part 1 [ prolog ]

2.7K 50 0
                                        

Senja tiba, sinarnya perlahan-lahan menghilang, menjadi awan-awan yang berwarna kemerahan. Matahari mulai sembunyi di ujung barat. Perlahan hari mulai gelap. menunjukkan sebentar lagi malam tiba. Tapi Bian masih memakai sragam sekolah. Memainkan papan skate di tempat dimana ia biasanya bermain. Bian merasakan hembusan angin dingin menerpa wajah.

Sejuk,

itu yang dia rasakan sekarang. Bian mengangkat kedua sudut bibirnya, dia tersenyum lepas. Mengharap masalahnya sudah terangkat semua.

Tapi ada seorang cowok yang diam-diam mengikuti dan memerhatikan Dia memainkan papan skate kesayangannya. Tak lama Bian sadar dengan hal itu,dia dengan cepat memainkan triknya dengan membuat mangsanya fokus hanya ke arah kaki dan papan skate kemudian dia melompat sembunyi dari cowok itu dengan membiarkan papan skatenya tergeletak begitu saja.

"Loh, kemana dia pergi?"Suara cowok itu yang keluar dari persembunyiannya dan berlari ke tengah lapangan skate.

"Nyari gue!! " suara Bian terdengar keras. Tapi Bian masih tetap sembunyi.

"Gu-gue hanya kebetulan lewat, Lo jago juga ya maen skate? Kenapa sembuyi?" suara cowok itu jelas, dengan membawa pertanyaan beruntun.

Cowok tapi crewet banget, anak orang bukan sih?-Bian membatin.

Bian keluar mengambil skatenya yang tergeletak tepat di depan cowok yang membuntutinya. Cowok itu memandang Bian dengan pandangan takjub. Sedangkan Bian memandang Ifan dengan pandangan B aja. Bian mungkin dari luar kelihatan seperti Badgirl. karna jam sudah menunjukan pukul 8 malam masih memakai sragam dan sragam itu tidak tertata rapi. Lengan yang di tekuk serta rok yang pendek di atas lutut dan rambut yang ujungnya berwarna biru tua.

"What?".

"Heyy, ternyata kita satu sekolah liat badge di sragam kita sama? Tapi, gue ga pernah lihat lo di sekolah". Cowok tersebut mencoba mencairkan suasana.

"Oh"

Disela-sela obrolan itu Bian tak berhenti bermain. Ia tetap berada di atas papan skatenya dan meluncur di lapangan itu, dengan sesekali melihat wajah si cowok itu. Cowok jangkung itu sepertinya bukan cowok nerd. Wajahnya juga lumayan ganteng. Tapi biasanya cowok seperti dia kan jarang merhatiin hidup orang lain. Tapi yang Bian liat kali ini beda.

Cowok tersebut yang juga sedang mengambil papan skate dari dalam tas sekolah nya. Mereka berdua pun beradu di hari yang mulai gelap itu. Mungkin ada setengah jam mereka berdua beradu skateboard.

"Lebih baik sekarang kita pulang, sekarang sudah malam,?".

Bian tak menggubrisnya. Ia masih tetap fokus dengan permainannya.

"lo itu cewek ga seharusnya lo masih keluyuran, ayo gue antar lo pulang?".

Kedua kalinya Bian masih tetap tak perduli dengan apa yang di katakan si cowok. Bian sangat menikmati saat-saat seperti ini. Bian tidak ingin harus berhenti bermain dan pulang ke rumah.

"Heyy.. Lo budeg ya?, gue ngomong dari tadi lo kacangin". Seru cowok itu sambil bediri tepat di depan Bian. Hingga sesaat mereka berdua saling bertatapan.

Bian hanya mengangkat alisnya sebelah. sengaja memancing emosi si cowok jangkung itu. Ia kembali memainkan papan skatenya. Hingga trik yang sangat sulit pun ia mainkan. Cowok itu berhenti ngomel-ngomel. Ia hanya diam seribu bahasa dan kembali melihat permainan Bian.

Jam sudah menunjukkan pukul 9 malam. Bian masih tetap menikmati permainannya. Bianca hanya ingin berlatih dan berlatih.

"Tempat ini kapan ramainya?".

(1)FATES (COMPLETED)Stories to obsess over. Discover now