Prolog

18 5 0
                                        

Di sebuah tempat yang sempit tanpa seberkas cahaya, sebuah tubuh dengan baju putih polos yang tipis sedang meringkuk layaknya bayi. Meskipun matanya terbuka yang dia lihat hanyalah kegelapan.

Kesepian adalah temannya, gelap adalah selimut, dan airmata adalah musuh. Dia tidak pernah menangis apapun keadaannya. Menangis sama dengan lemah, dia benci akan dinilai seperti itu oleh orang lain.

Di hidupnya semua selalu benar meski yang dilakukannya adalah sebuah kesalahan. Tidak ada baik maupun buruk baginya.

Kedua tangannya mengepal erat, sorot matanya menampilkan sebuah kebencian yang teramat sangat, namun bibirnya menyunggingkan senyum. Perlahan dia terkekeh, tangannya mencengkeram erat kepalanya yang terasa sangat pusing. Mimik wajahnya berganti dengan kesakitan, lalu berteriak kencang.

"Arrrrggggghhh"

Di hati kecilnya dia hanya ingin udara segar.

TrickyWhere stories live. Discover now