Bab 1 Dia Aru

2.9K 107 2
                                        

Mengapa?

Semakin aku berjuang...

Semakin aku kecewa...

Dan apakah aku akan menyerah?

Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.

Dan apakah aku akan menyerah?

Ohh tentu tidak!

Ohh tentu tidak!

Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.

🌊🌊🌊

BAB 1 Dia Aru

🌊🌊🌊

Suara riuh terdengar di sepanjang lorong sekolah.
Hampir seluruh siswa berdiri menumpuk di depan mading, mencari nama mereka di kertas pembagian kelas yang baru saja ditempel pagi ini. Ada yang berteriak kegirangan karena sekelas dengan sahabatnya, ada yang mengeluh karena terpisah dari geng lama.

Di antara kerumunan itu, Adisty berdiri diam, bersandar pada dinding yang dingin di seberang mading. Ada yang bergejolak di dadanya sampai membuat tangannya gemetar.

Seseorang menepuk bahunya pelan. Adisty seperti tersadar dari hal yang membawanya jauh dari ke sadaran.

“Hai, Dis!”

Suara itu familiar. Hangat, sedikit serak, dan penuh energi. Nama Aruma Laskar A. terpampang pada name tag yang pria itu pakai.

Adisty menoleh. Aru tersenyum cerah, masih sama seperti dulu.

Meski mereka tak satu kelas di tahun sebelumnya, tapi mereka sempat sekelompok waktu MPLS, masa yang membuat nama-nama asing terasa lebih akrab sejenak sebelum akhirnya tenggelam dalam rutinitas sekolah. Sejak itu, mereka hanya saling menyapa kalau kebetulan bertemu di koridor.

“Aku udah lihat daftarnya,” kata Aru riang. “Ternyata kita satu kelas, loh. Ayo ke kelas bareng!”
ajak Aru sambil memegang tangan Adisty. Namun tubuh itu tak bergerak.

“Aku sudah tahu,” jawab Adisty datar. “Kamu duluan aja.” Nada suaranya lesu, seperti kehabisan tenaga untuk sekadar tersenyum.

Aru menatapnya bingung. “Kenapa? Mending bareng aja.”

Adisty menghela napas berat. “Bisa nggak… nggak usah banyak tanyan! Urus aja urusan kamu sendiri!”

Ia berlari, meninggalkan Aru dalam kebingungan. Itu bukan Adisty yang biasanya.

Wish list Where stories live. Discover now