BAB 26

2.5K 208 25

BAB 26


Saat aku memutar mobilku keluar dari tempat parkir, aku teringat sesuatu, musik, mungkin sedikit menenangkan ketika aku mendengar radio atau memutar beberapa lagi dalam mobilku. Segera kunyalakan pemutar musik, dan sialnya lagu yang pertama kali terdengar adalah "Photograph" dari "Ed Sheeran "


Setiap liriknya begitu mengena di hatiku, dan seolah menamparku, membuatku tersadar akan banyak hal yang selama ini kuingkari dari diriku sendiri.


"Loving can hurt, Loving can hurts sometimes." Ya kau benar sekali bang Ed Seeran, mencintai itu bisa saja melukai, mencintaki kadang membuat kita terluka, dan aku sudah mengalaminya berkali-kali.


"But it's the only thing that I know." Suara lembutnya kembali menamparku. Benar sekali yang kau katakan bang, itu adalah satu-satunya yang aku tahu "Mencintai."


Aku mulai terlarut dalam alunan merdu suara Ed Sheeran, sampai pada refren, yang membuat aku hampir berteriak histeris "We keep this love in a photograph, We made the memories for ourselves, Where our eyes are never closing, hearts are never broken, and time's forever frozen still" mengingatkanku bahwa satu-satunya kenangan yang kumiliki bersama dirinya hanya tersimpan di dalam memory otakku. Aku dan dia tidak pernah berfoto. Setidaknya jika aku memiliki fotonya, bersamaku, itu akan lebih baik, sayangnya tidak. Kupikir mungkin raganya dimiliki wanita lain saat ini, tapi dalam foto itu dia adalah pria milikku, and time's forever frozen still, waktu seolah berhenti ketika kami bersama dalam sebuah foto.


Perlahan air mataku mulai menetes ketika lagu itu berakhir. Aku terus melaju pelan, karena jalanan sore itu juga macet parah. Menikmati kesedihanku kehilangan seseorang yang aku cintai dalam diamku selama dua tahun terakhir.


Saat lalulintas mulai stuck, bayanganku berlari ke malam itu, ketika aku sedang dirias, untuk "Malam Midodareni" sebuah ritual adat jawa, dimana malam itu diharapakan bidadari akan turun dan merasukiku, membuatku menjadi wanita tercantik pada hari pernikahanku keesokan pagi. Selain itu juga diadakan semacam doa dari kerabat, lingkungan untuk mendoakaan kelancaran acaranya, dari awal hingga akhir, juga untuk bahtera rumahtanngga yang akan kami bangun.


Lepas enam bulan setelah acara lamaran, aku mulai menerima kenyataan bahwa jalan hidup kita tidak selalu berjalan seuai dengan yang kita rencanakan. Semua berjalan diluar kendaliku setelah pertemuan terakhirku dengan Jonathan Saragih di parkiran rumahsakit. Setelah itu, aku terbang ke Jogja untuk sebuah prosesi lamaran, yang aku terima meski sangat berat. Aku bahkan meminta waktu enam bulan untuk dilangsungkan sebuah pernikahan.


Dan benar saja, saat itu tiba akhirnya, meski dulu aku sangat tergila-gila pada mas Bagus, tapi tidak lagi, rasa itu menguap hilang entah kemana. Saat malam midodareni, aku juga melangsungkan acara siraman di rumahku, dan mas bagus di rumah eangnya yang tidak terlalu jauh.


Setelah selesai acara midodareni seharusnya kami berdua di pingit, dilarang bertemu, tapi dia nekat mau datang, dia bilang alasannya adalah takut aku berubah pikiran jadi kami batal nikah. Andai dia tahu, bahwa meski rasa cintaku hilang padanya, tapi aku masih peduli pada nama baik keluarganya dan keluargaku.


Yang membuatku bergidik merinding adalah saat aku menerima telepon dari seorang pria, warga desa kami, Pak Sumpeno, yang mengatakan bahwa mobil Mas Bagus menabrak sebuah truk dari arah berlawanan saat dalam perjalanan menuju rumahku. Dia meniggal di tempat.


"Kehilangan... lagi.... untuk kesekian kali." Gumamku dalam hati, entah nasibku yang sial, atau takdirku begitu kejam padaku. Saat itu juga duniaku runtuh. Aku melihat mas Bagus terpejam, wajahnya tanpa luka, tapi dokter mengatakan bahwa organ dalamnya terluka parah, karena beberapa tulang rusuknya patah dan menusuk ke paru-parunya dan jantung. Meski kemudian wajahnya membiru, tapi aku sempat melihatnya seperti sedang tertidur.

JBS (Ready on Google Playbook - Venom Publisher)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang