BAB 19

2.6K 224 11

BA 19


"Abang kan sudah minum obat" Aya meletakan gelas, lalu menoleh pada Jo "Saya pulang sekarang ya." Aya berbalik mendekati Jo, dan Jo meraih tagannya "Iya. Terimakasih ya." Aya hanya menganngguk. Aya segera mengambil tasnya yang tadi dia letaka di meja, sekali lagi menoleh pada Jo yang tatapannya tak beralih darinya. "Kamu nga mau peluk saya?" Jo akhirnya membuka suara. Aya menahan senyumnya, lalu menggeleng. "Kamu takut ketularan ya?" Sekali lagi Jo menawarkan dirinya. Aya hanya tersenyum, tapi dia menggeleng sekali lagi. "Ok, nga papa. Kamu hati-hati di jalan ya. Kabari saya kalau kamu sudah sampai." Aya mengangguk, lalu mendekat, dan memeluk Jo pada akhirnya. Seperti biasa reaksi spontan Aya sering kali membuat Jo terkejut dan justru sedikit gugup sepretinya.


"Cepet pulih ya." Aya mengusap lengan Jo.


"Pastinya."Jo tersenyum.


"Saya pulang ya."Aya berkali-kali berpamitan, sepertinya dia juga tidak rela keluar dari ruang perawatan itu.


"He'em."Jo mengangguk.


Akhirnya Aya keluar dari ruangan perawatan itu meski dengan berat hati, dan Jo pun melepas kepergiannya dengan sangat berat hati.


Tak lama berselang, setelah Aya meninggalkan ruangan itu, tampak mamak tergopoh-gopoh masuh ke dalam ruangan.


"Nak." Mamak langsung meletakan tasnya di samping meja lalu memeluk Jo dengan emosional. Dia jarang sekali melihat putera bungsunya ini terkapar tak berdaya.


"Mamak...., mamak kenapa nangis."Jo bertanya setelah mamak melepaskan pelukannya.


"Bah, kek gitu kau tanya ke mamakmu ini?"Mamak tampak menghapus air matanya, dan nada suaranya meninggi.


"Mak, jangan keras-keras, nanti perawatnya marah ke mamak." Jo menahan senyumnya. Akhirnya mamak duduk di kursi dan itu sedikit menenangkan dirinya.


"Kek gini lah yang mamak pikirkan, kau sakit, tak ada lah yang merawat kau." Mamak menatap Jo serius. "Sekarang mamak kau masih hidupnya, kalau sudah mati kek mana kau nanti? Sakit kali hati mamak mikir kau kek gini Jo."


"Terus maunya mamak Jo nikah ke Dosma?"


"Siapa sajalah, yang penting kau punya isteri. Jadi ada lah yang rawat kau, rawat rumah kau. Rumah besak macam istana kau biarkan kosong pulak."


"Jo mau tanya sama mamak." Kali ini Jo jadi lebih serius.


"Buat mamak, peremuan macam mana yang cocok dijadikan isteri?"


"Ya yang kek mamak kau ini, dia harus bisa kerjakan semua-semua, bisa jaga kau, rawat kaulah."


"Apa cuma Dosma yang bisa kek gitu menurut mamak?"


"Apalah kau ini dari tadi Dosma, Dosma?" "Dosma pun mamak tengok nga apalah mau dia ngrawat kau."


"Kok mamak bisa bilang gitu?"


"Dia bilang mau pergi ke luar negeri sama kawan-kawannya, dia tau kau sakit tapi dia kek gitu, geram kali mamak ke dia."


"Jadi udah nga suka rupanya mamak ke Dosma?"


"Ah sudahlah, nanti mamak pulang ke Medan, mamak datang ke tempat tulang kau di Pangururan, adanya si Tiur, bisalah itu nanti, dia juga pariban kau kan."


"Bah, Tiur masih kecil mak. Paling juga baru sembilanbelas tahun."


"Eh, mamak nikah ke bapak kau malah baru umur tujuhbelas tahun, jangan bikin mamak pusinglah."


"Kalau boru Jawa kenapa rupanya mak?" mata mamak membulat saat Jo menanyakan pertanyaan itu. "Dia cantik, pendidikan bagus, dokter gigi, keluarganya juga baik, dia ramah, penurut, dia juga bisa merawat Jo." Setelah Jo berbicara panjang lebar, raut wajah mamak berubah, dia bahkan tidak menanggapi semua kalimat Jo, justru mengubah topik pembicaraan.

JBS (Ready on Google Playbook - Venom Publisher)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang