"Dea, aku berangkat dulu ya ke Surabaya. Kowe aja seneng gawe masalah nang kene, mesakna Buk De, Pak De. (Kamu jangan suka buat masalah disini, kasihan Buk De, sama Pak De)."
"Belajar benar-benar. Enggak usah bersedih, enggak bakal pisah selamanya, kok. Semuanya ini hanya masalah waktu. Semoga saja kita selalu bersama, saling mendukung, dan sama-sama sukses" imbuh si Angga.
"Lha, kowe aja ngomong ngunu. Aku pasti kangen awakmu. Semoga kamu di sana mendapatkan ilmu yang baik, nyaman sama tempat tinggal disana. Aja ngelalikna aku (jangan lupakan aku). Aku pasti sabar menunggu kepulanganmu. Oh iya kalo kamu mau pulang hubungi aku dulu, ya, mengko tak buatkan gedang goreng" jawab si Dea.
'Dea dan Angga' saling berpelukan. Mereka saling meneteskan air mata. Angga tak ingin air matanya menjadi kenangan yang menyedihkan. Segeralah Anga masuk ke mobil dan mobilnya melaju meninggalkan Dea.
Dea tak kuasa menahan kesedihan, Ia mencoba mengejar mobil yang ditumpangi oleh Angga yang secara kenyataan tidaklah mungkin berputar balik. Dea masih menangis sesenggukan, teman kecilnya pergi menjauhi kota kelahirannya.
****
"Kucrut, sudah ah, jangan dikejar mobil aku. Aku pasti kembali, kok. Kita saling mendoakan saja, ya, demi kebaikan kita bersama. Semoga persahabatan kita selalu di lindungi oleh Allah," Angga mengirimkan pesan yang dikirim ke Dea, temannya.
'Kucrut', merupakan nama panggilan kesayangan mereka. Kata kucrutlah yang mampu membuat mereka selalu tertawa dalam kondisi apapun.
Angga tak kuasa jika harus membendung air matanya. Matanya terus saja memantau spion mobil yang membawanya berlari menjauhi Dea. Sebenarnya ia tak sanggup jika harus berpisah apalagi melihat Dea yang terus merangkak mengejar mobilnya.
****
Hand Phone Dea berbunyi. Terbacalah sebuah pesan dari Angga. Di saat itulah, Dea sadar bahwa pilihan ini merupakan langkah terbaik yang harus dijalani. Angga ingin membahagiakan orangtuanya. Dea sadar, bahwa keputusan itu bukan hanya keputusan dari Angga semata-mata.
Mobil yang ditumpangi Angga melaju sangat kencang, hingga burung-burung pun tak terdengar kicauannya. Debu yang ditinggalkan berhasil menyapu bersih jejak-jejak mobilnya. Hal yang pasti Angga dan Dea mulai berjauhan.
YOU ARE READING
Kita Coba Saja, Ya?
General FictionAku dan kamu, ibarat sebuah tali sejajar menjadi satu. Tergabung dalam lingkaran yang sama. Namun 'aku dan kamu' tidak bisa bersama selamanya. Karena ada batas yang harus dilepaskan. Jangan takut. Karena 'aku dan kamu' sama-sama memiliki tujuan yang...
