Tenderly Touched - Ch. 10

65K 4.6K 72
                                    

Hi loveliest,
Its almost 1 month since my last update on this story and i actually feel bad about it. >.<
Padahal niatnya ingin update lebih cepat tapi ada saja halangannya (salah satunya kecantol kdrama Descendants of the sun dan gak bisa berhenti nonton. Hayo, siapa yang nonton juga?)

So, bagi kalian yang tetap setia menunggu, terimakasih banyak, much appreciated for your patience. Jangan lupa vote sebelum membaca dan comment setelah kalian selesai. Hehe

Happy reading all!

***

"Alright, mom. See you soon." Ucap Cameron sebelum memutuskan sambungan.

Rhys dan Emma berjalan ke ruang tamu dengan jemari yang saling terpaut ketika Rhys mendengar perkataan Cameron. Rhys melepaskan Emma, membiarkan wanita itu menggendong Micaela dan berjalan ke dapur.

"Katakan bahwa Ma tidak sedang menuju ke sini." Rhys menyilangkan kedua tangannya menunggu respon Cameron.

Senyuman penuh arti yang di berikan oleh Cameron menjawab pertanyaannya. Rhys mengerang keras dan mengacak rambutnya. Great! Umpatnya dalam hati.

"Kenapa? Bukankah ini yang terbaik?" Cameron menggerakkan kedua alisnya. "Kau sudah jelas serius tentang Emma. Kurasa tidak masalah jika Ma bertemu dengan Emma."

"Tentu saja ini akan menjadi masalah. Aku sudah bisa mendengar lonceng pernikahan berbunyi saat ini!" Desis Rhys.

Cameron mengerutkan keningnya heran. "Kau tidak mau menikahinya?"

"Apa? Bukan!" Bantah Rhys cepat. "Tentu saja akan ada pernikahan. Hanya saja kau tahu sendiri seperti apa Ma. Ia terlalu..., bersemangat jika menyangkut percintaan kita semua dan aku rasa itu terlalu cepat bagi Emma. Aku membutuhkan waktu berminggu-minggu hingga berhasil membuatnya setuju untuk menjalani hubungan denganku. Apa kau pikir ia akan setuju untuk menikah denganku segera?"

"Mengapa tidak?"

Rhys menghela nafas panjang. "Entahlah. Emma bukan seperti kebanyakan wanita dan ia belum benar-benar mempercayaiku. Jalanku masih panjang untuk berhasil mendapatkan hatinya sepenuhnya."

Cameron tidak berkomentar. Ini merupakan pertama kalinya ia melihat Rhys serius dalam menjalin sebuah hubungan sehingga ia tidak tahu harus berkomentar apa. Ini bukan bidang yang dikuasainya. Yang Cameron tahu adalah bar dan wanita bayaran, bukan cinta dan lonceng pernikahan.

***

"Biar aku saja. Kau, duduklah." Ucap Rhys sambil mengumpulkan piring-piring kotor. Emma mengangguk dan membiarkan Rhys membersihkan sisa sarapan mereka sementara Cameron bersantai menikmati kopinya.

"Mommy," panggil Micaela. Emma, masih duduk di bangku kitchen isle, menoleh ke arah Micaela sambil bergumam kecil menanggapinya. "Aku bertemu dengan Daddy tadi."

Emma berubah kaku dan memandang Micaela dengan mata di besarkan. "A-apa?"

"Tadi, Daddy datang." Jawab Micaela bersemangat dan memberikan cengiran terbaiknya sambil meloncat kecil.

Rhys sudah memasukkan semua peralatan makan kotor ke dalam mesin pencuci piring otomatis dan berdiri di samping Emma, mendengarkan perkataan Micaela.

"Kau bertemu Daddy tadi?" Tanya Rhys lembut, tidak menyadari postur tubuh Emma yang kaku.

Micaela mengangguk dengan gerakkan yang dibesar-besarkan. "Tadi, di toko donat." Lalu tiba-tiba Micaela memberikan tatapan sedih. "Tapi, kurasa ia marah padaku sekarang."

Tenderly Touched [WBS #1 | SUDAH TERBIT]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang