PROLOG

154 17 25
                                        

Malam itu, hujan turun deras.

Wanita paruh baya mendaratkan tamparannya ke arah pria di hadapannya. Mereka terlibat pertengkaran yang hebat. Wanita itu sangat marah. Pria itu juga tak kalah marah. Terdengar kalimat makian yang semakin menunjukkan kalau mereka saling membenci. Namun tak jauh dari tempat mereka bertengkar, terlihat seorang gadis kecil berumur tujuh tahun dengan memakai baju piyama berwarna putih. Gadis itu duduk di depan pintu kamarnya sambil menangis sesenggukan. Wajah gadis itu sangat ketakutan.

Pria dan wanita paruh baya itu adalah orangtua dari gadis kecil itu. Gadis itu tidak tahu, apa yang sudah membuat dua orang dewasa itu bertengkar. Tapi suara teriakan itu cukup membuatnya tidak tenang.

Isi kepala gadis itu terasa penuh dengan suara tangisan dan makian dari orangtuanya, sehingga tidak terdengar oleh gadis itu suara televisi yang dibiarkan menyala dengan layar seperti dipenuhi semut. Tidak pula terdengar olehnya suara hujan yang turun dengan deras malam ini. Satu-satunya yang terdengar oleh gadis itu hanya suara kebencian.

Wanita paruh baya itu kemudian berlari ke arah dapur. Kedua tangannya sibuk mencari benda yang ia inginkan. Namun setelah wanita itu mendapatkannya, betapa terkejutnya gadis itu. Di genggaman wanita itu terdapat sebilah pisau.

Dengan wajah yang sangat marah, wanita itu menghampiri pria yang sudah melihatnya dengan ketakutan. Sekarang jarak mereka berdua sangat dekat. Mata wanita itu berkaca-kaca, tapi juga menyiratkan kebencian. Mata yang sedang menangis itu penuh dengan dendam.

Wanita itu mengacungkan pisaunya tinggi-tinggi dan segera menghunuskannya ke arah jantung pria paruh baya itu. Wanita gila itu sangat beringas sehingga sanggup menghunuskan pisaunya berkali-kali ke jantung pria itu.

Semburat merah keluar dari jantung sang Ayah sehingga mengenai baju sang Ibu dan gadis itu. Sesekali gadis itu mendatangi sang Ibu untuk menghentikan semua ini, tapi sang Ibu tidak ingin mendengarkan perkataan sang anak. Wanita itu sudah dikuasai rasa dendam, tampak dari sorotan matanya yang menatap nyalang. Mata yang ingin bicara kalau saat ini hatinya sedang hancur akibat ulah pria yang sudah mati di depannya itu.

Setelah wanita itu membunuh sang suami, ekspresi gadis kecil itu perlahan berubah. Gadis itu memekik, mencoba menghentikan tindakan selanjutnya dari wanita yang selama ini ia panggil Ibu. Gadis itu sudah tidak menangis lagi. Sebagai gantinya, gadis itu terbelalak sambil berusaha mencegah ibunya. Namun, selisih waktu untuk menyelamatkan sang Ibu sedikit. Gadis itu tidak berhasil. Sang Ibu yang telah berhasil membunuh dirinya sendiri. Waktu telah dihentikan, entah sejak kapan.

Gadis kecil yang melihat pembunuhan sang Ayah dan bunuh diri sang Ibu dalam waktu yang bersamaan dan singkat, hanya bisa terdiam memaku.

Malam itu di tengah hujan turun dengan deras, tidak ada seorang pun yang bisa mendengar suara tangisan gadis itu. Yang tertangkap oleh gadis itu, hanya cahaya lampu yang sangat terang serta warna merah yang membasahi baju piyama putih kesayangannya.

Gadis itu tidak bisa bergerak pergi. Semuanya sudah terekam sangat jelas. Gadis itu menatap nanar ke arah lampu yang tampak semakin kabur, yang pada akhirnya terlihat gelap. Gadis itu jatuh pingsan.

Hari itu, ayah dan ibunya tewas di hadapan dirinya sendiri. Juga hari itu, kali terakhirnya ia hidup dengan baik.

🕯️

Assalamu'alaikum, teman-teman. Aku datang dengan cerita baru.

Sebelum masuk ke cerita ini lebih dalam, aku mau ngucapin terimakasih banyak kepada :

1. Allah SWT. yang telah memberikan ide-ide yang nggak terduga untuk aku. Tanpa Allah, nggak bakalan ada cerita ini dipublikasikan.

2. Orang tua aku yang selalu mendukung apapun yang aku lakukan (asal itu positif.) Terimakasih dan aku cinta kalian! (sambil teriak.)

3. Para pembaca budiman yang udah baca, follow (kalo udah. Hehehe) dan komen cerita aku. Aku sangat berterimakasih.

Intinya, terimakasih banyak.

Selamat membaca.

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: Jan 29, 2020 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

SUMMON [HIATUS]Where stories live. Discover now