Never click suspicious links
Reminder: Wattpad will never ask for passwords, payment information, or other sensitive account security details.

1

51.5K 1.6K 173
                                        

Aku masih berjalan menapaki koridor kelas. Melihat kesana-kemari ingin mengajak siapa saja yang kukenal untuk menemaniku yang kini berjalan seorang diri. Koridor memang masih sangat sepi. Arlojiku masih menunjukkan pukul 9 pagi. Ini artinya belum waktunya istirahat.

Jika kalian bingung, kenapa aku berada di luar kelas, jawabannya karena saat ini aku sedang bertugas sebagai perawat kesehatan di UKS.

Aku mengambil posisi duduk di tribun lapangan utasekolah. Rasanya belum ingin beranjak masuk ke kelas yang kuperkirakan saat ini teman-temanku sedang berperang melawan rasa kantuk yang luar biasa.

Mataku masih mengerjap perlahan. Hidungku mencoba meraup oksigen sebanyak mungkin. Hari ini cukup banyak pasien yang masuk ke ruang kesehatan. Alhasil aku harus kerja ekstra lebih dari biasanya. Entahlah, mungkin salah satu faktornya karena cuaca yang sedang tidak bersahabat.

Tak lama, mataku menatap seorang cowo berpostur tinggi tegap yang sedang bercanda tawa bersama teman segerombolannya. Mataku tak berhenti mengawasi gerak-geriknya sedikitpun. Entah apa yang menjadi pusat perhatianku darinya.

"Radiit... Liat deh tuh cewe. Kayanya liatin lo deh. Coba deh lo liat kesana", ucap salah seorang temannya yang jika tak salah ku kenal bernama Evan.

Radit hanya mengikuti arahan tangan Evan menunjuk ke arahku.

Tatapan mata kami bertemu sesaat ketika Ia menghadap ke arahku dengan wajah biasa. Aku hanya bisa langsung menunduk malu.

Ya.. Dia Radit Pradipta Nugraha. Seorang cowo yang bisa dibilang cassanova SMAku.

Postur tubuhnya yang tinggi dengan kulit putih serta wajah tampan menjadikan dia deretan The Most Wanted di sekolahku. Ditambah lagi dengan segudang prestasi yang Ia miliki. Mulai dari akademik hingga non akademik. Tapi entah mengapa alasannya, sampai saat ini dia masih saja menjomblo.

Berdasar gosip yang beredar Ia sedang mengejar Cilla, queen sekolahku. Banyak sekali yang berharap jika mereka jadian. Tapi entah kenapa saat ini mereka hanya berteman biasa saja.

Dan sialnya, aku bukan salah seorang yang mendukung mereka untuk jadian. Meski tidak pernah berkoar-koar menjadi penolak garis depan hubungan mereka, tapi tetap saja aku tidak setuju jika mereka jadian. Entah apa alasannya. Rasanya sebagian hatiku tidak mau melepaskan dia menjadi milik Cilla, meskipun kami tidak punya hubungan apa-apa. Atau mungkin bahkan dia mengenalku saja tidak. Tapi setidaknya aku masih berharap jika kelak aku bisa bersama dia.

***

Arlojiku sudah menunjukkan pukul 11.30. Bel istirahat baru saja berdering beberapa saat yang lalu. Aku berjalan berdampingan bersama Gita, sahabatku menuju ruang kesehatan untuk mengecek sejenak bagaimana keadaan disana.

Seorang adik kelas berjalan cukup cepat tanpa menatap ke depan. Aku pikir dia salah satu siswa yang sedang gugup karena sedari tadi Ia bolak-balik menatar arloji di tangannya. Begitupun saat ini ketika kami berpapasan, dan dia menyenggol lenganku tidak sengaja.

"Ma.. Maaf ka.. Saya buru-buru", ucapnya sambil mengusap sikunya yang sepertinya sakit.

Aku hanya mengangguk. Setelah itu menanyakan bagaimana keadaannya. Dia hanya menggeleng tanda tak ada yang serius dengan sikunya.

Ia mengamatiku perlahan, dari ujung kepala hingga ujung kaki. Dan tatapannya berhenti di name tag yang ku pakai. Keningnya berkerut seperti berusaha mengingat sesuatu.

"Kak Valen? ", tanyanya langsung.

Aku mengangguk. Bingung dengan maksudnya.

Tak lama, Ia mengeluarkan sesuatu dari sakunya, dan memberikan ke arahku. Aku hanya memberi isyarat tanpa bersuara. Berusaha menanyakan apa yang Ia berikan.

