Prolog

236 34 56
                                        

"Menjadikannya sebagai kekasihku atau menjadikan diriku sebagai kekasihnya?"

°°°

Happy Reading!


"Lo mau jadi pacar gue, Kak?!"

Sorak-sorai yang tadinya bergemuruh menghiasi kantin kini lenyap tertelan sejak Sara dengan lantangnya mengucapkan itu.

Semua mulut terbuka lebar dengan ekspresi yang begitu mengejutkan melihat murid yang dikenal tak pernah bicara sama sekali itu kini malah mengeluarkan suara yang begitu lantang, dan yang lebih mengejutkan adalah ia meminta Awan-badboy  SMA Darga-menjadi pacarnya.

Mulut Sara terkatup sendirinya saat Awan malah menyunginggakan senyum yang menurutnya sangat manis hingga dirinya terhipnotis untuk sesaat, melupakan bahwa kini tubuhnya telah terbasahi oleh air berwana putih pekat. Awan menyiram milk white milik Sara ke tubuh perempuan itu tanpa dosa.

Kini tak hanya milk white yang membasahi baju putihnya juga banyak air berwarna lainnya ikut tercampur memenuhi baju Sara. Bukan hal yang tak biasa, anak-anak SMA Darga akan menjadikan buli sebagai hal yang lumrah, mereka dengan sengaja melempari Sara dengan air serta-merta makanan yang sempat mereka makan namun kehilangan nafsu makan akibat drama konyol Sara, tak lupa ucapan pedas serta olok-olokan juga mengiringi pembuangan makanan itu. Menyedihkan bukan?

Di sisi lain Awan memperhatikan raut kesedihan yang muncul setelah teman-temannya melakukan hal yang sama pada Sara.

Garis tipis tergambar jelas pada wajah Awan, ia suka, dan tidak ada salahnya mewujudkan kemauannya.

Menjadikan dirinya sebagai kekasih orang lain.

Ingat!

Bukan menjadikan orang lain sebagai kekasihnya.

°°°

"Bodoh! Bodoh!" Sara menendang-nendang meja setibanya di rumah.

"Apa-apaan sih lo pake nendang meja segala?!" ucap Rania, saudara kandung Sara tertua.

"Gue bukan lagi gadis pendiam nan lugu seperti yang mereka tahu, dan berikutnya mungkin mereka akan tahu tentang kehidupan gue yang sebenarnya." Sara tersenyum pahit.

" Lo bodoh!" sargah Rania geram. Sebab adiknya ini selalu saja ceroboh dalam melakukan sesuatu, tak pernah memikirkan akibat yang didapat kedepannya. "Ini pasti gara-gara cowok itu. Iya kan?"

"Diam lo!"

"Lo terlalu terobsesi sama cowok yang gak ada apa-apanya itu Ra, sampe lo lupa ada orang lain yang begitu menyayangi lo bahkan setelah dia tahu tentang kehidupan lo yang sebenarnya."

"Lo gak tahu apa-apa Rania. Gua berhak nentuin hidup gue."

"Yang jelas gue sebagai kakak udah memperingati lo dari jauh-jauh. Dan lo memang anak yang membangkang banget!"

"Diam kamu!" suara itu terdengar mengusik indera pendengaran keduanya. Ruangan yang tadinya riuh akibat aksi adu mulut kini hening. Oksigen hilang entah kemana. Kedua kakak-beradik itu kini saling adu tatap beberapa saat hingga akhirnya salah satu dari keduanya mengambil sesuatu yang berisi cairan lalu mendekatkannya ke tubuh perempuan paruh baya yang berada di antara mereka, sedetik setelahnya tubuh itu terhuyung, untung saja jatuh pada dekapan Rania.

Rania menatap Sara tepat pada manik hitam tersebut.

"Terpaksa," ucap Sara gemetar.

"Kamu yang membangkang, yang gak mau mendengarkan penjabaranku Satyo." hanya itu kalimat jelas yang mampu didengar oleh keduanya dari Risa, Ibu kandung dari kakak-beradik tersebut, setelahnya suara itu kian meredam akibat hilangnya kesadaran Risa.

Kini keheningan kembali menyeruak setelah keduanya berhasil membaringkan tubuh Risa, hingga salah satu dari mereka kembali bersuara.

"Lo dan gue sama-sama munafik untuk terlihat bahagia, untuk terlihat baik-baik saja padahal kita gak lebih dari sebuah kaca yang sudah usang bahkan retak." tutur Rania, bibirnya bergetar hebat saat meluapkan amarahnya dengan kalimat yang baru saja dia ucap.

Manusiawi jika manusia ingin terlihat baik-baik saja disaat pedang menghujam bertubi-tubi dan batu terlempar melukai begitu saja padahal mereka kerap menangis kala malam menemani dan berpura-pura bahagia saat siang menghampiri.

°°°

Apa kabar semuanya?
Semoga sehat selalu. (Amin)

Bagaimana dengan cerita ini menurut kalian?
Kalo ada yang bilang cerita ini biasa (klise), gak bagus, atau segala macam yang berbau negatif aku hargai karena aku juga sadar akan kekuranganku, dan artinya kalian jauh lebih baik, boleh dong minta saran dan komentarnya. Saran dan komentar dari kalian begitu berguna untuk cerita ini kedepannya.

Dan untuk yang memberikan pujian pada cerita ini. Aku berterimakasih. Aku tak sehebat kalian yang memuji ceritaku. Aku akui kalian lebih hebat karena mau meluangkan waktu membaca ceritaku. Jangan lupa vote dan komennya. I love you.

Kalo ada typo maaf yha, hehe.

Terimakasih.

Du du ba bay.

Awan BiruWhere stories live. Discover now