#0

76 16 18
                                        

"Hujan lagi deh." ujar seseorang seraya menengadah tangannya dibawah hujan yang tidak terlalu deras. Ditatapnya tetesan air hujan yang terus menetes di telapak tangannya.

Waktu menunjukan pukul 17.05
Sekolah mulai beranjak sunyi dan gelap akibat hujan. Sudah tak banyak orang yang berlalu lalang di lorong sekolah. Banyak diantaranya mereka memilih untuk pulang daripada berkeliaran di sekolah seperti biasanya.

"Hujan gini lebih enak tidur."

Seharusnya sekarang ia sudah berada di rumah seperti teman-temannya, tapi kini ia harus melakukan sesuatu yang lebih penting.

Menunggunya.

Tiba-tiba pintu loker di belakangnya terbuka membuat gadis itu menoleh, kemudian dalam sekejap bibirnya mengukir senyum. Akhirnya orang yang ditunggunya menampakkan diri. Seorang lelaki itu masih mengenakan baju seragam yang ditutupi jaket denim kesayangannya.

Dibukanya loker di hadapannya seraya mengambil payung lipat miliknya. Ketika lelaki itu sadar jika dirinya sedang diperhatikan, ia segera menoleh dan tersenyum ramah.

"Hai, lo yang namanya Melissa ya?"

Mendengar nama disebut, gadis itu lantas melirik lelaki yang sekarang berada di hadapannya. "I-iya kak." Lelaki itu mengangguk tanpa menghilangkan senyumnya.

"Ka-kakak namanya kak Peter kan?"

Setelah pertanyaan itu terlontarkan, rasanya Melissa ingin memukul mulutnya yang asal ceplos dan segera kabur. Bagaimana bisa ia menanyakan hal yang tidak seharusnya ditanyakan. Siapa yang tidak mengenal lelaki dihadapannya. Lelaki berparas tampan berasal dari Bandung yang bernama Peter Graviel.

Padahal niatnya untuk mencairkan suasana tetapi malah membuat ia malu.

Peter terkekeh, "Iya, gue Peter."

"Lo nggak pulang? Hujannya makin deras loh." Lelaki itu kembali berujar.

"Na-nanti, kak." ucap Melissa berusaha menghilangkan kegugupannya.

Di sebelahnya, Peter mengangguk. "Oh, mau bareng nggak?" tanya laki-laki itu yang sudah bersiap-siap membuka payungnya.

Dengan cepat Melissa menjawab. "Nggak usah kak, nanti dijemput kok."
Dia benar-benar tidak menyangka kalau Peter akan menawarkan diri untuk mengantarnya. Bagaimanapun, itu agak mencengangkan bagi Melissa yang sebelumnya tidak pernah berkomunikasi dengan Peter.

"Oke. Gue duluan ya. Lo jangan pulang terlalu larut." Perhatian kecil itu kembali membuat Melissa melayang, ya walaupun hanya sementara.

"Hati-hati juga, kak!" teriak Melissa menatap punggung Peter yang mulai menjauh, sedangkan Peter hanya melambaikan tangan tanpa menoleh.

Setelah melihat Peter menjauh. Melissa langsung menerobos hujan tanpa takut, tas sekolah ia gunakan untuk melindungi kepalanya dari derasnya air hujan, demi memastikan Peter tiba di rumah dengan selamat. Melissa sudah terbiasa mengikuti Peter dari jauh.

Kebiasaan barunya ini berawal ketika ia tak sengaja melihat Peter selalu berjalan kaki untuk pulang. Bahkan ketika teman-teman Peter memilih untuk pulang dengan kendaraan hanya Peter yang tetap teguh berjalan kaki hanya untuk menikmati langit sore.

Sejak itu dirinya mulai mengagumi Peter.

Setelah berhasil melewati sekumpulan manusia yang berlalu lalang, tiba-tiba Melissa berhenti berlari. Di samping lampu lalu lintas, ia mengamati sekitar seraya menyipitkan mata. Hujan membuat pandangannya sedikit kabur.

Ketika hendak menyeberang jalan, Melissa mendapati Peter bersama seseorang di seberang jalan. Bahkan, dua insan itu saling melemparkan senyum di bawah payung yang dipegang Peter.

Peter dan kakak kelasnya, Vivian.

Hingga akhirnya Ia tidak lagi melanjutkan langkahnya. Melissa hanya berdiam diri dengan tatapan kosong.

Apa yang gue harapin, udah jelas semuanya, batin Melissa.

Melissa menurunkan tasnya secara perlahan. Ia membiarkan dirinya basah di bawah terpaan hujan hingga beberapa saat kemudian seseorang menghampirinya.

"Ck! Lo ngapain main hujan kayak gini, inget umur napa!" sindiran dingin datang dari seseorang di belakangnya, seseorang itu segera mendekat dan memanyungi Melissa.

Melissa yang mendengar suara tersebut hanya terdiam. Melissa berusaha menutupi kesedihannya dan juga malunya, anehnya dimana kebanyakan orang yang sedang malu akan berusaha menutupi wajahnya sendiri bukan menutupi wajah orang lain seperti yang dilakukan Melissa saat ini.

"Kenapa?" seseorang itu berusaha melepaskan tangan mungil Melissa dari mukanya.

"Jangan liat, gue jelek." ucap Melissa disertai tangisan kecil, tangan mungilnya masih menempel pada wajah seseorang di hadapannya.

"Ck! lagian lo kan udah jelek."

"Ih, Renzo jahat."

"Pulang, lo dicariin sama Mak lo." ucap Renzo menatap dalam mata Melissa, sedangkan yang ditatap hanya memalingkan wajahnya seraya memejamkan matanya.

Renzo hanya bisa mendengus, lagi-lagi gadis yang ia sukai harus terluka.

Renzo mendekatkan wajahnya. "Nggak usah liat,"
Melissa hanya menatapnya tanpa mengeluarkan satu kata pun.

"Makan bareng gue di tempat favorit lo. Gue traktir."

"Beneran?"

"Hmm." Melissa tersenyum lebar.

Akhirnya mereka berdua berjalan di bawah deras hujan, dengan sebuah payung kuning yang mencolok berusaha menata perasaan masing-masing.

Ya, mereka tidak pernah menyadarinya. Bahwa mereka saling membutuhkan.

[A/N] hawi kalian~Ini adalah cerita pertama dari aku, semoga betah ya sama cerita ini

Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.

[A/N] hawi kalian~
Ini adalah cerita pertama dari aku, semoga betah ya sama cerita ini. Aku masih newbie dalam hal menulis jadi saran apa pun aku terima. Asalkan jangan yang pedes-pedes yak.

Terima kasih juga udah nyempatkan waktu untuk membaca. Sampai jumpa di next chapter.

Sen, 14 Juni 2021
💙

RESUMEStories to obsess over. Discover now