7. Schoolmates

1.1K 197 24
                                    

"But if she says she loves me,
let me see her."
 
[ If You See Her - LANY ]

🦋

"Niall, kau masih disitu?" Teriak Victoria dari dalam kamar mandi. Entah apa yang salah dengan perutnya setelah menghabiskan tiga kaleng cola dingin.

"Iya... selesaikan sampai tuntas dulu jangan bicara!" Gerutu Niall yang menunggu Victoria di kamarnya karena Victoria ketakutan.

Tidak lama setelah itu, Victoria berbaring di tempat tidur dan menggeliat seperti cacing kepanasan karena mulas. Sedangkan Niall duduk di sebelah tempat tidur berusaha konsentrasi dengan bukunya karena besok akan ada kuis.

Victoria bisa berada di rumah Niall lagi karena orang tua Niall sedang tidak berada di rumah. Sehingga ia bisa bebas menyuruh Victoria tidur di rumahnya.

"Niall, aku mau ke kamar mandi lagi!" Kata Victoria kemudian ia berlari ke kamar mandi.

Niall membalik-balik halaman buku fisika dan ia menemukan surat yang ia temukan tadi siang. Ia belum membaca semua isinya yang ia pikir itu hanya mimpi dan lelucon, namun kejadian tentang cola kali ini benar-benar terjadi seperti yang dituliskan di surat itu. Ia membuka lagi dan melanjutkan membaca.

I can tell you, I miss her a little bit more now. Dulu aku bertanya, kok bisa sih aku mencintainya begitu saja. Ternyata sejak aku mengenal cinta pada orang lain, orang itu adalah Casper.

It's always been her.

Jangan terkejut kalau aku beritahu ini, Casper tidak akan selamanya bersamaku. Pada akhirnya dia akan pergi.

Begitu pula dengan segala memori tentangnya di kepalaku.

Tidak ada seorang pun yang akan mengingat kalau Casper pernah ada. Termasuk aku, aku tidak merasakan kehilangan, kesedihan, atau apa pun itu. Ingatanku tentang Casper hilang begitu saja.

Casper sempat hilang di memoriku lagi.

Tapi ternyata waktu Casper di dunia ini belum habis, beberapa tahun kemudian, seolah takdir memberikan kita kesempatan kedua. Aku bertemu dengannya. Aku dan bandku... em iya, kau tidak salah baca, aku bukan dokter, aku tidak membuka klinik seperti rencanamu saat ini.

Niall terbelalak pada bagian itu, ia merasa surat ini mulai aneh dan berlebihan. Surat ini memberinya gambaran masa depan yang Niall tidak sangka-sangka. Tapi tidak ada pilihan lain selain membacanya sampai habis karena rasa penasarannya dengan apa yang akan terjadi padanya dan Victoria.

I love her so bad, it hurts.

Kehilangan Casper membuatku seperti orang gila. Aku sering berhalusinasi seolah-olah dia ada di sini. Aku memutuskan untuk menutup kesedihanku dan melanjutkan hidup.

Sampai suatu hari seluruh ingatan tentangnya kembali. Aku ingat semuanya dari awal.

"Niall!"

Merasa namanya dipanggil dan badanya dipukuli dengan bantal, Niall membuka matanya dan melihat Victoria berada di depannya saat ini.

"Jangan tidur di sini, tuh kan bukunya jadi terlipat." Victoria menunjuk buku pelajaran yang tanpa sengaja lusuh karena tertindih. "Kau bilang tidur sambil duduk bisa membuat lehermu sakit."

"Aku... aku ketiduran ya?"

"Kau selalu tertidur saat membaca buku ini, ini buku apa?"

Niall membolak-balik halaman bukunya itu, namun surat seperti dalam mimpinya tidak ada di sana. Niall mulai berfikir, surat dari masa depan itu hadir dalam mimpinya berturut-turut.

"Casper! Casper!" Niall masuk kedalam gudang tempat Victoria biasanya menunggu kedatangannya, kali ini Niall terlihat sangat bersemangat

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

"Casper! Casper!" Niall masuk kedalam gudang tempat Victoria biasanya menunggu kedatangannya, kali ini Niall terlihat sangat bersemangat.

"Niall!" Sambut Victoria dengan senyum yang tidak kalah lebar walaupun ia tidak tahu apa yang membuat Niall begitu senang. Hari ini ia memakai hoodie pinjaman dari Niall.

Dengan tidak sabar Niall memberikan selembar kertas kepada Victoria, namun sepertinya gadis itu tidak mengerti ia hanya membolak-balik tanpa membacanya. Niall kesal dan akhirnya mengambil kembali kertas berharhaga itu dari tangan Victoria.

"Apa?" Tanya Victoria masih dengan tatapan penasaran.

"Selamat datang di sekolah, kau lolos seleksi beasiswa!" Niall menepuk pundak Victoria beberapa kali.

"Aku boleh masuk kelas?" Tanya Victoria penuh semangat menyadari perjuangannya membuahkan hasil. Ia belajar siang dan malam dengan semua buku yang Niall miliki beberapa hari ini untuk mengikuti seleksi beasiswa di sekolah Niall.

"Tentu saja! Bukan masuk gudang lagi." Niall mencubit kedua pipi Victoria gemas. "Padahal kau belajar cuma lihat-lihat buku saja, kok bisa sih?"

Victoria sontak memeluk Niall dengan sangat erat, seolah seluruh kebahagiannya karena Niall. "Aku tidak sabar masuk kelas."

Sejak saat itu, semua proses yang dibutuhkan Victoria untuk bertahan hidup satu-persatu mulai lengkap. Niall meminta bantuan orang tuanya untuk mengurus identitas baru Victoria. Sekarang Victoria tinggal di sebuah asrama panti asuhan yang tidak jauh dari rumah Niall. Orang tua Niall juga membelikan seluruh kebutuhan Victoria seperti beberapa pakaian dan alat tulis untuk bersekolah.

Pagi ini Niall menunggu di depan pintu gerbang asrama tempat Victoria tinggal. Ia berjanji untuk menjemput Victoria setiap pagi sekaligus mengantarnya pulang nanti. Kemudian seorang gadis dengan seragam barunya dan rambutnya yang terurai rapi menghampiri Niall dengan malu-malu.

"Jadi... apa saja yang dilakukan oleh murid sekolah?"

Sepanjang perjalanan menuju sekolah, Niall menjelaskan apa saja yang harus Victoria lakukan. Mereka berjalan berdampingan, sekarang Victoria dan dirinya terlihat sama seperti teman-teman lainnya.

Forget Me NotTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang