BAB 40

2.9K 250 40

BAB 40


Dari bangun tidur aku belum mendapat kabar dari bang Jo, meski aku sudah mencoba menghubunginya di ponsel, kukirim pesan singkat, bahkan aku juga menelepon di kantor. semua hasilnya nihil, kecuali berita dari Serena bahwa pagi ini dia ada sidang kasus penting, tapi seperti biasa, semua terkait dengan pekerjaannya bersifat konfidensial, jadi aku cukup tahu bahwa kondisiya baik-baik saja.


Aku masuk ke ruanganku tapi Manda tak tampak di dalam ruangan sementara belum ada antrian pasien di luar, mungkin karena ini masih terlalu pagi. Aku mempersiapkan diri sebelum memulai pekerjaanku hari ini dengan berbicara pada sang pemberi hidup meminta pertolongannya supaya melalui tanganku banyak kesembuhan bisa terjadi.


Tiba-tiba Manda masuk degan tergesa.


"Manda?" aku menyebut namanya dan dia menoleh sekilas padaku, tidak biasanya."Manda kamu habis nangis?"


"Enggak dok." Dia jelas terlihat habis nangis.


"Duduk." Perintahku, aku sudah tertular sifat tuka printah dari Bang Jo mungkin, tapi dia akhirnya duduk. "Cerita sama saya dong, kamu kenapa?"


"Saya tadi ngobrol di ruang perawat dok, rame-rame sih." Akhirnya Manda membuka suara.


"Terus?" aku menatapnya penuh selidik.


"Sebenarnya saya nga enak mau cerita dok."


Aku menarik nafas dalam, bagiku gadis muda ini sudah kuanggap seperti adikku sendiri, jadi aku sangat ingin tahu tentang penyebab gadis periang ini sampai meneteskan air mata."Saya bukan tukang gosip Manda, saya cuman mau tahu kamu kenapa nangis?"


"Dokter kenal sama perawat senior, bu Yossinta."


Aku mengingat-igat ama itu, "Tahu tapi saya nga terlalu akrab, kenapa memangnya?"


"Tadi dia cerita kalau lusa dia mau nikahin suaminya."


"Lho bukannya dia udah lama nikah ya?"


"Iya dok, justru itu, dia mau nikahin suaminya sama istri muda." Jelas Manda


"Apa?" aku memekik, sontak mataku melotot, hampir saja keluar dari kerongkongan.


"Iya dok." Manda mengangguk. Aku menarik nafas dalam, meski ini bukan menjadi urusanku, tapi aku jadi tertarik untuk tahu alasannya.


"Boleh tau alaasannya?"


Manda tampak mengerucutkan bibirnya mempertimbangkan " Em....bu Yossinta tidak bisa hamil dok, jadi suaminya di minta nikah lagi sama ibumertuanya." Terang Manda, dan itu seperti tamparan keras di wajahku. Bagaimana jika nasibku kelak sama dengan bu Yossinta, aku tidak bisa hamil dan suamiku di minta menikahi wanita lain? Aku tahu betul bahwa di dalam keluarga calon suamiku, keturunan sangatlah penting.


Aku berdehem untuk menetralkan diriku, "Terus hubungannya sama kamu nangis apa?"Aku menyipitkan mataku pada Manda.


"Saya kasihan dok, sama bu Yossinta." Manda mengambil jeda, matanya kembali berkaca "Saya korban broken home dok, dan saya tahu rasanya orang tua saya yang awalnya sering bertenngkar, kemudian berpisah." Manda menghapus air mata yang menggenang di sudut-sudut matanya. "Jadi saya sedih waktu bu Yossinta harus berbagi cinta demi keturunan, sementara orang tua saya yang diberi keturunan justru berpisah karena ego masing-masing."


Aku benar-benar baru tahu bahwa di balik keceriaan gadis muda ini, dia menyimpan kepahitan di dalam dirinnya. "Manda." Ku bangkit dari mejaku, mendekatinya, kupeluk erat dia.


"Proses yang kamu lewati luar biasa, memang saya tahu itu pasti berat sekali, tapi saya yakin kamu akan jadi pribadi yang baik, kalau kamu kelak menjadi orang tua, kamu pasti sudah banyak belajar dari masalalu kamu." Aku measehatiya, padahal yang butuh nasehat seharusnya diriku, karena menara kepercayaan diriku seolah barusaja di terpa gempa bersekala 7,5 skalarichter, goncang, hampir roboh mungkin.

JBS (Ready on Google Playbook - Venom Publisher)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang