"Keluarga, kenangan, dan kewarganegaraan." –Narcissa Jennamira Gijsbers
...
Jakarta, Maret 2020.
Langit semakin muram, suasana semakin suram. Di atas sana, awan hitam yang sudah tidak mampu membendung butiran-butiran air, tampak kelam menutupi langit ibu kota. Matahari menjadi enggan menampakkan diri. Tak ada lagi sinarnya yang hangat. Yang tersisa hanyalah rintik hujan yang kian menderas, udara yang semakin sejuk, dan sesekali suara guruh dari kejauhan.
Di luar sana, para pejalan kaki mulai mempercepat langkahnya. Beberapa yang tidak ingin basah kuyup meneduh di sekitar teras bangunan, termasuk teras kafe ini. Beberapa pengendara motor menepi untuk mengenakan jas hujan atau mungkin meneduh karena tidak membawa jas hujan. Hanya pengguna roda empat yang masih tenang di tengah jalan raya.
Sementara itu, di dalam kafe, semua masih tenang menikmati minuman mereka. Mungkin mereka lebih memilih tinggal daripada harus menerjang hujan.
"Lo masih bingung milih WNI atau WNA?" tanya seorang gadis berkerudung yang sedang menyedot segelas dolce latte.
Di depannya ada seorang gadis dengan wajah khas. Rambutnya yang bergelombang itu berwarna cokelat terang. Matanya lebar dan pupilnya biru jernih. Namun, sayang matanya sedikit memiliki kantong dan agak kemerahan. Postur tubuhnya jangkung terlihat ideal meski dia sedang duduk. Sudah jelas bila dia bukan asli Indonesia. Mungkin dia blasteran barat.
Gadis blasteran itu menatap keluar jendela. Dia hanya bergeming, tak menoleh sedikit pun. Sepertinya pemandangan jalan raya yang diguyur hujan deras lebih menarik daripada pertanyaan temannya.
"Please, lah, Nar. Lo ngajak kesini, lo kata mau ngomong penting berdua. But now, lo ngomong aja enggak. Cuma sekali, pas mesen minum," omel gadis itu sambil menyeruput minumannya. "If you speak with bahasa batin, sorry, Idk. Coz, I'm speaking with Indonesian and English, you got it?"
Gadis yang diajak bicara masih tetap diam. Sesekali dia meniup dan menyeruput tehnya. Seketika aroma hangat dari teh bergumul dengan petrikor yang menyusup dari celah pintu kafe.
Gadis berkerudung itu berbicara lagi. "Lo yakin mau minum tiga cangkir sekaligus, Nar? Look, hot black tea, skinny hot chocolate, and matcha latte? Manis semua, ntar lo diabet." Gadis itu masih berusaha mengajak ngomong temannya.
"Anjir, lah. Gue berasa patung. Jadi pengen pulang."
Rupanya ancaman halus gadis itu berhasil membuat temannya merespon. "Jangan pulang, please," ucap gadis blasteran itu lirih. "Gue gak tahu siapa lagi yang harus gue ajak bicara. Gue gak tahu siapa lagi yang bisa ngertiin masalah gue selain lo."
"Ketiga sahabat gue mungkin bisa nenangin gue, tapi gak bisa bantu nyelesein masalah, ngasih solusi atau saran. Mereka gak pernah ngalamin yang kayak gini." Gadis itu menghela napas berat. "Adik gue? Dia juga cuma bisa ndengerin, mungkin dia juga sama bingungnya kayak gue."
"Fra." Gadis blasteran itu menoleh, "Cuma lo satu-satunya orang terdekat gue yang pernah ngalamin hal serupa." Tangannya meletakkan secangkir teh di sebelah dua cangkir lainnya. "Gue yakin lo bisa bantu," ujar gadis itu mantap.
Gadis berkerudung itu termenung. Raut muka ceria yang terdapat di wajah gadis berkerudung itu mulai pudar. "Gue tahu gimana rasanya." Gadis itu menoleh ke arah jendela yang sedikit berembun.
"Gue tahu gimana rasanya bimbang milih dua pilihan yang sangat besar. Gue tahu gimana rasanya bimbang milih pilihan yang akan ngubah hidup gue." Gadis itu berhenti sejenak. "It is like, you're at an intersection, where each street has commensurate good and bad. That's a tough choice."
"It's the hardest choice since I was born. And, that will happen to you," lirih si gadis berkerudung.
"Mungkin pilihan gue gak seberat pilihan lo. Gue murni Indonesia. Gue gak ada tanggungan keluarga di Amerika. Sedangkan lo ad—" Ucapan gadis itu terpotong.
"Cerita kita emang beda, Fra. Beda banget," potong si gadis blasteran.
"Oh well, kalau gitu ceritain ke gue sekarang. Gue belum tahu detail ceritanya," minta si gadis berkerudung. "Apa yang bikin lo bingung milih Indonesia atau Belanda? Apa yang bikin lo pusing milih Indonesia atau Belanda? Apa aja isi jalanan di persimpangan lo?"
Belum sempat gadis di depannya membalas, gadis berkerudung itu berbicara lagi. "Apa mungkin gara-gara cinlok?" goda gadis itu.
Setelah mendapat tatapan tajam dari si gadis blasteran, gadis berkerudung itu buru-buru berbicara lagi. "Cinta lokasi, sama lokasi di Jakarta. Keburu salah paham, sih, lo."
Lalu sejenak suasana menjadi lengang. Hanya tersisa suara hujan deras yang diiringi oleh suara guruh dan petir yang saling bersahutan. Teras kafe semakin banyak peneduh. Beberapa diantara mereka masuk ke kafe untuk membeli minuman hangat.
"Lo gak mau cerita ke gue?" tanya si gadis berkerudung.
Yang diajak berbicara terdiam lagi. Dia sedang berpikir. "Oke. Tapi, kalo minuman sama cemilan gue habis, lo yang beliin lagi, ya. Ongkos cerita," tawar gadis itu sambil terkekeh.
Gadis berkerudung itu memutar bola mata. "Whatever."
"Lumayan panjang, sih, ceritanya. Mungkin bisa dijadiin novel kalo lo mau ngetik ceritanya. Gue, sih, males."
"Buruan, Cis," pinta gadis berkerudung tidak sabar.
"Iya, iya, sabar." Gadis blasteran membenarkan posisi duduknya. "Semuanya berawal dari Belanda. Di mana seluruh kebahagiaan gue ada di sana. Di mana gue yang introvert berubah menjadi extrovert."
"Di saat gue udah nyaman sama Belanda. Dad ditugasin lagi ke Indonesia. Gue sekeluarga jadi ikut balik ke Indonesia." Gadis itu termenung menatap cangkir tehnya yang tinggal separuh. "Gue kembali ngebuka masa lalu yang udah gue lupain waktu di Belanda."
Gadis blasteran itu mengalihkan pandangannya ke jendela. "Lo masih inget Arvan? Yang pernah gue ceritain waktu SMP dulu. Mungkin lo udah lupa." Dia menatap jalanan seakan menerawang sesuatu.
"Lo bener tadi soal cinta lokasi."
...
P.S
Halo, Nadine kembali lagi dengan Bipatride yang baru. Maaf telah menghilang hampir setahun.
Zeonαdine, 20 Juni 2020
YOU ARE READING
Bipatride
Teen Fictionbi.pat.ri.de [n Huk] orang yang mempunyai kewarganegaraan rangkap sebagai akibat perbedaan stelsel. .......... Kisah ini menceritakan tentang hati yang tercabik-cabik oleh kenangan yang terlupakan. Hati yang telah ditipu oleh omong kosong. Hati yang...
