek juga cantik"

"Jadi kakek gak dipeluk nihh" kata kakek sambil menampilkan muka bebeknya. Kami pun tertawa terbahak-bahak.

Rasanya sudah lama sekali aku tidak merasakan kehangatan keluarga seperti ini.

"Ayo sekarang kita masuk dan makan siang, kamu pasti belum makan kan Syila" kata kakek

"Belum kek"

Kami pun makan bersama, ternyata ayah benar, ayah tidak bisa memberiku kasih sayang yang seperti kakek dan nenek lakukan padaku. Aku sangat bahagia disini walaupun kehidupan disini sangat jauh berbeda dengan kehidupanku di Jakarta.



AsyhilaWhere stories live. Discover now