The Reason
Malam itu aku melihat ayah dan ibuku bertengkar hebat di ruang keluarga. Luapan emosi mereka tumpahkan menjadi kata-kata verbal yang menyakiti hati satu sama lain. Ayah dan ibu saling memaki dan menyalahkan, tanpa mempedulikan kak Shinta –kakakku yang sedang menangis terisak di tengah pertikaian itu. Ingin rasanya aku menggenggam tangan kak Shinta dan membawanya kabur dari sana. Tapi apalah dayaku? Aku hanya bocah ingusan yang terlalu takut untuk melangkah. Aku meremas baju yang ku pakai, mencoba menahan segala emosi yang membuncah. Perlahan air mata mulai turun membasahi pipiku, dan tanpa suara aku hanya bisa mengintip dari balik pintu kamar yang sedikit terbuka.
"Ibu macam apa kau ini?! Mengurus anak saja tidak bisa! Punya anak bisanya hanya menambah aib keluarga! Mau ditaruh dimana mukaku di depan para kolega!" Ayah dengan muka merahnya menyalahkan ibu. Matanya menyipit tajam, terlihat sekali kerutan marah di wajahnya yang tegas.
"Enak saja menyalahkanku, kau pikir mengurus anak gampang! Kau sendiri malah enak-enakan kencan dengan wanita lain! Kau pikir aku tidak tahu kelakuan bejatmu di luar sana!" Ibu yang tidak terima disalahkan begitu saja oleh ayah kemudian membalasnya.
Jujur saja baru pertama kali ini aku melihat ibu semarah ini. Biasanya beliau adalah orang yang lembut dan penurut. Tidak pernah sekalipun membantah ucapan ayah.
"Jangan asal bicara kau! Aku bekerja setiap hari bahkan lembur untuk menghidupi keluarga kita, kau malah menuduhku selingkuh! Apa kau waras?!" Ayah mengelak dari tuduhan yang dilontarkan oleh ibu. Ayah menatap ibu penuh dengan intimidasi, lalu mendengus sebal kearahnya.
"Tidak usah mangkir! Aku melihat dengan mata kepalaku sendiri!" Ibu tetap bersikukuh menuduh jika ayah berselingkuh darinya.
"Mana buktinya? Kau hanya mencari-cari alasan saja kan untuk membela anakmu yang tidak berguna itu!" Ayah bersikukuh bahwa dirinya tidak berselingkuh di belakang ibu. Beliau malah menunjuk kak Shinta seakan-akan pernyataan ibu hanya untuk menutupi kesalahan yang kak Shinta buat.
Aku memandang kedua orangtuaku dari balik pintu dengan ketakutan. Entah kenapa pertengkaran kedua orangtuaku yang semula membahas tentang kak Shinta yang hamil diluar nikah, justru merembet ke masalah pribadi mereka.
Dari celah kecil pintu, aku melihat ibu berjalan meraih tasnya, mengambil beberapa lembar foto kemudian melempar foto itu ke muka ayah. " –lihat sendiri kelakuanmu dibelakangku!"
Ayah mengambil foto yang dilemparkan ibu padanya. Raut terkejut tidak lepas dari muka tegasnya. Di dalam foto itu terdapat foto ayah dengan seorang wanita seusia ibu dan anak SMP seusiaku tengah makan di dalam restoran keluarga dengan wajah yang sumringah.
"I-ini.." Ayah terbata-bata dalam berucap, ayah terdiam. Tidak menyangka jika ibu tahu bahwa ayah telah berselingkuh. Padahal hal itu sudah disembunyikan dengan rapi dan tanpa cela. Lalu darimana ibu bisa tahu? Ayah memandang foto yang dilemparkan oleh ibu dengan pandangan nanar, beliau kemudian mengacak rambutnya tampak frustasi.
"Aku minta cerai! Aku akan mengambil hak asuh Shinta dan Selene, aku juga yang akan mengurus kandungan Shinta, jadi kau tak perlu takut untuk kehilangan muka di depan kolegamu itu!" Ibu berkata dengan lantang. Tidak terpancar raut menyesal sedikitpun di wajah ibu. Ibu seperti sudah membulatkan tekadnya jauh-jauh hari untuk meminta cerai pada ayah.
"Tunggu dulu... Kita bisa bicarakan ini baik-baik kan?" Ayah mencoba membujuk ibu. Raut mukanya memancarkan keputusasaan.
"Tidak perlu ada yang dibicarakan, cukup sudah 14 tahun aku di bodohi, aku sudah tidak tahan lagi hidup denganmu, aku minta cerai!" Ibu tanpa goyah menatap ayah dengan berani. Sebenarnya bukannya ibu senang dengan perceraian, tapi rasa sakit hatinya karena di duakan membuat ibu tak gamang untuk meminta cerai. Bagaimana tidak? Selama 19 tahun pernikahan ayah dan ibu, ayah menggunakan 14 tahunnya untuk selingkuh dari ibu. Bahkan dari perselingkuhan itu, ayah memiliki anak seusiaku.
VOCÊ ESTÁ LENDO
Moon's Shadow
Ficção GeralKenyataan memang tak selalu manis, begitu pula kehidupan. Roda bisa saja berputar meninggikan manusia sampai ke atas langit paling tinggi, tapi bisa juga mendorong manusia ke dasar jurang paling dalam. Tidak ada yang pernah tahu nasib akan seperti a...