"Tadi ada titipan dari Kak Radit pas saya dijalan. Pesannya saya suruh menyampaikan pada Kak Valen", ucapnya masih menunduk. Aku tidak tahu apa alasan dia menunduk. Entah karena wajahku atau alasan lain.

Lagi-lagi aku hanya mengangguk dan mengucapkan terimakasih. Setelah itu, anak yang kuperkirakan adik kelasku tersebut izin pamit padaku dan Gita.

Gita menyenggol bahuku. Mencoba mencari tahu apa yang baru saja diberi oleh adik kelasku tadi, yang notabene titipan dari Radit.

"Cieee.. Dapet titipan nih. Apaan tuh? ", goda Gita.

Aku hanya mengendikkan bahu.

"Buka dong buka. Kepo nih..!!", perintah Gita.

Aku mengikuti perintahnya seperti robot.

"Val.. Nanti bisa ketemu? Abis pulang sekolah di taman belakang!", tulis dalam surat.

"Cieee.... ", ucap Gita kegirangan.

Sebenarnya aku jauh lebih girang daripada Gita. Alasannya? Aku suka pada Radit, dan Radit ngajak ketemu. Gimana gak bahagia. Bukannya ke-GR-an, tapi.... Ah intinya bahagia lah.

"Tapi Len... Ngapain coba Radit ngajak lo ketemuan? Kita gak mau ada acara di sekolah. Jadi gak ada kepanitiaan. Terus kenapa ya? ", tanya Gita dengan wajah cengo sok mikir.

"Kali aja dia mau nembak gue", ucapku asal tapi penuh harap.

Gita seperti sedang mencerna ucapanku barusan.

"Tapi kan kita tau, dia sukanya sama Cilla... ", ucap Gita terputus menyadari kesalahan ucapannya barusan.

Gita tau kalau aku memang menyukai Radit sejak awal. Bahkan Ia sendiri sering menyemangatiku, ketika Ia tahu jika Radit sedang dekat dengan seorang cewek. Meski aku sudah berulang kali bilang, bahwa cintaku ini bertepuk sebelah tangan.

"Udah gak apa. Kan aku udah sering bilang kalau cintaku ini cinta tak berbalas. Sejenis cinta dalam hati. Udahlah.. Yuk cuss ke UKS!",ajakku

***
Bel pulang sekolah baru saja berbunyi. Segera kulangkahkan kakiku menuju taman belakang.

Keadaan taman belakang cukup ramai dari biasanya. Mungkin karena faktor parkiran ada di belakang. Aku mencari tempat yang nyaman untuk ku duduki selagi menunggu Radit datang.

Aku memilih duduk di bawah pohon rimbun yang terlihat sangat sejuk. Taman ini memang sengaja tidak diberi kursi.

Mataku melihat area sekeliling. Mencoba mencari keberadaan Radit. 10 menit. 20 menit. 30 menit. Radit belum menampakkan diri.

Berkali-kali kulirik arloji yang menempel manis di tanganku. Rasanya aku sudah sangat lelah sedari pagi.

Kuputuskan untuk menyudahi penantian ini. Aku berdiri dari tempatku duduk.

Satu langkah. Dua langkah. Ku dengar seseorang memanggil namaku. Kutengokkan kepalaku 90 derajat.

Nampak Radit dengan keringat menetes di dahinya disertai dengan nafas ngos-ngosan mendekat ke arahku. Ku hentikan langkahku dan menunggunya menghampiriku.

"Sorry Val.. Gue telat. Tadi abis ngumpulin tugas dulu terus disuruh menghadap kepsek. Sorry ya.. ", ucapnya dengan nafas yang lebih teratur.

Aku mengangguk. Memberinya sebotol air yang ku bawa. Menyuruhnya duduk terlebih dahulu.

Lima menit berlalu. Keheningan masih menyelimuti kami. Belum ada yang mau buka suara. Lagi-lagi kulirik arlojiku. Bukan karena apa, tapi orangtuaku termasuk disiplin untuk soal waktu.

"Ada apa Dit, lo nyuruh gue kesini?", ucapku.

Radit masih terdiam. Mungkin Ia sedikit berpikir untuk mencari kata yang tepat untuk menyampaikan.

"Val.. Lo mau gak jadi pacar gue?", tanya Radit to the point.

#TBC

MAGIC SHOP [COMPLETE]Stories to obsess over. Discover now