Mendapatkan seorang April sebagai pacar, adalah hal luar biasa bagi Rian. Seluar biasa usahanya untuk memenangkan hati keluarganya. Meski begitu, Rian tidak mengeluh.
Sejauh ini, Rian bertahan dari segala bentuk penyiksaan yang tidak manusiawi. Dala...
Riandy Guntur Ferdinan, lelaki usia dua puluh lima tahun itu tidak pernah menyangka kehidupannya akan se-menakjubkan ini. Usai dirinya mengenal Raditha Aprilia Azhair. Seorang gadis SMA yang akan berusia tujuh belas tahun beberapa bulan lagi.
Sejak awal Rian tahu, jika dunia yang ditawarkan oleh April penuh dengan kejutan. Dan kini, setelah hampir dua bulan tinggal dirumah gadis itu, Rian sudah terbiasa dengan kejutan. Rasanya tak sama dengan kejutan acara ulang tahun. Beda juga ketika kita dikejutkan dengan tiba-tiba.
Kejutan itu, menciptakan rasa kagum. Menimbulkan adrenalin. Kadang juga membuat seorang Rian berpikir kalau semua yang dialaminya ini tidak bisa dijelaskan dengan logis. Rasanya rumit, tapi Rian menikmatinya karena ia bersama dengan April.
Menjadikan April sebagai kekasihnya, sudah ia lakukan. Tapi mendapatkan izin dari keluarganya sedang ia perjuangkan. Dan itu sudah dilakukan olehnya selama dua bulan ini. Seperti sekarang ini misalnya.
Bugh bugh brakk
"Lima menit delapan detik. Serius, Yan?" Prasetya Argio Azhair, bertanya tak percaya seraya berkacak pinggang. Matanya menatap tubuh Rian yang sudah tergeletak tak berdaya dilapangan hijau green area.
Pras mengambil handuk untuk mengelap keringatnya. "Gue enggak minta lo menang. Gue cuma minta lo bertahan sepuluh menit. Enggak lama, Yan."
Rian perlahan bangun. Mengambil es yang sudah dibalut kain untuk ditempelkan diwajahnya yang penuh luka. Es ini selalu ada setiap dirinya menjalani latihan fisik. Mungkin mereka tahu ia akan terluka. Bukankah mereka ini sangat perhatian?
"Nyatanya, itu enggak semudah yang Lo kira."
"Gue ambil empat menit lima puluh dua detik sisanya. Tapi latihannya hari ini selesai."
Suara itu membuat Rian dan Pras menoleh. April berjalan dengan tenang kearah mereka. Sekali lagi, April meringis melihat kondisi Rian. Tak pernah berubah bahkan setelah dua bulan. Apa sih yang lelaki itu pelajari selama dua bulan ini? Kenapa selalu berakhir seperti ini.
"Pril-"
"Oke," Pras memotong ucapan Rian. Ia melemparkan handuk ditangannya dan bersiap.
April juga mengambil posisi. Setelah dua bulan memakai gips dan fisioterapi pasca kecelakaan, kondisi tubuhnya sudah pulih. Bahkan, ia sudah mulai berlatih sejak seminggu yang lalu.
Rian ingin melarang karena khawatir dengan kondisi April yang baru sembuh. Tapi apa yang bisa dilakukannya. Maka ia hanya bisa duduk sambil memperhatikan kakak beradik itu berduel.
Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.